Connect with us

Water Break

Memahami Kehadiran Patrich Wanggai di Latihan Persib

Avatar photo

Published

on

Patrick Wanggai di Persib Bandung

Patrick Wanggai di Persib Bandung

KETIKA bertemu dengan nama Patrich Wanggai, memori kita seolah diingatkan. Pikiran kita akan langsung terbesit bagaimana penyerang ini suatu saat pernah menjadi andalan Rahmad Darmawan di Timnas U-23 SEA Games 2011 yang diselenggarakan di Jakarta. Di sanalah, nama Patrich Wanggai mulai dikenal. Berada diantara nama-nama tenar seperti Andik Vermansyah, Titus Bonai, Ferdinand Alfred Sinaga, Ramdani Lestaluhu dan Yongki Aribowo, Patrich Seteve Wanggai dengan cepat muncul ke permukaan.

Nama terakhir yang disebutkan di atas, bahkan berhasil ia singkirkan dalam perebutan posisi sebagai ujung tombak utama dalam turnamen tersebut. Kemudian, saat klub-klub besar menginginkannya, dia memilih bertahan dengan Persidafon Dafonsoro, yang sudah dibawanya hingga ke pentas sepakbola tertinggi sepakbola tanah air di musim 2011/2012.

Wanggai termasuk ke dalam penyerang tengah jempolan saat itu. Dia menemukan musim terbaiknya di Dafonsoro saat musim pertamanya ia bermain di kasta tertinggi liga Indonesia 2011/2012, dengan langsung tancap gas dan mencetak 14 gol. Di musim selanjutnya, Wanggai kemudian melanjutkan mimpi semua pesepakbola Papua dengan bergabung dengan Persipura Jayapura di tahun 2013. Bersama tim Mutiara Hitam, ia mencetak 12 gol. Selain bermain di Indonesia, Wanggai sempat mencoba peruntungan di negeri jiran. Di kompetisi Super League Malaysia, Patrich Wanggai membela tim asal Trengganu , T Team. Di tim ini, secara kebetulan, Patrich Wanggai pernah mencetak gol tunggal yang membawa kemenangan timnya atas Johor Darul Ta’zim, tim yang kelak dilatih oleh pelatih Persib saat ini, Mario Gomez.

Setelah membela SFC di musim 2014, Wanggai mencoba peruntungan untuk bermain di luar Indonesia. Timor Timur menjadi tujuan selanjutnya, sebelum pemain kelahiran Nabire ini kembali di pertengahan musim 2016 menuju Madura United. Ada catatan di setengah musim Indonesian Soccer Championship (ISC) 2016 yang tak bisa dikesampingkan bersama Madura United. Di musim itu, Wanggai mencatat 10 gol. Gol-gol, dari penyerang yang identik dengan nomor punggung 27 itu adalah jawaban, saat Pablo Aracil–top scorer Madura saat itu–mandul. Barangkali, pengalaman-pengalaman ini menjadi acuan yang bisa membuatnya patut diberi kesempatan untuk berlatih di Persib Bandung.

Kelebihan Wanggai terletak di kemampuan menempatkan diri dalam posisi yang tepat, tanpa harus banyak berlari. Selain itu, dia dikenal mempunyai akurasi penyelesaian akhir kaki kiri yang nyaris sempurna. Yang menjadi pertanyaan kita adalah, apakah saat kedatangannya ke Persib sekarang, Wanggai masih dianggap sebagai pemain jempolan?

Musim lalu, Wanggai memiliki rekor bermain di 15 pertandingan bersama Borneo FC. Hanya satu gol ia lesakkan saat berkostum tim asal Samarinda itu, dan secara kebetulan, satu gol yang ia cetak adalah ketika menghadapi Persib Bandung di Stadion Mulawarman di kota Bontang. Di Borneo FC, Wanggai pun lebih banyak dimainkan di posisi sayap dibandingkan sebagai penyerang tengah. Hal ini dikarenakan salah satunya ada nama Lerby Eliandry di sana, penyerang yang bisa dibilang sebagai penyerang tengah lokal nomor satu saat ini.

Kedatangan Wanggai bisa jadi diakibatkan terbatasnya stok penyerang tengah lokal di Indonesia. Diakui atau tidak, stok penyerang murni bernomor 9 lokal berkualitas di Indonesia memang mulai langka. Salah satu alasan klise-nya adalah karena matoritas klub di Indonesia lebih senang memasang penyerang dari mancanegara dibanding dari Indonesia. Sebagai contoh, Sriwijaya FC pun kembali mendatangkan Herman Dzumafo yang telah dinaturalisasi dan berusia udzur untuk menjadi penyerang tim asal kota Palembang tersebut. Mari kita sebut satu per satu siapa saja penyerang lokal murni yang berkualitas saat ini, yang masih aktif bermain selain Wanggai. Mulai dari Lerby Eliandry (Borneo FC), Ilija Spasojevic (Bali United), Bambang Pamungkas (Persija), Herman Dzumafo (Sriwijaya FC), Cristian Gonzalez (Arema FC), Febri Hamzah (Borneo FC), Serginho van Dijk (Persib), dan terakhir, Boaz Solossa (Persipura) dan Samsul Arif (Barito Putera) yang bisa berposisi sebagai second striker dan sebagai winger.

Dari beberapa penyerang yang disebutkan tadi, hanya Wanggai yang paling mungkin untuk dicoba Persib saat ini. Selain telah jadi ikon klub masing-masing, mereka juga sudah dikontrak klub lain. Wanggai, dengan skill dan pengalamannya, bisa menjadi alternatif untuk opsi dalam skema sang pelatih Argentina yang sering memakai formasi andalan dengan 2 penyerang di depan. Sebagai pelatih, Gomez tinggal memilih apakah ia akan memakai duet penyerang berkarakter target man–mengingat ia masih berpeluang mendatangkan pemain asing dan mempertahankan SVD–atau opsi satu penyerang berkarakter target man dan satu penyerang yang sering turun mencari bola. Satu lagi, Wanggai adalah pemain yang bisa bermain di beberapa posisi. Di balik kepiawaiannya berposisi sebagai lone striker, Wanggai mampu bermain menyisir menjadi sayap dan penyerang lubang. Mungkin inilah alasan logis yang tersisa jika pada akhirnya pemain 29 tahun itu masuk radar buruan transfer Persib di bawah arahan pelatih Mario Gomez.

Tinggal beberapa purnama lagi kita akan berpijak di musim 2018 yang baru. Waktu yang ada tentu harus dimanfaatkan oleh Persib dibawah suhan coach-nya yang baru supaya bisa bersaing dan tidak menjadi pesakitan seperti musim 2017 lalu. Tinggal, bagaimana coach yang baru bisa membentuk tim ini lebih solid supaya bisa bersaing. Selamat berpikir dan membuat keputusan, Coach Mario Gomes 🙂

Ditulis oleh Yaser Adil, Jurnalis Simamaung, berakun Twitter @yasseradil dan Instagram @yasser_adil

Jurnalist, Photographer Simamaung.

Advertisement
8 Comments

8 Comments

  1. Vicunk

    19/12/2017 at 15:23

    Yang lebih tau kebutuhan Tim adalah Pelatih kita hanya bisa mendukung aja semoga Persib lebih baik ke depanya sebagai bobotoh sejati jgn baperan kita suport dan dukung yg terbaik buat Persib.

  2. Radit Kalijati

    19/12/2017 at 20:45

    Persib butuh pemain badboy supaya nyali lawan juga ciut. Seperti waktu 2014 ada sinaga. Jadi wanggai bisa sbg alternatif.

    • obin

      20/12/2017 at 05:14

      satuju kang

  3. sule

    20/12/2017 at 10:12

    naon sih petrick wanggai make dibawa ka persib?? pemaen ges kolot,jeng nage teu leuwih hade ti maitimo, perdinand sinaga, ataupun matsunaga… management tolong dikaji ulang euyy,,,
    permainan petrick di 2017 menurut urang teu memuaskan.

  4. Asep

    20/12/2017 at 21:21

    Pokok na mah urang dukung weh lah…da urang mah ngan bisa komentar…ngadukung jeung ngadoakeun mudah mudahan maksimal…maen bola mah da team work…teu bisa ngagolkeun atuh mere mere assist…pokok na kudu daek cape maen bola mah…nyerang babarengan…bertahan nya babarengan…lain kitu lur…deur ah pangeran biru-ku…geura ngagaur maung bandung-ku…

  5. herman

    22/12/2017 at 10:27

    Test

  6. herman

    22/12/2017 at 10:28

    Kenapa osvaldo haay ,ruben sanadi ga dikotrak persib?

  7. Cuhi

    26/12/2017 at 11:30

    Min, ini backsoundnya judulnya apa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Persib

Fitrul Dwi Rustapa, Mempertahankan Tradisi Sepakbola Garut Selatan

Published

on

“Saya mendengar mitos, siapapun yang belatih di situ (Lapangan Ibrahim Ajie, Cikajang) akan menjadi pemain liga atau nasional. Sebetulnya, di manapun, di lapangan manapun, tetep harus ada misi dan karakter dan keinginan jadi pemain. Tidak semua pemain Cikajang bisa jadi pemain, mungkin karena misi dan karakternya, tidak kesampaian” – Adeng Hudaya kepada Simamaung.

Baca juga: Adeng Hudaya, Kapten Juara dari Cikajang

Persib Bandung merekrut penjaga gawang baru untuk menghadapi liga musim 2022. Penjaga gawang yang diumumkan, Senin (18/04) tersebut adalah Fitrul Dwi Rustapa. Mantan penjaga gawang Persipura ini diumumkan sehari setelah Persib mengumumkan pelepasan penjaga gawang senior, Deden Natshir.

Fitrul merupakan penjaga gawang asal Bungbulang, Kabupaten Garut. Bungbulang merupakan salah satu kecamatan di bagian selatan kabupaten yang dahulu terkenal dengan julukan Swiss van Java. Seperti biasa, para pemain Garut Selatan tidak lepas dari keberadaan lapangan yang diyakini mempunyai tuah di sana, Lapangan Ibrahim Ajie.

Seperti yang dikatakan Adeng Hudaya, ada semacam mitos bahwa para pemain yang pernah bermain di Ibrahim Ajie akan menjadi pemain Persib Bandung atau pemain nasional. Di Cikajang ini, lahir beberapa pemain Persib yang membela tim nasional Indonesia sekaligus membawa Persib juara di kompetisi nasional. Di antara pemain yang lahir dari budaya sepakbola di Cikajang adalah Adeng Hudaya.

Keberhasilan Adeng Hudaya dan rekan-rekannya menembus kancah pesepakbolaan nasional tersebut menguatkan mitos yang beredar di Bobotoh, kalau Cikajang merupakan penghasil pesepakbola andal. Lebih dari itu, pemain Cikajang selalu membawa tuah untuk bisa membawa Persib juara.

Mitos ini dipatahkan oleh Adeng Hudaya sendiri. Kapten Persib Bandung yang mengembalikan tropi Perserikatan ke tanah Pasundan di tahun 1986 ini seolah melakukan desakralisasi terhadap kesucian sepakbola Cikajang. Adeng menolak, kalau Cikajang mempunyai mitos yang diyakini bisa menjadikan seorang pemain yang pernah bermain di sana menjadi besar. Adeng mengatakan, bahwa misi dan karakter pemainlah yang berperan dalam menentukan perjalanan karir mereka. Apakah mereka mempunyai karakter dan semangat untuk maju dan mempunyai mental menjadi seorang juara atau tidak, terlepas dari mana pemain itu berasal.

Baca juga: Kultur Sepakbola Ala Cikajang

Misi dan karakter inilah yang membedakan Fitrul Dwi Rustapa dengan pemain lainnya. Menurut mantan pelatih Persigar Garut, Oded Sutarna, Fitrul merupakan sosok penjaga gawang yang selain berbakat, juga mempunyai keinginan untuk maju.

“Ada beberapa pemain Garut yang layak main di Liga Satu, tapi sudah rezekinya buat Fitrul bisa bermain di sana. Fitrul merupakan pemain yang rajin, disiplin, dan berbakat,” ujar Oded Sutarna setelah dihubungi oleh Simamaung.com.

Penjaga gawang kelahiran tahun 1995 ini sebenarnya sangat jarang menjadi perbincangan Bobotoh. Sebagai pemain asal Sunda, jalan yang dilalui Fitrul memang cukup berliku. Sebelum hijrah ke luar Pasundan, Fitrul meniti karir di daerah kelahirannya, Garut. Fitrul menempa kemampuannya sebagai penjaga gawang, saat berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Family di Lapangan Ibrahim Ajie, Cikajang.

“Kalau berlatih ke Cikajang, Fitrul biasanya naik motor dari Bungbulang, atau diantar oleh orang tuanya,” tutur pria yang di tahun 2022 ini menangani Roksi FC, tim Liga 3 Jabar ini.

Perjalanan Fitrul pun cukup panjang untuk menjadi kiper di klub kebanggaan Jawa Barat. Fitrul pernah berlaga membela Bungbulang di partai final Porkab Garut tahun 2012 melawan Persijang Cikajang. Fitrul juga pernah meloloskan Garut ke Porprov Bekasi dan menjadi penjaga gawang Persigar Garut. Dari Garut, tekad Fitrul untuk menjadi penjaga gawang papan atas Indonesia tersalurkan di tim junior, Persegres U21[1]. Di musim 2017, barulah Fitrul mulai menapakkan karirnya di kompetisi sepakbola tertinggi Indonesia setelah direkrut tim Persegres Gresik United (PGU) senior.

Sebagai penjaga gawang, karir di PGU saat itu mungkin merupakan satu pilihan karir paling buruk. Dalam satu musim, PGU kemasukan 104 gol dari lawan-lawannya. Salah satu penampilan PGU terburuk adalah ketika mereka dikalahkan Sriwijaya FC dengan skor 2-10. Dalam pertandingan tersebut, Fitrul masuk di awal babak kedua ketika papan skor sudah menunjukkan angka 1-6.

Buruknya penampilan PGU di liga tidak membuat Fitrul patah arang, pun tidak membuat tim liga lainnya berpaling untuk mendapatkan pemain yang dirasa mempunyai potensi itu. Terlebih, catatan football-tribe.com menyatakan bahwa Fitrul menjadi salah satu penjaga gawang dengan penyelamatan terbanyak di liga[2].

Di musim selanjutnya, karir Fitrul diselamatkan oleh tim besar Indonesia asal Papua, Persipura Jayapura. Terus menjadi penghangat bangku cadangan tidak membuat semangat Fitrul untuk surut. Musim 2021/22, kesempatan yang ditunggu akhirnya datang.

Di musim 2021/22, Fitrul membela Persipura sebanyak 26 pertandingan. Kembali, nasib berkata lain. Tim yang dibela Fitrul akhirnya harus kandas dan terdegradasi. Satu hal yang membuat Fitrul tetap dilirik adalah banyaknya penyelamatan yang dilakukan oleh penjaga gawang bernomor punggung 1 ini. Menurut catatan Lapangbola.com, Fitrul masuk dalam 10 besar penjaga gawang dengan penyelamatan terbanyak di Liga Satu 2021/22[3].

Penampilan apik ini membuat pelatih kiper Persib, Passos memberi rekomendasi kepada timnya untuk merekrut penjaga gawang asal Garsela ini. Keberhasilan Fitrul menembus skuat Persib, mensahihkan pendapat sang Legenda Adeng Hudaya, bahwa misi dan karakterlah yang akan menentukan nasib pemain sepakbola.

“Tidak semua pemain Cikajang bisa jadi pemain, mungkin karena misi dan karekternya, tidak kesampaian” ujar legenda Persib Bandung, Adeng Hudaya.

Misi dan karakter yang kuat itulah yang telah membawa Fitrul menjadi penjaga gawang level atas dengan penampilan yang terbilang stabil. Mudah-mudahan, Fitrul Dwi Rustapa, penjaga gawang dari Bungbulang ini bisa terus berkibar, dan membawa prestasi tertinggi buat Persib Bandung.

[1] Sinar Kiper Muda di Balik Prestasi Kelam Persegres, https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20171113200125-142-255404/sinar-kiper-muda-di-balik-prestasi-kelam-persegres

[2] Persipura Jayapura Rekrut Kiper Potensial dari Garut, Fitrul Dwi Rustapa, https://football-tribe.com/indonesia/2018/02/22/persipura-rekrut-fitrul-dwi-rustapa/

[3] Top Save, Liga Satu Indonesia 2021, https://live.lapangbola.com/tournaments/stats_save/145

Ditulis oleh Hevi Fauzan, Bobotoh, Manajer Konten di Simamaung.com. Berakun Twitter dan Instagram di @Pahepipa

Lanjut Membaca

Breaking News

Makna Pesan di Balik Lagu Kuburan ‘We Will Stand Behind You’

Avatar photo

Published

on

Kuburan Band, Bandung, 2021

“Kau takkan kalah pantang menyerah,
Bobotoh mendukungmu
Kau takkan kalah pantang menyerah,
we are stay behind you,”
Persib We’ll Stay Behind You – Kuburan

Grup band asal Bandung ini telah satu dekade lebih berdiri, meramaikan belantika musik Indonesia. Hits berjudul ‘Lupa-Lupa Ingat’ berhasil menembus jajaran top tangga lagu tanah air. Eh sebentar, sebelum lagu itu, band yang digawangi Resa, Raka, Aum, Denny, Udhe, dan Surya, rupanya pernah membuat karya khusus yang mereka tujukan guna mendukung Persib, klub kebanggaan yang diagungkan di kota kreatif Bandung. Lagu tersebut berjudul We Will Stay Behind You.

Lagu itu diciptakan tidak lepas dari latar belakang personilnya yang berasal dari Bandung sebagai penyuka Persib. Terutama Denny Kuburan sang bassist, sebagai Bobotoh sering menonton pertandingan ke stadion sejak ia di bangku SMA.

Bandung yang disebut memiliki kata sifat kreatif sebagai barometer musik Indonesia, memunculkan pemikiran-pemikiran yang kerap menyalurkan atau menumpahkan inspirasi kepada lirik dan lagu. Kuburan lewat Denny menumpahkan apa yang ada dalam pikirannya saat itu sebagai pendukung Persib yang selalu berada di belakang perjuangan Maung Bandung.

“Bandung itu sangat kaya dengan musisi, Kuburan saat itu kepikirannya gini, ada enggak ya lagu yang bikin kita bisa nyanyi di stadion bareng. Pemikiran sederhananya gitu, bikin lagu yang menggemanya bisa di stadion. Akhirnya saya ah mau coba-coba bikin deh awalnya itu reff-nya dulu ‘Persib Maung Bandung’ itu awalnya yang saya ciptakan, baru aja verse-nya, lalu dimasukin melody dari teman-teman, dimasukin segala macam,” cerita Denny kepada SIMAMAUNG.

Pada 2007 karya We Will Stand Behind You rilis dalam mini album berjudul ‘Triangle’ bersamaan lagu ‘Gemes’, dan ‘Monkey Love’ featuring Arina Mocca. Lagu tentang Persib itu lantas hanya populer dari telinga ke telinga, sampai hal yang tak terkira datang dua tahun selanjutnya.

Band bergenre metal hidrolik dengan musik bertema jenaka dan kocak itu go nasional dengan tembang ‘Lupa-Lupa Ingat’ tahun 2009. Kuburan pernah diundang Ketua Viking Heru Joko tampil di luar stadion Si Jalak Harupat (untuk bermain musik di bus Fanshop) saat matchday, namun gagal tampil karena dianggap tak berizin oleh kepoilisian.

Kegagalannya tampil itu buat Kuburan hanya bisa menonton pertandingan Persib saja dengan riasan make-up menyeramkan khas di wajah mereka, masuk stadion jadi pusat perhatian. Panpel berulang kali memutarkan lagu milik mereka ‘We Will Stand Behind You’, tak dikira rupanya Bobotoh se-stadion sudah lantang menyanyikan. Atmosfer tersebut menghadirkan haru, rupanya lagu yang mereka ciptakan dua tahun sebelumnya kini populer di tengah-tengah Bobotoh.

“Pertama kali dinyanyikan di stadion justru setelah kita go nasional ngeluarin lupa-lupa ingat, kan itu (lagu Persib) dirilis 2007 tuh, kita (personil) masuk stadion bareng 2009 ternyata sudah pada hapal lagunya dinyanyiin. Jadi selama 2007 sampai 2009 sudah pada hapal lagu itu. Di situ saya pribadi ngeluarin air mata oh gini ternyata rasanya dinyanyiin satu stadion,” kesan Denny.

Denny Kuburan, Bandung, 2021

Dinyanyikannya lagu tersebut satu stadion sebenarnya sesuai makna yang ingin Kuburan band sampaikan untuk Persib. Dinyanyikannya dengan lantang dan seruan sebagai pesan bahwa Persib tidak akan pernah sendirian. Akan selalu ada ribuan orang mendukung di belakang tim, agar tak usah takut, tak usah ragu mengalahkan lawan-lawannya.

“Lagu ini sebenarnya kita menempatkan diri sebagai Bobotoh, aing pendukung Persib. Posisinya saya Bobotoh, we will stand behind you yang akan selalu berada di belakang kamu. Sok weh berjuang, kamu berjuang saja, anda berjuang saja, saya ada di belakang, kami akan selalu berdiri di belakang kamu,” begitu pesannya.

“Posisinya saya Bobotoh yang ada di stadion, kalau dinyanyikan di stadion seperti itu ‘terus kau bertarung we are stay behind you’ jadi memang kita yang support Persib di belakang,” jelas Denny.

Bait, lirik, lagunya pun menggema 7 November 2014 di seisi stadion Jakabaring Palembang. Ya, di final Indonesia Super League (ISL) Persib vs Persipura. Para Bobotoh yang hadir dengan penuh semangat dan lantang memberikan suntikan semangat untuk pemain salah satunya dengan menyanyikan lagu ini. Konon lagu We Will Stand Behind You selalu diputar di ruang ganti menjelang Persib 2014 masuk lapangan.

Kuburan punya mimpi, andai judul lagu itu bisa terpampang di pintu stadion tempat Persib masuk. Menjadi identitas khas sekaligus pengingat pemain-pemain Persib bahwa akan selalu ada Bobotoh di belakang yang mendukung perjuangan mereka.

Kuburan Band, Bandung, 2021

“Terus kenapa judulnya we will stand behind you, dulu mah mimpinya pengen kaya Liverpool dengan ‘You’ll Never Walk Alone’, kita punya nih ‘We Will Stay Behind You’. Kalau YNWA beberapa klub bola menyanyikan lagu itu, lagunya ada diganti liriknya, dinyanyikan banyak klub bola sama nadanya. Kalau saya mah bikin nada sendiri khusus buat Persib,” ujar Denny.

“Setelah satu stadion dinyanyiin pengennya dibikin tuh di pintu stadion, ke aya tulisan eta urang ajukeun weh (nanti ada tulisan itu kita mengajukan saja). Jadi pas Persib masuk stadion di pintu ada tulisan itu, pemain Persib melewati itu filosofinya begitu,” paparnya.

Denny mewakili Kuburan berharap akan ada lagu-lagu tentang Persib ke depannya yang lebih bagus dan bisa dikenang. Sampai 2021 ini juga sudah banyak lagu yang mengangkat tentang Persib. Unsur yang menurutnya harus dikedepankan adalah membawa semangat kepada pemain Persib dan bisa dengan lantang diserukan Bobotoh sebagai pemain ke-12 memberikan energi tambahan.

“Tapi intinya si lagu itu harus bisa membawa semangat ke Persibnya, lalu tetap menjadikan Bandung sebagai barometer kreativitas,” harapnya.

Ditulis oleh Adil Nursalam, jurnalis Simamaung, berakun Twitter @yasseradil dan Instagram @yasser_adil.

Lanjut Membaca

Breaking News

Perjuangan di Balik Bayang-Bayang Striker Asing

Published

on

Airlangga, Bandung, 2021

Total enam tahun dihabiskan Airlangga Sutjipto untuk membela Persib dalam karir sepakbolanya. Selama itu pula dia selalu menjadi opsi alternatif dari pelatih jika pemain depan utama tidak bisa tampil atau butuh tambahan daya gedor. Peran sebagai pengganti pun dijalani dengan sungguh-sungguh tanpa merasa berkecil hati.

Hilir mudik pemain asing di skuat Maung Bandung terjadi setiap tahun tahunnya, perombakan komposisi seakan menjadi hal wajib ketika bursa transfer dibuka. Pun demikian dengan legiun asing berposisi penyerang, nyaris selalu ada nama baru pada setiap transfer window. Namun dalam sunyi, Airlangga tetap setia meski hanya menjadi back up.

Petualangannya bersama Persib dimulai pada Liga Super Indonesia 2008. Sebelumnya dia merintis karir sepakbola dengan berlatih di SSB Asiop Jakarta dari usia 10 hingga 18 tahun. Lalu mengikuti liga remaja di Trisakti dan sempat tergabung di Pra PON DKI. Airlangga lalu mendapat panggilan membela tim nasional U-20 hingga akhirnya mengawali karir profesional ketika membela Deltras Sidoarjo di musim 2004/2005.

Pria yang akrab disapa Ronggo itu pun bercerita bagaimana dia bisa mendarat di Bandung bersama gerbong bawaan Jaya Hartono pada musim 2008. Saat itu Jaya Hartono yang merupakan mantan pelatih Deltras direkrut Persib dan membawa anak-anak asuhnya seperti Waluyo, Hariono, Hilton Moreira dan Airlangga. Ternyata selain peran pelatih, ada juga peran dua sahabatnya, Atep dan Eka Ramdani yang membujuknya gabung Persib.

“Sebenarnya sebelum saya bergabung dan disuruh om Jaya Hartono, saya memang sudah saya Eka dan Atep bareng di timnas SEA Games. Di Thailand itu kita bicara-bicara, di Argentina juga waktu TC bercanda bilang ingin main bareng bertiga kalau sudah beres timnas. Kemudian setelah timnas Eka waktu itu bilang ‘gimana kalau main di Persib Bandung aja’ dan Atep juga bilang ‘gimana kalau di Persija’. Akhirnya kita sering main ke Bandung dan Eka nawarin ke Persib saja bisa deket bareng-bareng,” ujar Ronggo bercerita kepada Simamaung.

“Nah tiba-tiba saya dapat kabar Jaya Hartono pegang Persib juga terus nawarin juga, jadi pas lah momennya, yang saya banggakan dan impikan dari kecil untuk masuk Persib akhirnya menjadi kenyataan hasil kerja keras saya dari SSB itu proses yang panjang dan akhirnya cita-cita membela Persib tercapai,” lanjut dia.

Ronggo datang dengan status striker muda potensial milik Indonesia, karena dia merupakan juru gedor utama tim nasional U-23 saat itu. Hanya saja ketika dia tiba, Persib juga mendatangkan para pemain depan lain dengan status pemain asing. Hilton Moreira, Rafael Alves Bastos dan Fabio Lopez Alcantara direkrut, plus di dalam tim sudah ada bomber lokal kualitas jempolan, Zaenal Arif. Bahkan di putaran kedua, Fabio Lopez diganti oleh mesin gol terbaik di Liga Indonesia, Cristian Gonzales.

Lima pemain memperebutkan dua kuota penyerang di susunan starting line up. Tentu menjadi pekerjaan sulit bagi Ronggo untuk mendapat kesempatan bermain dari menit pertama. Apalagi dirinya sadar bahwa pelatih tentu akan lebih memercayakan slot pemain inti kepada pemain asing. Tapi bukan berarti situasi itu membuatnya patah arang, malah memacunya berlatih lebih giat.

Airlangga merayakan gol ke gawang Arema, Bandung, 2018

“Ya itulah, karena saya suka tantangan. Kita tahu Persib atau tim lain rata-rata mengutamakan striker asing, jadi bagi saya sendiri striker lokal tidak pernah merasa minder atau putus asa atau patah semangat. Saya berusaha setiap latihan untuk selalu bekerja keras, semangat terus untuk membuktikan dan ketika dikasih kesempatan akan membuktikan layak bermain,” jelasnya.

Akhirnya pemain yang mengenakan kostum bernomor punggung 9 tersebut menemukan peran yang paling cocok baginya. Menjadi supersub dan menawarkan solusi memecah kebuntuan ketika masuk dari bangku cadangan. Sejak musim 2008 hingga 2013, penampilannya tidak pernah mengecewakan saat masuk menggantikan pemain starter.

Menurutnya mentalitas pantang menyerah yang diusungnya untuk memaksimalkan waktu hingga wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai. “Iya karena saya dulu meski pemain pengganti tidak pernah berkecil hati, tidak pernah putus asa karena saya tahu di Persib ini bagus semua. Nah saya memanfaatkan momen itu, saya selalu siap kapanpun pelatih memberikan kesempatan, saya selalu berusaha menunjukkan,” jelasnya.

Total 21 gol dihasilkannya di liga resmi bersama Persib dan banyak gol yang lahir ketika bermain sebagai pemain pengganti. Dia menyebut kunci dari keberhasilan mengemban tugas itu adalah tetap disiplin berlatih dan sabar menanti momentum. Ketika kesempatan datang, Ronggo selalu coba memberikan kemampuan terbaik untuk membantu tim meraih hasil terbaik.

“Saya latihan terus walaupun ga main saya tetap termotivasi, menunggu momen dan suatu saat akan menunjukkan ketika pelatih memberi kesempatan, saya berikan yang terbaik. Alhamdulillah mungkin ketika buntu, saya diberi kesempatan dan saya bisa menjawab dengan permainan terbaik. Bisa mencetak gol atau memberi kemenangan untuk Persib. Itu lah, saya tidak pernah putus asa dan patah semangat,” jelasnya.

Kehadiran striker lokal memang kini pada umumnya lebih menjadi pelapis pemain depan utama yang merupakan pemain asing. Ronggo menyadari bahwa keberadaan bomber impor jadi salah satu daya tarik kompetisi menjadi lebih semarak. Namun menurutnya perlu ada regulasi juga mengenai pemain asing seperti pengurangan jumlah agar kans pemain lokal bermain lebih terbuka.

“Kalau menurut saya pribadi iya, selain memang pemain asing sebagai daya tarik liga atau biar membuat semarak tapi menurut saya kalau saya rasa jangan terlalu banyak lah. Karena kita di Indonesia ini banyak pemain lokal yang luar biasa, talentanya saya rasa bagus-bagus tapi kenapa sekarang striker lokal tidak kelihatan karena setiap tim mengutamakan striker asing,” tuturnya.

“Saya rasa mudah-mudahan ke depan ada regulasi asing tidak terlalu banyak dan bisa banyak menelurkan striker lokal dengan memberi menit bermain lebih banyak. Karena saya lihat juga dampaknya ke timnas, di timnas juga sangat bingung untuk regenerasi striker lokal yang bagus,” imbuhnya.

Airlangga, Bandung, 2011

Karir pria berusia 35 tahun itu bersama Persib terjalin pada musim 2008 hingga 2013 dan sempat kembali pada musim 2018. Selama membela Maung Bandung, Ronggo merasa musim terbaiknya hadir pada Liga Indonesia 2010/2011. Karena dia bisa bangkit di putaran kedua setelah pada paruh pertama tidak pernah diturunkan oleh pelatih Jovo Cuckovic.

Pergantian tampuk kepelatihan ke tangan Daniel Roekito memberi angin segar baginya dan selama putaran kedua dia bisa tampil produktif. “Saat itu saya rasa musim 2010/2011 kalau ga salah. Saya putaran pertama itu engga dapat kesempatan main waktu pelatihnya Jovo. Putaran kedua diganti Daniel Roekito dikasih kesempatan bermain dan mencetak tujuh gol dalam setengah musim,” tutup dia.

Ditulis oleh Mohamad Syaban Rinaldi, jurnalis Simamaung, berakun Twitter @Ankisyaban dan Instagram @anki_syaban.

Lanjut Membaca

Trending