Connect with us

Berita Simamaung

Mabar Simamaung Sebagai Ajang Silaturahmi Bobotoh

Avatar photo

Published

on

Mabar bersama Simamaung dihadiri oleh puluhan Bobotoh. Kegiatan ini dilakukan sebagai ajang bersenang-senang, bersilaturahmi serta membuka jaringan antar peserta sambil berolahraga.

Berlokasi di Zona Soccer, Pasir Impun, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/11) pagi, ada 30 peserta yang ikut ambil bagian. Peserta adalah Bobotoh yang sudah mendaftarkan diri secara online dan ditambah crew-crew Simamaung yang ikut bermain pada olahraga mini soccer ini.

Peserta yang mendaftarkan diri secara online dengan harga 75 ribu juga berhak untuk mendapat voucher berbelanja di Simastore. Mabar mini soccer ini berlangsung selama 2 jam, dari pukul 10 hingga 12. Kegiatan dimulai dengan pemanasan dan tantangan melakukan crossbar challenge.

Setelah itu peserta dibagi menjadi empat tim dan bermain bergantian dalam enam babak. Setiap babaknya dimainkan selama 15 menit. Peserta yang hadir nampak bersenang- senang dan sesekali menunjukan kebolehanya mengolah si kulit bundar.

Jalannya Mabar mini soccer ini juga diabadikan oleh penyedia jasa dokumentasi foto dan video olahraga, Intercut Sport. Rencananya agenda Mabar akan rutin dilaksanakan oleh Simamaung, dengan variasi pilihan olahraga lainnya.

Advertisement
Mangga Komentar di Dieu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Persib

Fitrul Dwi Rustapa, Mempertahankan Tradisi Sepakbola Garut Selatan

Published

on

“Saya mendengar mitos, siapapun yang belatih di situ (Lapangan Ibrahim Ajie, Cikajang) akan menjadi pemain liga atau nasional. Sebetulnya, di manapun, di lapangan manapun, tetep harus ada misi dan karakter dan keinginan jadi pemain. Tidak semua pemain Cikajang bisa jadi pemain, mungkin karena misi dan karakternya, tidak kesampaian” – Adeng Hudaya kepada Simamaung.

Baca juga: Adeng Hudaya, Kapten Juara dari Cikajang

Persib Bandung merekrut penjaga gawang baru untuk menghadapi liga musim 2022. Penjaga gawang yang diumumkan, Senin (18/04) tersebut adalah Fitrul Dwi Rustapa. Mantan penjaga gawang Persipura ini diumumkan sehari setelah Persib mengumumkan pelepasan penjaga gawang senior, Deden Natshir.

Fitrul merupakan penjaga gawang asal Bungbulang, Kabupaten Garut. Bungbulang merupakan salah satu kecamatan di bagian selatan kabupaten yang dahulu terkenal dengan julukan Swiss van Java. Seperti biasa, para pemain Garut Selatan tidak lepas dari keberadaan lapangan yang diyakini mempunyai tuah di sana, Lapangan Ibrahim Ajie.

Seperti yang dikatakan Adeng Hudaya, ada semacam mitos bahwa para pemain yang pernah bermain di Ibrahim Ajie akan menjadi pemain Persib Bandung atau pemain nasional. Di Cikajang ini, lahir beberapa pemain Persib yang membela tim nasional Indonesia sekaligus membawa Persib juara di kompetisi nasional. Di antara pemain yang lahir dari budaya sepakbola di Cikajang adalah Adeng Hudaya.

Keberhasilan Adeng Hudaya dan rekan-rekannya menembus kancah pesepakbolaan nasional tersebut menguatkan mitos yang beredar di Bobotoh, kalau Cikajang merupakan penghasil pesepakbola andal. Lebih dari itu, pemain Cikajang selalu membawa tuah untuk bisa membawa Persib juara.

Mitos ini dipatahkan oleh Adeng Hudaya sendiri. Kapten Persib Bandung yang mengembalikan tropi Perserikatan ke tanah Pasundan di tahun 1986 ini seolah melakukan desakralisasi terhadap kesucian sepakbola Cikajang. Adeng menolak, kalau Cikajang mempunyai mitos yang diyakini bisa menjadikan seorang pemain yang pernah bermain di sana menjadi besar. Adeng mengatakan, bahwa misi dan karakter pemainlah yang berperan dalam menentukan perjalanan karir mereka. Apakah mereka mempunyai karakter dan semangat untuk maju dan mempunyai mental menjadi seorang juara atau tidak, terlepas dari mana pemain itu berasal.

Baca juga: Kultur Sepakbola Ala Cikajang

Misi dan karakter inilah yang membedakan Fitrul Dwi Rustapa dengan pemain lainnya. Menurut mantan pelatih Persigar Garut, Oded Sutarna, Fitrul merupakan sosok penjaga gawang yang selain berbakat, juga mempunyai keinginan untuk maju.

“Ada beberapa pemain Garut yang layak main di Liga Satu, tapi sudah rezekinya buat Fitrul bisa bermain di sana. Fitrul merupakan pemain yang rajin, disiplin, dan berbakat,” ujar Oded Sutarna setelah dihubungi oleh Simamaung.com.

Penjaga gawang kelahiran tahun 1995 ini sebenarnya sangat jarang menjadi perbincangan Bobotoh. Sebagai pemain asal Sunda, jalan yang dilalui Fitrul memang cukup berliku. Sebelum hijrah ke luar Pasundan, Fitrul meniti karir di daerah kelahirannya, Garut. Fitrul menempa kemampuannya sebagai penjaga gawang, saat berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Family di Lapangan Ibrahim Ajie, Cikajang.

“Kalau berlatih ke Cikajang, Fitrul biasanya naik motor dari Bungbulang, atau diantar oleh orang tuanya,” tutur pria yang di tahun 2022 ini menangani Roksi FC, tim Liga 3 Jabar ini.

Perjalanan Fitrul pun cukup panjang untuk menjadi kiper di klub kebanggaan Jawa Barat. Fitrul pernah berlaga membela Bungbulang di partai final Porkab Garut tahun 2012 melawan Persijang Cikajang. Fitrul juga pernah meloloskan Garut ke Porprov Bekasi dan menjadi penjaga gawang Persigar Garut. Dari Garut, tekad Fitrul untuk menjadi penjaga gawang papan atas Indonesia tersalurkan di tim junior, Persegres U21[1]. Di musim 2017, barulah Fitrul mulai menapakkan karirnya di kompetisi sepakbola tertinggi Indonesia setelah direkrut tim Persegres Gresik United (PGU) senior.

Sebagai penjaga gawang, karir di PGU saat itu mungkin merupakan satu pilihan karir paling buruk. Dalam satu musim, PGU kemasukan 104 gol dari lawan-lawannya. Salah satu penampilan PGU terburuk adalah ketika mereka dikalahkan Sriwijaya FC dengan skor 2-10. Dalam pertandingan tersebut, Fitrul masuk di awal babak kedua ketika papan skor sudah menunjukkan angka 1-6.

Buruknya penampilan PGU di liga tidak membuat Fitrul patah arang, pun tidak membuat tim liga lainnya berpaling untuk mendapatkan pemain yang dirasa mempunyai potensi itu. Terlebih, catatan football-tribe.com menyatakan bahwa Fitrul menjadi salah satu penjaga gawang dengan penyelamatan terbanyak di liga[2].

Di musim selanjutnya, karir Fitrul diselamatkan oleh tim besar Indonesia asal Papua, Persipura Jayapura. Terus menjadi penghangat bangku cadangan tidak membuat semangat Fitrul untuk surut. Musim 2021/22, kesempatan yang ditunggu akhirnya datang.

Di musim 2021/22, Fitrul membela Persipura sebanyak 26 pertandingan. Kembali, nasib berkata lain. Tim yang dibela Fitrul akhirnya harus kandas dan terdegradasi. Satu hal yang membuat Fitrul tetap dilirik adalah banyaknya penyelamatan yang dilakukan oleh penjaga gawang bernomor punggung 1 ini. Menurut catatan Lapangbola.com, Fitrul masuk dalam 10 besar penjaga gawang dengan penyelamatan terbanyak di Liga Satu 2021/22[3].

Penampilan apik ini membuat pelatih kiper Persib, Passos memberi rekomendasi kepada timnya untuk merekrut penjaga gawang asal Garsela ini. Keberhasilan Fitrul menembus skuat Persib, mensahihkan pendapat sang Legenda Adeng Hudaya, bahwa misi dan karakterlah yang akan menentukan nasib pemain sepakbola.

“Tidak semua pemain Cikajang bisa jadi pemain, mungkin karena misi dan karekternya, tidak kesampaian” ujar legenda Persib Bandung, Adeng Hudaya.

Misi dan karakter yang kuat itulah yang telah membawa Fitrul menjadi penjaga gawang level atas dengan penampilan yang terbilang stabil. Mudah-mudahan, Fitrul Dwi Rustapa, penjaga gawang dari Bungbulang ini bisa terus berkibar, dan membawa prestasi tertinggi buat Persib Bandung.

[1] Sinar Kiper Muda di Balik Prestasi Kelam Persegres, https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20171113200125-142-255404/sinar-kiper-muda-di-balik-prestasi-kelam-persegres

[2] Persipura Jayapura Rekrut Kiper Potensial dari Garut, Fitrul Dwi Rustapa, https://football-tribe.com/indonesia/2018/02/22/persipura-rekrut-fitrul-dwi-rustapa/

[3] Top Save, Liga Satu Indonesia 2021, https://live.lapangbola.com/tournaments/stats_save/145

Ditulis oleh Hevi Fauzan, Bobotoh, Manajer Konten di Simamaung.com. Berakun Twitter dan Instagram di @Pahepipa

Lanjut Membaca

Berita Simamaung

Simamaung Bangun Fondasi Komunitas FIFA Mobile di Gelaran Exhibition Match

Published

on


Simamaung menggelar FIFA Mobile Community Exhibition yang diikuti 16 peserta secara offline di Kopi Pandit, Jalan Jakarta 20-22 Bandung, Sabtu (13/11/2021). Beberapa peserta didapati datang dari Bandung, Jakarta, Bogor, dan Garut. Ini menunjukkan ada potensi antusiasme antar komunitas di beberapa kota dalam gelaran pertama eksebisi ini.

Latar belakang diadakannya acara ini adalah untuk mewadahi komunitas-komunitas FIFA Mobile di beberapa kota. Indonesia adalah negara dengan downloader FIFA Mobile terbanyak ke-2 di dunia setelah Brasil. Data ini menunjukkan bahwa ada jumlah user yang banyak untuk mewadahi mereka dalam sebuah eksebisi komunitas.

“Karena sejauh ini belum kebentuk komunitasnya. Paling per-kota dulu, seperti komunitas Jakarta kumpul di Jakarta, komunitas Bandung kumpul di Bandung, padahal kalau disatukan lumayan besar juga (komunitasnya),” ungkap Toni Sugianto selaku koordinator acara.

Konten kreator Youtube dari Football Mobile Division (FMD), Rizky Ananda, juga turut hadir menyemarakkan acara. Dirinya mengakui dalam perkembangannya, komunitas FIFA Mobile sebenarnya sudah eksis, namun belum ada yang mewadahi sosialisasi mereka secara serius seperti penyelenggaraan kompetisi.

Komunitas berperan penting dalam menggerakkan pasar game FIFA Mobile ini. Apalagi dengan data—seperti yang disebut di atas—Indonesia jadi downloader terbanyak ke-2 di dunia setelah Brasil. Andai dinamika komunitas terbentuk secara meluas, kompetisi bisa diadakan secara teratur, maka akan membantu pro scene yang lebih serius.

“Game FIFA Mobile ini sebenarnya banyak pemainnya, seperti game online populer lain pun kalau tidak digerakkan oleh komunitas, tidak akan ada turnamen-turnamen. Pasti dari komunitas dulu dibesarkan, baru turnamen. Ini ditunjukin kalau game ini punya potensi dan punya pasar sendiri. Dari sana orang akan ke-notice, ‘oh ternyata ada ya game mobile sepakbola yang ternyata serius menjalankannya,” papar Rizky.

Pada gelaran ini pertandingan final mempertemukan Nadhief vs Fadil yang berlangsung ketat. Nadhief memenangi laga dengan skor 2-1 di leg pertama, menyusul skor 1-1 di leg kedua. Nadhief cukup antusias menjalani eksibisi ini, dengan itu komunitas FIFA Mobile di Indonesia bisa lebih hidup. “Bukan hanya di Bandung, tapi juga seluruh Indonesia,” sebut Nadhief.

EA Sports akan segera merilis Season ke-6 FIFA Mobile dengan update yang cukup signifikan. Tentunya Simamaung dan FIFA Mobile di Indonesia siap mengawal dengan memberi banyak kejutan bagi komunitas-komunitas pecinta FIFA Mobile.

Lanjut Membaca

Berita Persib

Persib dan Para Voters Mesti Ikut ‘Bersih-Bersih’

Published

on

Persib sebagai bagian dari voters PSSI mesti ikut bersih-bersih federasi selagi Satgas Antimafia Bola bekerja. Salah satunya adalah ikut menentukan bagaimana status kompetisi musim lalu di Kongres Luar Biasa (KLB) yang harusnya dilaksanakan sebelum kompetisi baru tahun ini berjalan.

Satgas bertugas dihukum pidana berdasarkan undang-undang mengacu kepada UU No. 11 tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap. Voters punya tugas menentukan hukum di sepakbola terhadap klub-klub yang tekait dengan match fixing musim lalu. Ini berkaitan dengan promosinya PSS Sleman dan Kalteng Putera yang dilaporkan sudah dipesan sebelumnya naik kasta.

“Dimulai bersih-bersih oleh satgas, nah voters juga di sini enggak boleh diem-diem aja dong, nunggu satgas beresin padahal satgas sendiri masuk di area hukum positif, hukum pidana,” kata Tommy Welly sebagai pengamat pada Kamis (28/3/2019).

“Hukum sepakbolanya harus ditegakkan, siapa pemain pelatih, siapa wasit, siapa klub yang terlibat harus ada sanksi sepakbolanya,” lanjut pria yang akrab disapa Bung Towel ini.

Hukum sepakbola tersebut bisa dijatuhkan melalui Komite Ad Hoc Integrity menetapkan status kompetisi musim lalu. Sebuah langkah agar PSSI pasca KLB tidak dibebani pekerjaan rumah yang kotor.

“Itu yang harus dilakukan oleh Komdis Komite Ad Hoc Integrity dan menetapkan status kompetisi, supaya PSSI kedepan tidak didbebani ‘cucian kotor’ rumahnya nih sudah dibersihkan oleh satgas lalu datang orang-orang baru yang akan buat sebuah perubahn tapi jadi tidak terbebani oleh rusak masa lalu,” jelasnya.

Menurutnya, kasus calciopoli di Serie A Italia yang menimpa Juventus bisa menjadi yurisprudensi referensi acuan untuk hukuman sebuah klub di Indonesia yang terlibat. PSSI mesti melakukan hal itu sebagai hukum di sepakbola.

“Status kompetisi musim lalu mesti ditetapkan, kalau kompetisi baru sudah berjalan itu sudah sagat sulit (memberikan hukuman), tegaskan. PSSI bertanggung jawab soal ini. Yurisprudensinya kasus calsiopoli karena terlibat pengaturan skor contoh kasusnya, jangan hanya berharap pada satgas, aspek sepakbola hukumnya harus ada,” imbuhnya.

Lanjut Membaca

Trending