Connect with us

Arena Bobotoh

Memahami Gedebage, Memahami Bandung

Published

on

foto-persib-bandung-vs-malaysia-selection-gbla-2014-SIM_9105Kabar baiknya, Walikota Bandung Ridwan Kamil telah membeberkan konsep “Bandung Teknopolis” yang akan dibangun di daerah Gedebage. Kota berkonsep teknologi semacam Silicon Valley-nya Indonesia itu rencananya akan dibangun dengan dilengkapi dua buah danau buatan. Kota terpadu tersebut akan dengan mudah diakses melalui jalan tol Padaleunyi dan kereta super cepat Jakarta Bandung yang berstasiun akhir di Gedebage. Dan Stadion Gelora Bandung lautan Api (GBLA) akan menjadi bagian dari kota tersebut. (Baca: Ridwan Kamil Janji Segera Sosialisasikan Bandung Teknopolis kepada Warga).

Kabar buruknya, stadion yang sedang berbenah menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 itu mengalami gangguan karena telah terjadi penurunan tanah di bawahnya. Dengan cepat, penurunan tanah ini akan segera dipelajari oleh tim dari Pemkot Bandung. (Baca: Pemkot Bandung Bentuk Tim untuk Meneliti Penurunan Stadion GBLA).

Dan juga, peristiwa ini berbarengan dengan adanya indikasi korupsi di GBLA yang muncul akhir-akhir ini. Namun, penulis tidak akan membahas masalah tersebut di tulisan ini.

Yang menjadi perhatian penulis adalah mengapa terjadi penurunan tanah di daerah Gedebage?  Di sini, Penulis akan mengkaji peristiwa penurunan tanah GBLA dari perspektif sejarah Bandung sebagai refleksi bagi masa depan kota Bandung.

Gedebage menurut Nina Lubis terdiri dari dua kata, Gede dan Bage. Profesor sejarah asal Universitas Padjadjaran itu menerangkan kalau gede berarti besar, dan bage berarti bahagia (Baca: Tim Kajian Stadion Hanya Rekomendasikan Dua Nama). Jadi Gedebage bisa diartikan kebahagiaan yang besar.

Gedebage dan sekitarnya, di masa lalu adalah daerah yang merupakan rawa-rawa sisa peninggalan danau purba yang terbentuk di jaman Plestosen akhir. Di kedalaman danau sampai 52 meter, daerah Gedebage merupakan daerah terdalam dari danau tersebut (Bachtiar, 2004: 133).  Surutnya danau Bandung Purba, menyisakan banyak danau-danau kecil dan rawa-rawa payau di daerah Bandung. Itulah mengapa di Bandung banyak daerah yang mengandung nama ci (cai), ranca, ujung, bojong, dll, yang menunjukkan pernah ada genangan air di daerah tersebut.

Rawa Geger Hanjuang Gedebage Bandung

Di buku Kuncen Bandung Haryoto Kunto, terdapat peta Bandung tempo dulu dari F De Haan. Di sana, daerah Gedebage menjadi bagian dari rawa bernama Muras Geger Hanjuang. Muras ini membentang dari jalan raya pos di utara, sampai Citarum di selatan (Kunto, 1984: 152). Tim dari Asian Disaster Reduction Center (ADRC) mencatat, Geger Hanjuang merupakan salah satu rawa besar di kota Bandung. Rawa lain adalah Ciloeun, Ranca Gede, dan rawa dekat Ciendog Rancaekek. ADRC juga menyebutkan, ada 15 sungai yang bermuara di Geger Hanjuang. Penduduk Bandung saat itu bermukim di pinggir-pinggir rawa, seperti Ujung Berung (Tim ADRC, 2001, Bab II).

Rawa-rawa ini bisa jadi membelokkan rencana Daendels akan jalan raya pos yang melewati kota Bandung di tahun 1810. Penulis mengambil hipotesis, jika keberadaan rawa itu membuat Daendels mengambil keputusan untuk membelokkan jalan raya pos menuju arah timur laut di Simpang Lima. Jalan raya ini akhirnya menyusuri jalan kecil menuju Cicaheum, Ujung Berung, daripada lurus untuk memperpendek jarak menuju Gatot Subroto sekarang, menuju Cibiru.

Seandainya Daendels mengambil jalur lurus, bisa jadi pula Ujung Berung akan berpindah mendekati jalan Raya Pos, seperti berpindahnya Dayeuhkolot ke Bandung sekarang, atau Andawadak ke Tanjung Sari. Mungkin saja, kasus malaria di kota lama Batavia membuat Daendels menghindari rawa yang juga mempunyai persoalan yang sama dengan persoalan di ibu kota Hindia Belanda saat itu, sehingga Jalan Raya Pos dibuat melingkar ke utara.

Menurut Kang Anto Sumiarto Widjaya, seorang peneliti sejarah Ujung Berung. Rawa-rawa Geger Hanjuang kemudian mulai dikeringkan oleh penduduk. Orang pernama yang berusaha mengeringkan rawa tersebut adalah pendatang asal Indramayu bernama Kanten. Rawa pun beralih fungsi menjadi sawah yang membentang sampai Cicalengka.

Pada tahun 1884, jalur kereta api Cianjur Cicalengka berhasil dibangun di atas bekas rawa-rawa tersebut. Karena penulis belum menemukan kronologis mengeringnya rawa tersebut, penulis belum mengetahui apakah jalan kereta api dibangun sebelum Kanten dan penduduk lainnya mengeringkan rawa atau sesudahnya. Yang jelas, di sekitar akhir abad 19, berakhirlah kisah Muras Geger Hanjuang yang menutupi sebagian lahan Bandung saat itu. Hal yang juga didorong kebijakan Bupati RA Wiranatakusumah IV untuk menaikkan hasil pertanian rakyat lewat pembukaan pesawahan di sekitar tahun 1864 (Hardjasaputra, 2002: 160).

Karena merupakan bekas rawa dan menjadi titik terendah danau Bandung, sifat tanah di daerah Gedebage ini terbilang unik karena sangat labil. Pemkot Bandung pernah merilis pernyataan bahwa tanah endapan yang lunak itu mencapai kedalaman 30 meter (Baca: Evaluasi Kinerja Pembangunan Stadion Utama Sepakbola (SUS) Gedebage). Direktur Utama Penta Rekayasa Architecture, Forest Jieprang mengatakan kondisi tanah di Gedebage itu termasuk very soft silty clay atau tanah yang kekerasannya hampir menyerupai bubur (Baca: SUS Gedebage Dipastikan Tidak Akan Selesai Akhir Tahun Ini).

Kondisi alam di Gedebage ini memang menarik sekaligus memberi tantangan kepada manusia yang diberi akal untuk terus berinovasi mengatasinya. Mengutip teori Arnold Toynbee, alam sebagai tempat tinggal manusia tidak akan selamanya memenuhi kebutuhan manusia. Alam, menurut filosof sejarah asal Jerman itu, akan selalu memberikan tantangan, dan sebaliknya, manusia harus bisa menjawabnya. Jika manusia bisa menaklukkan tantangan alam ini, maka kehidupan mereka akan lebih baik karena dapat lebih leluasa untuk berpikir , proses yang melahirkan banyak kebudayaan dan peradaban (Toynbee, 2006: 96).

Jawaban manusia atas tantangan alam dapat kita lihat pada proses pembentukan dan perjalanan peradaban Mesir kuno. Dalam proses menuju peradaban yang tinggi, orang-orang Mesir saat itu dengan berani menghadapi tantangan alam utama mereka, Sungai Nil. Penaklukkan atas Sungai nil membuat mereka menjadi bangsa yang maju dan menjadi pusat peradaban dunia saat itu.

Kembali ke masalah kota Bandung, pergeseran tanah di Gedebage selain menjadi semacam warning bukan saja atas stadion GBLA saja, tetapi atas penduduk Bandung seluruhnya. Bagi penduduk kota Bandung yang sebagian besar tinggal di tanah bekas endapan danau purba, peristiwa ini hendaknya disikapi dengan rasa hati-hati. T Bachtiar yang merupakan anggota dari Kelompok Riset Cekungan Bandung dan Masyarakat Geografi Indonesia mengatakan, tanah yang dipijak dan dihuni oleh penduduk kota Bandung merupakan tanah yang cukup labil, dan membahayakan jika terjadi gempa.

“Kawasan bekas endapan danau purba memiliki tanah yang cenderung bersifat labil dan mudah terkena getaran gempa, sehingga lebih berpotensi terkena dampak,” ujar T Bachtiar yang merupakan anggota dari Kelompok Riset Cekungan Bandung dan Masyarakat Geografi Indonesia (Baca: Bandung Selatan Rawan Gempa).

Dengan mempelajari sifat alam tersebut, siapapun diharap berhati-hati saat membangun bangunan di atas kota. Bagi pemkot Bandung, peristiwa pergeseran tanah ini juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk mempelajari sifat tanah di Bandung khususnya di Gedebage. Konsep kota teknopolis di sana memang merupakan konsep ideal yang bagus untuk dilaksanakan. Akan tetapi, momen pergeseran tanah ini bisa dipakai pihak pemkot untuk mempelajari sifat tanah di sana lebih dalam. Ini dilakukan supaya proyek teknopolis itu berjalan dengan baik, lancar, dan tidak menemui hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Tantangan alam yang dihadapi penduduk Bandung dan pemkot ini harus direspon dengan pemahaman yang arif dan sikap yang positif. Seperti kata Toynbee, pemahaman terhadap alam sekitar akan membawa manusia ke arah yang lebih baik. Dan Jika manusia telah menuju ke arah yang baik, tentu dia akan bahagia, seperti arti nama Gedebage, kebahagiaan yang besar.

Sekian

Penulis adalah bobotoh biasa, pecinta Bandung dan sejarahnya, berakun twitter @hevifauzan.

Sumber Buku:
Bachtiar, T, Bandung Purba: Panduan Wisata Bumi, Bandung: Pustaka Jaya, cet ke-2, 2004.
Kunto, Haryoto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Bandung: Granesia, 1984.
Toynbee, Arnold, Sejarah umat Manusia: Uraian Analisis, Kronologis, Naratif, dan Komparatif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Karya Tulis/Disertasi:
Hardjasaputra, Sobana, Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906, Disertasi, Depok: Program Pasca Sarjana Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 2002
Tim ADRC, Community-Based Flood Mitigation Project;  The Case of Bandung City, Indonesia, ADRC Project Report
No. 1, Asian Disaster Reduction Center, 2001 – http://www.adrc.asia/publications/Cooperative_projects/Indonesia/no_1.htm

Internet:
Kompas.com
Galamedianews.com
Ceritamu.com
Demokratnews.com
Bandung.go.id
jabar.tribunnews.com

Advertisement
14 Comments

14 Comments

  1. Nurus Tunjung

    03/04/2015 at 00:33

    Mantap…. belum tentu semua orang Bandung tau sejarah ini…

    • abay

      03/04/2015 at 07:09

      Bobotohna resep maca mang….#hade nya…hehehehhe

  2. abay

    03/04/2015 at 07:08

    Cenah aya indikasi korup mang, sy baca di media….# cenah urugan kuduna 10cm, ieu diurug 5cm. Artina, aya kalakuan jelema anu teu sesuai prosedur… jd jelema” ebel keneh nu nyieun masalah….# usut, tuman!!!

    • juragan anom

      03/04/2015 at 08:29

      Satuju kang,, proyek pengadaan kudu transparan bisi kajadian siga kasus UPS, soalna tos pasti seeur ucing geringna ari di proyek man sesah lmn hoyong 100% bersih mah..
      Tinggal audit ue ngarah jentre,, terus kntun milarian solusi kmh crana sangkan meminimalisir ambles.. di bdg seeur anu parinter ngenaal hal eta mah, sugan ku alloh di widian asal niatna leres, ulah dijadikeun ldang keur ngisian kadut olangan..
      #saveGBLA

  3. adjat sudradjat

    03/04/2015 at 09:04

    Wawasan Bobotoh PERSIB memang jempolan,salah sahiji contona,nu disajikeun ku penulis ieu….Bobotoh PERSIB memang edun (beda jeung singo edan mang)
    BRAVO BOBOTOH,BRAVO PERSIB…We proud become a part of it.

  4. Bedi

    03/04/2015 at 21:13

    sebuah perspektif yang luar biasa kang, bobotoh dengan pemikiran mendalam dan wawasan luas seperti ini, pasti jauh dari anarkisme. Semoga persib makin jaya dengan orang2 seperti ini disekelilingnya…
    HIDUP PERSIB!

    • Arie

      05/04/2015 at 12:28

      Amiiin, yra.

  5. Mang Darman

    05/04/2015 at 20:13

    resep maca namah..
    ngan naha geus na mata asa muih nya..
    teu kaotakan ku amang mah.. haha..

  6. iqbal3333

    06/04/2015 at 07:46

    punteun ngiring ngawangkong, penurunan tanah yg terjadi di gedebage, kuduna sdh bs diprediksi,klo sya ada instrumen terpasang dan direncanakan dgn benar, seperti kebanyakan stadion di indonesia, stadion2yg ada di bangun di atas tanah lunak yg letaknya jauh dr kota dan dpt dipastikan akan terjadi penurunan (tp nya td tea,kuduna sdh bs diprediksi), contoh stad.jakabaring sriwijaya, nu kuring apal eta stadion diatas tanah lunak neupi ka kurang lebih18meter,untuk mencegah penurunan yg besar ketika konstruksi menggunakan vertical drain, cai nu aya dina tanah diangkat nya kurang leuwih na kitu lah, std.SJH oge soh rarasan siga nu oyag mun persib ngagolkeun, tp sdh direncakana eta stad boh tahan gempa na boh nanaona (punteun, sanes silih ngajarkeun, mung silih ngingetan,mugia stad gbla tiasa rengse enggal2tanpa aya masalah),persib juara salawasna

  7. dri adri

    06/04/2015 at 19:43

    Mantap kang tulisana, abdi bobotoh anu sami2 resep kana sejarah bandung,..eta mun leres di korup trus nepi ka rugrug..dosa gede pisan..

  8. geri

    10/04/2015 at 10:10

    Mantap artikelnya..

  9. Nano krisan

    28/04/2015 at 21:01

    hatur nuhun nambihan wawasan,,,

  10. Fery

    29/04/2015 at 00:03

    Sae infona, panasaran keneh iraha nya jantenna atanapi dibukana gerbang tol di Gedebage teh tos lami pisan eta wacana teh.

  11. Pingback: My Blog | Memahami Gedebage, Memahami Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Arena Bobotoh

Hukuman yang Salah dan Citra Buruk Klub

Published

on


Saya bukan lulusan hukum, saya tidak mengerti mendalam mengenai masalah hukum dan tentu akan salah jika berbicara kebanyakan akan sesuatu yang memang bukan bidangnya, maka saya akan membahasnya dalam kacamata keilmuan social-humanism yang saya sedikit pahami. Dari beragam definisi akan hukuman, saya pribadi mendefinisikan hukuman sebagai sebagai sebuah tindakan yang diberikan atas kesalahan, pelanggaran yang telah dilakukan, dalam rangka pembinaan dan perbaikan tingkah laku sehingga tidak terulang kembali. Dari kalimat tersebut saya menggaris bawahi kalimat “dalam rangka pembinaan dan perbaikan tingkah laku”.

Sebelum lebih jauh lagi, saya pun ingin disclainmer bahwa saya mendukung hukuman bagi para pelanggar peraturan di stadion, karena klub memiliki peraturan sendiri yang mana supporter harus ikuti, saya sangat setuju hal tersebut. Kesalahan seperti penyala flare yang mengganggu pemain, berdiri di kursi penonton, pitch invasion, dan juga perusakan berbagai fasilitas stadion. Saya juga anggap “pelanggaran” lain yang dilakukan pihak non-supporter seperti; panitia pelaksana yang tidak becus dalam distribusi tiket, terlalu jauhnya penukaran tiket dengan stadion, hingga berdesakannya suporter di pintu masuk hingga menghilangkan nyawa orang dengan tiket resmi.

Beberapa hari ini media social gaduh, muncul tidak hanya debat kusir hingga konflik internal antar supporter, akan hukuman yang diberikan pada seseorang (sebut saja A) karena melakukan pelanggaran aturan penyalaan flare di dalam stadion. A ini dihukum SEUMUR HIDUP tidak boleh menyaksikan lagi tim di stadion, mukanya seakan menjadi buronan semua supporter Persib, muncul di berbagai media tidak resmi hingga media local, bahkan salah satu media tidak resmi menuliskan caption dengan visual wajah A dengan tulisan “dicari pelaku selanjutnya”, A ini seakan criminal kelas kakap, “hanya” karena menyalakan flare.

Jika ditanyakan pendapat saya, ini merupakan hukuman yang terlalu berlebihan dari sebuah klub dalam menghukum suporternya sendiri.

Dari beberapa berita yang sempat saya baca, di berbagai negara, seorang supporter dapat dihukum larangan mengunjungi stadion setelah dia melewati pelanggaran aturan demi pelanggaran aturan, tidak hanya satu kali pelanggaran.

Misalnya setelah dapat peringatan pertama, dapat larangan 6 bulan ke stadion, namun masih bersalah, lalu naikan larangan menjadi 1 tahun, kemudian seterusnya, larangan seumur hidup merupakan puncak tertinggi hukuman klub pada supporter. Tetapi jika A ini baru saja sekali melakukan pelanggaran kemudian langsung mendapatkan larangan tidak boleh menyaksikan seumur hidup ke stadion tim yang dia sukai, ini merupakan kesalahan buat saya, saya pribadi yakin dia bukan supporter yang nyogok masuk ke stadion, saya yakin dia pemegang tiket resmi seperti halnya supporter lain.

Pada sebuah perdebatan di medsos saya diserang beberapa orang, mulai dari mendukung penghancur finasial persib, dsb. Saya sih sudah kebal dengan omongan seperti itu, tapi apakah si A kuat? Apakah keluarga si A tidak mendapatkan snowball effects pasca hkuman yang di publikasikan cukup masif ini?

Banyak juga para pendukung hukuman tersebut berdalih, bahwa uang 130 juta yang dikeluarkan Persib adalah seakan kerugian besar, abdi mah seuri koneng we ah. Sambil lalajo anime.

Yang saya sedikit, sanksi yang diberikan tim pada A ini sedikit berlebihan, mungkin di tengah ini saya harus desclaimer lagi, jika saya saya mendukung hukuman bagi para pelanggar peraturan di stadion, karena klub memiliki peraturan sendiri yang mana supporter harus ikuti. Tapi muncul beragam pertanyaan; apakah hukuman larangan ke stadion seumur hidup sudah sesuai? Kenapa Persib sebagai tim besar tidak mampu untuk membuat strategi sosialisasi yang tepat? Kenapa Persib tidak membuat tahapan pelanggaran dan resiko apa saja yang dapat dihadapi mereka kelak jika pelanggaran terjadi? Buat saya, tim mengenal iklim per-suporteran tentu sangat penting. Tentunya akan jauh lebih baik ketimbang melihat semuanya dalam kacamata hitam dan putih benar salah saja, if you are not with us then you are wrong and againsts us.

Jika kita melihat fungsi komunikasi sendiri adalah untuk menghindari kesalahpahaman dan menghindari kesalahan yang lebih banyak karena pihak komunikan sebagai penerima informasi sudah aware terlebih dahulu akan tindakan dan resiko yang akan dia dapatkan kemudian.

Saat ini, medos ramai sekali perdebatan akan masalah ini, hingga beberapa terlihat menuju adanya kontak fisik, apakah ini yang sebenarnya diinginkan klub? Saya tidak pernah tahu.

Kesimpulan dari saya selaku orang luar, buatlah tahapan-tahapan bagi para pelangar di stadion Persib biar mereka tahu mengenai resiko apa yang mereka hadapi kemudian jika melakukan pelanggaran, lakukanlah sosialisai akan aturan terebut terlebih dahulu supaya calon pelaku sudah mengetahui resiko terlebih dahulu sebelum mereka bertindak gegabah.

Biasakan lakukan publikasi hukuman di media resmi supaya menjaring seluruh elemen supporter lebih luas dan tanpa sedikitpun melibatkan media persib non-resmi. Tahapan strategi komunikasi sederhana ini seharusnya sangat bisa dilakukan oleh tim besar sekelas persib, sebelum melakukan tindakan, yang saya nilai cukup gegabah dan tergesa-gesa.

Ditulis oleh Kiki Esa Perdana. Penulis adalah akademisi di salah satu universitas swasta di Jakarta dan peneliti budaya sepakbola Indonesia.

Lanjut Membaca

Arena Bobotoh

Menanti Skenario Blitzkrieg Gagal Total di GBLA

Published

on


Jika dalam Madilog, Tan Malaka menuliskan pengurangan fetisisme terhadap sandang dan makanan demi makmurnya dunia pustaka. Maka yang terjadi di ruang lingkup bobotoh dua minggu belakangan ini, terlalu jauh dengan yang Tan sampaikan dalam magnum opus-nya tersebut. Terutama tentang perjuangan bobotoh, berburu tiket pertandingan kontra Persija.

Di tengah melambungnya harga BBM dan bahan pokok yang kian mencekik. Belum lagi ancaman resesi ekonomi di beberapa negara. Magnet pertandingan Minggu sore nanti, terlampau istimewa bagi mereka yang rela menyimak layar ponselnya, menjaga koneksi, serta mengisi dompet digitalnya. Tentu saja hal ini berkaitan dengan upaya tak ketinggalan momen langka satu tahun sekali.

Sepak bola mampu menjadi candu bagi penggemarnya. Bahaya laten hal ini, tentu disenangi para kapital sebagai pemilik modal dari klub tercinta. Di tangan mereka harga tiket bisa naik kapan pun mereka mau. Sistem apa pun bisa dikemas sesukanya. Pada akhirnya, sepak bola kian asing. Menjumpainya hanya bisa diakses secara langsung oleh mereka yang berfinansial mapan.

Akan tetapi, momen Minggu sore ini adalah pengecualian. Semua pandangan kabur sesaat. Tak sedikit mereka yang hadir ke stadion, telah melewatkan hasrat jajannya, mengganti merek rokok, hingga bekerja lebih giat demi menjamin ketersediaan bekal hingga pertandingan usai. Baik untuk mereka yang membeli tiket secara online, maupun hasil muntahan lintah berdalih gagal nyetadion.

Bagaimana dengan yang memilih boikot? Kemewahan tertinggi yang dimiliki golongan muda adalah idealisme. Bagi yang memilih boikot karena peristiwa 17 Juni silam, perjuangan kalian tak pernah sia-sia. Perbaikan yang perlahan muncul, mungkin hanya angan jika solidaritas dari kalian semua tak pernah terbentuk. Bertahanlah sekuatnya. Jangan lelah mengharap keadilan ‘kan ditegakkan.

Pertandingan Spesial
Banyak yang berubah selepas 90 menit jalannya pertandingan. Perasaan murung yang sedang menyelimuti, seketika berubah menjadi gembira tatkala Persib berhasil menang di akhir laga. Siapa pun boleh bersuka cita. Setiap kemenangan yang Persib raih, usianya tak mentok saat itu saja. Melainkan, terus berulang hingga keesokan harinya. Baik di kantor, sekolah-sekolah, bahkan warung di tepian.

Hal ini turut berlaku pada pertandingan kontra Persija. Laga ini selalu spesial, minimal bagi saya, pun bagi siapa pun yang belum pernah menyaksikan Piala Perserikatan secara langsung. Jujur saja, momen melawan Persija akan selalu menyajikan energi lebih bagi saya. Segala cara dan upaya dikerahkan. Semata-mata agar Persib mampu mempecundangi Persija dari berbagai lini.

Betapa berwarnanya melihat perkembangan linimasa hampir dua minggu terakhir. Setiap orang, baik mewakili kubu Persib maupun Persija, bertarung di segala medan. Kedua tim memainkan psikis dan saling menjatuhkan mental lewat sajian audio visual. Sedangkan kedua pendukung kesebelasan, saling membuka arsip, beradu data, serta mengulas kejadian-kejadian kontroversial yang pernah terjadi.
Salah besar jika menganggap apa yang terjadi dua minggu ini tak berpengaruh. Sekecil apa pun yang kalian perbuat, hal tersebut akan mencapai puncaknya di hari pertandingan. Hasil yang kalian dapat hari ini, merupakan aktualisasi dari akumulasi kejadian yang ada di masa lampau. Hal ini juga yang membuat pertandingan kontra Persija selama lebih dari 20 tahun ini selalu menarik.

Namun tetap saja banyak hal yang disayangkan. Umpatan konyol berbau seksisme, pelecehan profesi, hingga rasialisme, adalah hal yang mestinya dienyahkan oleh pihak mana pun. Jika kita membiarkan kebiasaan tersebut berlangsung, secara tak langsung kita membiarkan generasi penerus mempertahankan kebodohan, dan menganggap aktualisasi buruk tempo ini adalah benar.

Jika di masa lampau Tan Malaka pernah menjadikan sepak bola sebagai alat perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Maka kebencian-kebencian di level tertinggi, katakanlah membunuh manusia, adalah hal yang mesti dijadikan dosa terbesar dari pertandingan sepak bola. Semoga semua tetap dalam koridor yang wajar, saling mengingatkan, dan berkepala dingin dalam situasi panas sekali pun.

Berawal dari Adu Gengsi
Rivalitas antara Persib dan Persija, tak mungkin berawal dari masalah tiket semata. Oleh karenanya, saya meminjam sebuah pendekatan yang biasa dipakai oleh Karl Marx, yakni materialisme dialektika dan historis. Ketika menggunakan pendekatan ini, niscaya kita tak akan menganggap segala hal yang terjadi di dunia ini mengalir begitu saja. Melainkan dapat dibuktikan secara nyata dan faktual.

Akumulasi kebencian yang membuat banyak korban berjatuhan ini, jika ditelisik lebih jauh, bermula lebih dari 20 tahun yang lalu. Mendekati akhir 90’an, Persib banyak ditinggal oleh generasi emasnya. Alhasil prestasi dan kegemilangan Persib di era 80’an hingga pertengahan 90’an mulai sulit disamai oleh generasi penerus.

Di tempat lain, sejak tahun 1997, DKI Jakarta mulai dipimpin oleh gubernur baru bernama Sutiyoso. Di tangan Bang Yos, Persija banyak mendapat gelontoran dana fantastis dibandingkan klub-klub lainnya di Indonesia. Selain itu, di tahun saat Bang Yos menjadi gubernur, bersamaan pula dengan lahirnya Jakmania beserta re-branding Persija dari identitas merah ke oranye.

Hanya perlu empat tahun, sejak Bang Yos memimpin DKI Jakarta, Persija berhasil menjadi kampiun Liga Indonesia. Bagaimana dengan Persib? Di tahun yang sama sebenarnya pencapaian Persib tak buruk-buruk amat. Persib dan Persija sama-sama melaju ke babak delapan besar. Hanya saja, langkah Persib terhenti di fase gugur dan gagal melaju ke semifinal.

Lantas apa kaitannya rivalitas yang ada dengan kejadian-kejadian tersebut? Yang pasti, dari kejadian tersebut bisa dikatakan pendukung Persija perlahan meningkat, ditambah dengan dukungan dana fantastis, membuat mereka mampu terus-menerus membeli amunisi dengan nama mentereng. Sedangkan Persib, tahu sendiri di musim 2003 dan 2006 hampir menemui tahun sialnya.

Kisah yang berkembang terkait akar rivalitas bermula dari tiket tentu benar. Namun hal tersebut hanya permulaan dari rangkaian proses panjang yang membersamai bumbu rivalitas hingga saat ini. Di sinilah konsep dari dialektika berguna. Kita bisa melihat sintesis baru dari kejadian-kejadian tersebut, berupa Jakmania dan Persija muncul sebagai rival baru dari Persib, dan Viking Persib Club.

Adu Juru Taktik
Dilihat dari komposisi pemain dan juru racik kedua kesebelasan, sangat wajar jika pertandingan ini banyak dinantikan, bahkan oleh orang di luar pendukung kedua kesebelasan. Perbedaan signifikan dari internal skuat dua kesebelasan adalah waktu membersamai pelatih dengan tim yang dipimpin. Thomas Doll sejak pramusim, sedangkan Luis Milla masuk setelah musim berjalan.

Di pihak lawan, mungkin mereka optimis ketika melihat tabel klasemen. Namun jangan ke sampingkan statistik Persib yang berhasil sapu bersih tiga laga yang dimainkannya. Inilah yang bakal membuat pertandingan semakin menarik. Ditambah baik Milla dan Doll, keduanya hidup di era yang sama sebagai pemain, dan keduanya terlahir di tahun yang sama pula.

Kubu lawan baru saja melakukan serangan psikis. Doll berujar di kanal GOAL Indonesia jika dirinya berpengalaman dalam banyak pertandingan derbi. Baik itu sebagai pelatih di HSV dan BVB, maupun ketika bermain di Lazio. Namun sepertinya ada cacat pemahaman dari Doll terkait derbi yang dimaksud. Apakah benar dirinya menganggap pertemuan dua tim beda kota ini sebagai derbi?

Jika saya adalah Luis Milla, tentu saya akan tertawa dengan celotehan konyol dari Doll. Milla yang pernah bermain untuk dua klub papan atas Eropa, representasi kerajaan kontra wilayah otonom yang ingin referendum, mungkin hanya bisa tersenyum ketika mengulang-ngulang tayangan wawancara Doll bersama GOAL Indonesia yang tayang dua hari lalu.

Bermain di Camp Nou selama enam musim, sebelum berpindah ke kandang rivalnya, Santiago Bernabéu, merupakan pengalaman yang tak dimiliki banyak pemain. Milla pernah bermain peran di Barcelona dan Real Madrid sekaligus. Untuk kasus ini, rasanya tak perlu lagi kita mengajarkan kepada Milla harus berbuat apa. Mari tuntaskan pertandingan Minggu sore dengan mudah, señor!

Rizki Sanjaya, seorang manusia yang mengagungkan Persib setelah Allah juga Muhammad. Bisa ditemui di semua akun bernama @rizkimasbox.

Lanjut Membaca

Arena Bobotoh

Setelah Dihajar PSM, Apa yang Harus Dilakukan Luis Milla?

Published

on


Sebuah revelasi terhampar tatkala Persib Bandung dilumat habis oleh PSM Makassar dengan margin 4 gol. Komposisi pemain yang digaji sedemikian tinggi dan berlabel bintang dibuat tidak berdaya ketika harus bertandang ke Stadion Gelora B.J Habibie pada Senin, 29 Agustus, 2022. Rentetan hasil buruk yang membuat Robert Alberts dipecat berpotensi kembali menyeruak ke permukaan karena inkonsistensi Persib di bawah asuhan caretaker Budiman Yunus yang mencatatkan 2 kemenangan melawan PSIS Semarang (2-1) dan PSS (0-1), serta 2 kekalahan saat menghadapi juara bertahan Bali United (2-3) dan PSM (5-1).

Beruntung, dewi fortuna sedang memihak arsitek baru Febri Hariyadi dkk, Luis Milla Aspas, yang tiba-tiba mengalami demam sebelum pertandingan berlangsung. Sangat memalukan apabila debut pelatih asal Spanyol tersebut harus berakhir dengan kekalahan telak dari Yakob Sayuri dkk. Sang entrenador kelahiran Teruel, Spanyol ini baru akan menjalani debut saat Persib menghadapi RANS Nusantara pada Minggu, 4 September, 2022.

Bernardo Tavares, pelatih PSM Makassar asal Portugal, memang berbeda dengan mayoritas pelatih asing yang ada di Indonesia. Eks analisator pertandingan dari Real Madrid tersebut tidak hanya menitikberatkan dan mengandalkan sumbangsih dari pemain asing ataupun naturalisasi seperti yang dilakukan Robert Alberts, eks pelatih Persib sebelumnya, ataupun oleh banyak pelatih-pelatih asing lainnya. Pelatih kelahiran Proenca-a-Nova ini adalah seorang pelatih yang sanggup memberikan pemahaman-pemahaman tertentu kepada para pemainnya, tidak hanya sekadar bertumpu pada pemain asing, lalu setelah itu melepas tangan. Ia bahkan sukses memandu dan memberikan instruksi-instruksi jitu kepada para pemain asli Makassar ataupun pemain muda binaan klub seperti Agung Mannan (bek tengah), Muhammad Arfan (gelandang bertahan), Ananda Raehan (gelandang bertahan), dan Dzakry Asaf (pemain sayap) yang tampil penuh semangat saat hendak mengimplementasikan sepak bola dengan intense pressing yang dikehendaki oleh Tavares.

Sederet pemain muda PSM lainnya juga tampil gigih dan menjadi “hulubalang-hulubalang” yang luar biasa bagi seorang Wiljan Pluim, maestro asal Negeri Kincir Angin yang juga sekaligus menjabat sebagai kapten di tim berjuluk Juku Eja tersebut. Mereka berlari, menekan, membuka ruang, dan dengan cekatan mengkreasikan banyak peluang dari berbagai zona, termasuk skema tendangan jarak jauh yang dilakukan oleh Yakob Sayuri dan berbuah 2 gol. Pemain sayap asal Kabupaten Yapen, Provinsi Papua tersebut, sukses mengeksploitasi kelengahan Persib di sektor bek sayap kanan yang ditempati oleh Bayu Fiqri. Kedua gol yang ia catatkan lahir di menit-menit awal pertandingan, yaitu di menit ke-2 babak pertama dan di menit ke-6 babak kedua.

Kendati tidak bisa tampil dengan Everton Nascimento, striker asal Brazil yang performanya sedang diapresiasi oleh banyak netizen sepak bola di Indonesia saat ini bersama Matheus Pato dari Borneo FC, tim yang sudah berdiri sejak tahun 1915 ini tidak gentar dengan nama besar yang mengisi skuad klub berjuluk Pangeran Biru tersebut. Ramadhan Sananta, yang masih berusia 19 tahun, sukses menorehkan 2 gol meski lini belakang Persib dihuni oleh pemain berlabel timnas seperti Rachmat Irianto dan kapten kawakan, Achmad Jufriyanto. Striker muda yang juga sempat memperkuat Persikabo 1973 ini, rasa-rasanya, adalah harapan baru bagi persepakbolaan Indonesia yang sering dikritisi karena kurang bisa melahirkan striker-striker dengan kualitas mumpuni.

Pemain-pemain tengah PSM juga relatif mampu menutup pergerakan Marc Klok dan Ricky Kambuaya, yang notabene juga berlabel timnas, meski sebenarnya ruang engine room dari tim berjuluk Ayam Jantan dari Timur tersebut dihuni oleh pemain-pemain muda seperti Ananda Raehan yang masih berusia 18 tahun, dan Muhammad Arfan yang berusia 24 tahun. Stigma tersebut layak disematkan apabila melihat data statistik yang ada, karena dari 446 operan yang dilakukan Persib, hanya 372 yang terkonversi dengan baik (83%). Jumlah dan akurasi operan tersebut memang lebih banyak ketimbang PSM, yang mencatatkan 231 operan sukses dari 310 kali percobaan (74%). Namun, membaca statistik tanpa konteks adalah dusta, karena itulah kita bisa menyimpulkan bahwa jumlah operan yang lebih banyak tadi tidak berarti karena terdiri dari banyak operan-operan ke belakang, apalagi skor akhirnya adalah 5-1.

Sepak bola memang bisa didekati dengan berbagai pendekatan, skema menyerang memang banyak diimajinasikan sebagai bentuk sepak bola paling ideal, pun layak diterapkan apabila memang komposisi pemain yang ada mendukung secara taktikal. Namun, bermain bertahan dan secara rutin mengandalkan serangan balik yang dibumbui dengan sejumput pemahaman taktik atau instruksi pressing secara konstan, juga bukanlah hal yang tabu.

Ironisnya, Persib tidak sedang memainkan keduanya, benar-benar tidak sedang memainkan keduanya. Lini belakang memainkan garis pertahanan yang rendah, 2 bek sayap hidup segan mati tak mau, pun kedua winger yang sukses dikebiri dan tidak diberikan banyak ruang untuk merangsek ke pertahanan lawan, yang memang secara padat diproteksi oleh 3 bek tengah dan 3 gelandang bertahan. David da Silva, yang sejauh ini sudah membukukan 6 gol, juga tidak berkutik di hadapan Yuran Fernandes dan kolega.

Terbukti, jumlah 6 umpan silang yang ditorehkan oleh pemain-pemain sayap Persib tidak ada satupun yang presisi. Winger seperti Febri Haryadi ataupun Ciro Alves, yang ditopang oleh Kambuaya dan Klok di lini tengah, juga hanya mampu mencatatkan 4 peluang atau chances created, jumlah yang sangat menyedihkan apabila melihat PSM yang sanggup mencatatkan 13 peluang meskipun tampil dengan tiga gelandang bertahan dan satu playmaker klasik seperti Wiljan Pluim. Sebuah arketipe yang sudah jarang kita jumpai sejak Juan Roman Riquelme memutuskan untuk gantung sepatu di tahun 2015 bersama kesebelasan berjuluk El Bicho dari negeri Tango, Argentinos Juniors.

Jangan lupakan juga kiper berusia 40 tahun bernama I Made Wirawan. Penampilan kiper asal Kabupaten Gianyar, Bali ini layak diapresiasi oleh pendukung tim tuan rumah, karena berkat andil besarnyalah PSM bisa mencetak 5 gol. Semua gol dari finalis AFC Cup zona ASEAN di tahun 2022 tersebut menghujam deras ke gawang Made Wirawan dengan proses yang hampir sama: bola melesat tidak jauh dari upaya tangakapan atau tepisan dari kiper bernomor punggung 78 tersebut, yang apabila kita simpulkan, refleks menjadi persoalan bagi eks penjaga gawang yang sempat memperkuat tim Beruang Madu, Persiba Balikpapan tersebut.

Apa yang Harus Dilakukan Luis Milla untuk Pertandingan-pertandingan Selanjutnya?
Pertama-tama, izinkan penulis menegaskan bahwa posisi terbaik dari Rachmat Irianto adalah gelandang bertahan. Kita tidak perlu memiliki lisensi kepelatihan UEFA Pro ataupun AFC Pro untuk memahami bahwa digesernya posisi Irianto dari bek tengah ke gelandang bertahan oleh Shin Tae-Yong adalah satu indikasi yang harus dimengerti. Artinya, Irianto dianggap tidak lebih baik dari Fachruddin Aryanto, Alfeandra Dewangga, ataupun Rizky Ridho oleh pelatih asal Korea Selatan tersebut.

Sebaliknya, jika kita bisa secara jeli menilik perspektif yang ada dari sisi yang lain, Rachmat Irianto yang notabene menjadi langganan di lini tengah tim nasional Indonesia, secara de facto, telah menyingkirkan nama-nama dengan reputasi mentereng seperti Zulfiandi, Bayu Pradana, Hanif Sjahbandi, ataupun Hargianto. Keempat nama yang penulis sebut tadi adalah langganan called-up skuad Garuda sebelum Shin Tae-Yong ditunjuk sebagai pelatih timnas.

Kita juga tidak perlu berbusa-busa berbicara mengenai taktik ataupun strategi jika logika sederhana ini sudah terpahami dengan baik. Apalagi, pelatih Persib saat ini, Luis Milla, pernah memberikan pujian kepada Rachmat Irianto saat pemain bernomor punggung 53 tersebut bermain di tim nasional U-23 sebagai bek tengah. Kala itu, Irianto yang sedang menjalani salah satu sesi pemusatan latihan bersama timnas di tahun 2018, dianggap memiliki visi bermain yang bagus. Meskipun pujian Milla dilontarkan ketika pemain kelahiran Surabaya ini masih bermain sebagai bek tengah, eks pelatih Lugo dan Real Zaragoza di negeri Matador tersebut telah menyadari bahwa yang bersangkutan memang memiliki pemahaman sepak bola yang baik. Dengan memahami bahwa ia sudah memiliki pemain pintar yang sukses menyingkirkan nama-nama besar di lini tengah timnas Indonesia saat ini, seharusnya Irianto bisa semakin berkembang di bawah arahan Milla, apalagi keduanya memang sempat bersama-sama.

Secara atribusi, Irianto memang boleh dikatakan satu level diatas Zulfiandi, pemain kelahiran Aceh yang sangat diandalkan oleh Luis Milla. Jika Zulfiandi adalah seorang metronom lini tengah yang terampil dalam melakukan operan-operan progresif dan operan satu atau dua sentuhan, putra Bejo Sugiantoro yang diikat Persib selama 3 musim ini adalah seorang gelandang bertahan yang tidak hanya memiliki operan-operan progresif, melainkan juga memiliki militansi dan piawai dalam melakukan intersep, tekel, maupun “pekerjaan-pekerjaan kotor” yang bisa sering kita saksikan ketika ia memperkuat timnas, terutama saat Piala AFF 2020 yang secara unik dihelat di tahun 2021 karena pandemi.

Sebelum Indonesia harus mengakui keunggulan dan perbedaan kelas dari Thailand di Final Piala AFF 2020, Rachmat Irianto menunjukkan statistik yang sangat baik. Dilansir dari Opta, ia sukses mencatatkan 90% tekel sukses, 3 kali memblok tembakan lawan, 6 kali melakukan sapuan, 5 kali melakukan intersep, dan 5 umpan kunci (salah satu yang paling vital adalah saat gol penyama kedudukan Indonesia saat menghadapi Malaysia). Sedangkan untuk akurasi kemenangan dalam perebutan duel bola di udara adalah sebesar 54,5 persen. Statistik yang cukup baik bagi pemain yang baru sekali memainkan peran sebagai gelandang bertahan di Persib musim ini, yaitu ketika menghadapi PSIS Semarang, itupun hanya di babak pertama. Di babak kedua, ia tampil di posisi bek sayap kanan, yang mana Dedi Kunandar tampil sebagai gelandang bertahan sejak masuk ke lapangan di menit ke-46.

Kenyataan bahwa Persib baru sekali memainkan Rachmat Irianto sebagai gelandang bertahan memang layak dijadikan pertanyaan besar. Dengan kapabilitas yang dimiliki Irianto, sebenarnya Luis Milla hanya tinggal memberikan instruksi-instruksi khusus kepada 2 pemain yang di atas kertas berada di sekitar Rachmat Irianto dalam formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3, yaitu Marc Klok dan Ricky Kambuaya. Keduanya adalah pemain kelas satu di Indonesia meski bukan pemain bertipe nomor sepuluh murni. Sekadar pembanding, ketidakhadiran pemain dengan tipikal “nomor 10 murni” juga dialami oleh kesebelasan Liverpool arahan Jürgen Klopp, toh situasi tersebut tidak berpengaruh banyak, karena gegenpressing milik manajer kelahiran Stuttgart ini memang tidak memerlukan pemain dengan jenis gaya bermain tersebut untuk merengkuh banyak trofi dan kemenangan.

Berdasarkan contoh di atas, suatu kesebelasan terbukti bisa menampilkan performa terbaik di lapangan, meski bermain tanpa pemain dengan tipe nomor 10 murni. Bahkan memang sudah jarang ditemukan pemain dengan tipikal tersebut di berbagai liga di Asia, Amerika Latin ataupun Eropa. Kebutuhan untuk mendulang sebanyak-banyaknya poin di era sepak bola modern, akan terasa mubazir jika bermain hanya untuk mengakomodir 1 pemain di lapangan, begitulah premis yang ada.
Satu hal yang menarik, apapun skema dan formasi yang diusung, bermain dengan pola 3 bek tengah atau menggunakan sistem backfour, 17 kesebelasan-kesebalasan di Liga 1 musim 2022/23 memiliki satu kesamaan yang dianut secara gotong-royong: Satu gelandang asing yang ditugaskan sebagai orkestrator serangan. Ketujuh-belas tim di strata tertinggi kompetisi Indonesia ini memiliki setidaknya satu pemain asing untuk menentukan permainan dan memandu tim dalam melakukan transisi ke penyerangan ataupun sebaliknya.

Hanya Persib yang tidak berinvestasi pada perekrutan gelandang asing, karena di detik-detik akhir menjelang ditutupnya bursa perpindahan pemain, kesebelasan yang terakhir kali menjuarai Liga Indonesia di tahun 2014 ini memutuskan untuk mendatangkan Daisuke Sato. Ia adalah seorang bek kiri yang masih aktif bermain tim nasional Filipina, meskipun jika merujuk dari data di situs Transfermarkt, eks pemain Muangthong United ini memiliki riwayat cedera parah dan harus menjalani waktu pemulihan selama 223 hari.

Kembali ke persoalan lini tengah, seharusnya bukan persoalan yang sulit untuk melakukan reaksi taktikal terhadap satu hal template terhadap 17 kompetitor lain di Liga 1. Rachmat Irianto sangat kapabel jika hendak ditugaskan oleh Luis Milla untuk menghentikan satu gelandang asing di tim lawan, yang kemungkinan besar, akan ditemui di setiap laga. Setelah itu inisiasi serangan bisa ia bangun lewat operan-operan progresif ataupun dengan cara menggiring bola sesaat setelah melakukan recovery runs yang disertai dengan aksi-aksi defensif lainnya seperti melakukan tekel ataupun intersep.

Sangat relevan pula jika Kambuaya menjadi pemain pilihan yang hendak diberikan operan-operan progresif oleh Irianto, karena keduanya sudah sering bermain bersama, baik di Persebaya maupun di timnas. Dengan kualitas pemain seperti ini, Luis Milla bisa menambahkan instruksi lainnya: seperti menugaskan Marc Klok untuk menekan dan melakukan penjagaan “satu lawan satu” kepada pemain di belakang gelandang asing, yang umumnya adalah seorang pemain lokal dengan kreativitas dan kualitas operan cukup mumpuni di kesebelasan yang ia bela. Contoh pemain dari kasus ini adalah Syahrian Abimanyu (Persija), Evan Dimas (Arema), Roni Sugeng (Persikabo), Alwi Slamet (Persebaya), atau bahkan pemain-pemain asing bertipikal “nomor 8” lainnya seperti Kei Hirose (Borneo FC) dan Brwa Nouri (Bali United).

Pendekatan taktik seperti ini pernah dilakukan Zinedine Zidane di final Liga Champions 2016/17. Ketika itu, saat pertandingan memasuki babak kedua, Casemiro diberikan instruksi untuk lebih agresif dan menekan Miralem Pjanic di lini tengah Juventus. Eks pemain AS Roma tersebut menjadi distributor bola yang bahkan sering mendapatkan bola sejak dari sepertiga akhir lini pertahanan Juventus.

Persoalan terakhir yang harus diperhatikan di lini tengah adalah kedalaman skuad. Bisa dibayangkan ketika 3 pemain timnas berhalangan tampil atau mendapatkan panggilan dari Shin Tae-Yong, krisis sudah pasti menghampiri karena Robi Darwis dan Beckham Putra, masih berusia muda. Salah satu solusi paling masuk akal adalah mencoret Daisuke Sato dan menggantikannya dengan bek kiri lokal yang memiliki kualitas sepadan atau lebih baik di putaran kedua liga. Slot pemain asing Asia bisa digunakan untuk posisi gelandang serang, ataupun pemain versatile yang bisa bermain di berbagai posisi ofensif.

Di sisi sayap, sudah saatnya untuk Luis Milla mengembalikan Febri Hariyadi ke sisi kiri, meskipun permutasi posisi dari kiri ke kanan ataupun sebaliknya adalah hal yang lazim dilakukan di tengah-tengah pertandingan. Kecenderungan pemain sayap kidal dengan trademark menggiring bola dan berlari seperti Febri, jika ditempatkan di posisi sayap kanan, sudah pasti memiliki kecendurungan untuk melakukan tekukan-tekukan yang tidak penting. Apalagi kita semua pasti sepakat, bahwa Febri Hariyadi bukanlah inverted winger sekelas Arjen Robben, bukankah begitu?

Suplai bola ke striker bisa secara konsisten dilakukan Febri dari sisi kiri, seperti apa yang pernah ia tunjukkan bersama timnas di bawah asuhan Luis Milla, baik itu melalui umpan silang ataupun umpan balik kepada pemain di lini tengah. Ciro Alves, yang sejatinya memang berposisi sebagai winger kanan sejak masih memperkuat tim nasional Brasil U-20, juga akan lebih banyak mendapatkan ruang untuk melakukan umpan silang dan peluang konkret untuk menembak bola langsung ke arah gawang. Ini terdengar sangat logis karena Ciro adalah pemain yang dominan menggunakan kaki kanan, meskipun sekali lagi, permutasi posisi secara fluid memang perlu dilakukan di tengah-tengah pertandingan.

Selain menyoroti hal-hal tadi, penulis rasa masalah lainnya adalah persoalan elementer yang akan terselesaikan ketika pemain andalan di posisi bersangkutan sudah pulih dari cedera. Seperti misalnya Henhen Herdiana di posisi bek kanan, Victor Igbonefo di posisi bek tengah, ataupun Teja Paku Alam di posisi penjaga gawang. Bahkan masih ada pula beberapa nama yang belum pernah dicoba sampai berjalannya pekan ke-7 liga 1, seperti Eriyanto di posisi bek kanan ataupun Reky Rahayu di posisi kiper.

Sebagai konklusi, sangat penting untuk memberikan Rachmat Irianto ruang untuk mengorkestrasi zona defensif Persib di musim ini, yang secara tragis, sudah kebobolan 18 gol dari 7 pertandingan. Terlepas ada pula hal-hal fundamental lainnya seperti komposisi pemain yang bukan dipilih langsung oleh pelatih baru, sampai usia dua bek tengah senior di Persib yang sudah uzur, Ahmad Jufriyanto berusia 35 tahun, dan Victor Igbonefo telah berusia 37 tahun.
Jadi, tidak mengherankan jika di musim depan, atau bahkan di putaran kedua Liga 1 2022/23, Persib Bandung melakukan perombakan dan penyegaran pemain. Apalagi Luis Milla memang mengenal banyak nama-nama pemain berkualitas yang pernah diasuh olehnya, yang juga secara kebetulan, memang jarang mendapatkan panggilan dari timnas di bawah asuhan Shin Tae-Yong saat ini. Sederet nama-nama yang dimaksud adalah Ricky Fajrin, Bagas Adi, Zulfiandi, Hanif Sjahbandi, Bayu Pradana, Hansamu Yama, sampai Septian David Maulana. Sebuah benefit besar jika Persib bisa mendapatkan pemain yang tidak dipanggil oleh timnas, karena saat pemain timnas mendapatkan panggilan tim nasional, pemain-pemain ini siap untuk menggantikan dengan kualitas yang tidak berbeda jauh.

Penulis bernama Hafidz Adi Nugraha yang kecintaannya terhadap Persib diwarisi oleh mendiang kakek

Lanjut Membaca
Advertisement

Advertisement

Komentar Bobotoh

Arsip

Trending