Connect with us

Sejarah Maung

Kultur Sepakbola Ala Cikajang

Published

on

Banyak pemain sepakbola yang lahir dan terasah di Cikajang. Selain Adeng Hudaya, ada nama seperti Uut Kuswendi, Nyangnyang, Yaris Riyadi, Giman Nurjaman, Nova Zaenal, Zaenal Arif, Yandi Sofyan, dll. Selainmeramaikan khazanah persepakbolaan di tanah air, beberapa dari mereka merupakan punggawa Tim Nasional Indonesia di masanya.

Baca Juga: Adeng Hudaya, Kapten Juara dari Cikajang

Secara geografis, Cikajang merupakan daerah yang cukup terpencil di tengah Priangan. Kota besar yang terdekat adalah Garut yang merupakan ibukota kabupaten. Walaupun terpencil dan dikelilingi hutan, sawah, dan perkebunan teh, sepakbola dengan mudah masuk ke pedalaman Cikajang.

Di masa lalu, orang-orang Belanda membawa sepakbola ke Priangan termasuk ke Garut. Selain hanya memainkan sepakbola sebagai hiburan, mereka membentuk klub-klub sepakbola sebagai ajang kompetisi antar mereka. Dalam Koran berbahasa Belanda, Preangerbode tahun 1916, tim sepakbola Garut melakukan pertandingan eksebisi ke Bandung. Salah satu tim yang dihadapi adalah UNI, yang mengalahkan mereka dengan skor 0-7.

Pada tahun 1930, Koran de Koerier mencatat turnamen sepakbola bernama Piala Garut Cikajang . Beberapa tim seperti YTT, Siod, GSV, CVC, Olympia, dan Goentoer ambil bagian dalam turnamen ini. Turnamen yang berakhir bulan oktober ini dimenangkan oleh Siod.

Geliat sepakbola Cikajang di masa lalu menjadi cerita yang diturunkan ke generasi penerus. Menurut penuturan Zaenal Arif, para orang tua di Cikajang dahulu pernah bertanding dengan orang-orang Belanda. Ini menguatkan bahwa gairah sepakbola di Garut, khususnya di Cikajang sudah berlangsung sejak lama.

Kesuksesan banyak pemain Cikajang untuk bermain di klub sebesar Persib dan beberapa klub Indonesia membuat Cikajang terkenal sebagai penghasil pesepakbola handal. Kenyataan ini tidak lepas dari kultur sepakbola yang sudah sangat lama terbentuk di kota dengan tinggi 1200 meter di atas permukaan laut tersebut. Satu lapangan yang diyakini menjadi Kawah Candradimuka para pemain di Cikajang adalah lapangan Ibrahim Ajie.

Menurut cerita, Lapangan Sepakbola Ibrahim Ajie dibangkitkan dari tidur lamanya oleh Ibrahim Ajie di bulan Agustus tahun 1962. Pria yang saat itu menjabat sebagai Pangdam Siliwangi baru saja menuntaskan tugasnya menangkap pemimpin DI/TII Kartosuwiryo di salah satu gunung di perbatasan Kabupaten Garut dan Bandung. Saat itu, Garut dan Gunung Guntur menjadi salah satu pusat kegiatan pemberantasan dan penangkapan pemimpin DI/TII.

Dalam kisah yang dituturkan warga lokal, Lapangan Ibrahim Ajie pada awalnya menjadi tempat menyimpan kayu gelondongan. Kayu-kayu ini diminta disingkirkan oleh sang Panglima sehingga menyisakan satu lapangan luas. Lapangan ini kemudian dijadikan lapangan sepakbola, dan diberi nama sesuai dengan nama Panglima Siliwangi saat itu. Seiring perkembangan waktu, lapangan Ibrahim Ajie menjadi tempat berkumpulnya talenta-talenta sepakbola dari Cikajang, Garut, bahkan Priangan. Beberapa pemain Persib pun pernah berlaga di lapangan ini, baik sekedar menjajal kemampuan, maupun meminta tuah dari lapangan yang diyakini mempunyai kekuatan gaib oleh penduduk setempat.

Beberapa tahun terakhir, turnamen besar bernama Muspika Cup selalu digelar di Lapangan Ibrahim Ajie. Gairah, kultur, skill, sampai emosi tertumpah di turnamen ini. Turnamen ini menjadi magnet yang mampu menyedot perhatian masyarakat dan pemain-pemain bertalenta. Turnamen ini melahirkan beberapa pemain bintang, seperti Ferdinand Sinaga yang berlaga di turnamen-turnamen awal Muspika Cup.

Sayangnya, emosi berlebihan membuat turnamen ini harus vakum. Sebuah perkelahian besar di satu pertandingan membuat pemerintah dan keamanan setempat menghentikan turnemen bersangkutan. Bahkan, turnamen ini harus menerima hukuman dan harus “diliburkan” selama 5 tahun.

Jika diibaratkan api yang besar, kegiatan sepakbola di Lapangan Ibrahim Ajie Cikajang sekarang masih berupa percikan-percikan api kecil. Lapangan ini tetap tidak pernah sepi dari kegiatan sepakbola, dari sekedar hiburan, mencari keringat, sampai tempat menyemai harapan. Mereka tetap menjaga semangat dan kultur sepakbola di Cikajang. Mereka masih mempunyai keyakinan, kalau dari Cikajang ini akan lahir kembali bintang sepakbola yang baru.

Bersambung

Ditulis oleh Hevi Abu Fauzan, Bobotoh Persib, penikmat sejarah Kota Bandung, berakun Twitter dan Instagram di @pahepipa.

Artikel ini merupakan bagian kedua dari tulisan bertema Sejarah dan Budaya Sepakbola di Cikajang.

Artikel Bagian 1: Adeng Hudaya, Kapten Juara dari Cikajang

Advertisement
Mangga Komentar di Dieu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Featured Persib Bandung

Adeng Hudaya, Kapten Juara dari Cikajang

Published

on

Stadion Senayan Jakarta, 11 Maret 1986, Robby Darwis berhasil menggagalkan serangan Perseman Manokwari di lini belakang. Bola gagal dikontrol Mathias Woof dan melaju ke area pertahanan Persib Bandung di menit 77. Si kulit bundar sejenak dikuasai sang kapten, Adeng Hudaya. Dengan sedikit gerakan mengecoh, Adeng mengarahkan bola ke Jajang Nurjaman. Suatu visi yang luar biasa dari sang kapten, karena tidak ada seorang pun yang menyangka bola akan diarahkan ke arah sayap lincah itu. Sejarah mencatat, Jajang Nurjaman menjadi pencetak gol tunggal di partai puncak Perserikatan 1985. Persib pun meraih juara, diwarnai catatan assist dari sang kapten.

Kemenangan Persib Bandung atas Perseman Manokwari menjadi puncak kebangkitan Persib Bandung di tahun 1980-an. Penantian panjang Bobotoh selama 25 tahun terbayar tuntas. Terakhir kali, Persib menjadi juara Perserikatan adalah di tahun 1961. Selain itu, banyak sekali peristiwa yang membuat Bobotoh dan tim Persib Bandung ingin sekali melupakan ingatan-ingatan lama, terutama di pergantian tahun 1970 ke tahun 1980-an.

Di akhir tahun 1970-an, PSSI memangkas jumlah peserta level kompetisi tertinggi Kompetisi Perserikatan menjadi 5 tim. Di penentuan peringkat 5, akhirnya Persib untuk pertama kali harus gagal berlaga di level tertinggi, karena dikalahkan Persiraja Banda Aceh.

Kegagalan ini menjadi titik balik Persib Bandung yang akhirnya bisa membentuk Generasi Emasnya sendiri. Para pemain muda ditempa dan mendapat didikan keras ala pelatih asal Eropa Timur, Marek Janota. Salah satu pemain muda itu adalah pemuda asal Cikajang, Garut, Adeng Hudaya.

Beberapa tahun sebelumnya, Adeng remaja datang ke Bandung untuk melanjutkan sekolah, sekaligus menyalurkan hobinya bersepakbola. Di lapangan hijau, Adeng bergabung dengan klub legendaris Kota Bandung, Uitspanning Na Inspanning atau yang lebih dikenal dengan nama UNI.

Adeng Hudaya datang dari kota kecil di dataran tinggi Garut sebelah selatan, Cikajang. Kota ini merupakan kota dengan suhu yang sangat dingin, karena berada di ketinggian sekitar 1200 meter di atas permukaan air laut. Di luar keistimewaan letak geografisnya, Kota Cikajang menyimpan sejarah panjang tentang sepakbola di Priangan.

Tanah Garut yang subur memang menjadi incaran orang Eropa untuk berusaha di sana. Pasca penerapan UU Agraria 1870, bisnis perkebunan sampai pariwisata dibuat di sana. Kecantikan dan kesejukan alam Garut mengundang decak kagum orang barat yang mengunjunginya. Mereka menyebut Garut dengan julukan Swiss dari Jawa.

Di dataran tinggi Cikajang, orang-orang Eropa mendirikan banyak perusahaan teh. Salah satu pengusaha teh yang terkenal adalah K.F. Holle, seorang Belanda yang mendirikan Kweekschool, sekolah guru yang bangunannya kini dipakai kantor Polrestabes Kota Bandung. Pengusaha teh yang juga aktif mempelajari Kebudayaan Sunda ini memiliki perusahaan teh di Cisaruni dan Giri Awas, di kaki Gunung Cikuray.

Perkebunan-perkebunan ini turut memberikan andil terhadap perkembangan sepakbola di sana. Afdeling-afdeling perkebunan teh mempunyai lapangan sepakbola dan juga memiliki tim sepakbolanya sendiri. Bentang alam yang bergelombang dan beroksigen tipis membantu para pemain sepakbola untuk meningkatkan stamina dan daya tahan mereka. Dikutip dari Portalbelanegara.com, Perkebunan Cisaruni misalnya, mempunyai tim sepakbola sendiri yang bernama Porcis atau Portjis. Tim perkebunan ini pernah melahirkan pemain Persib seperti Uut Kuswendi, yang menjadi pemain andalan dan membawa Porcis menjadi juara kompetisi antar perkebunan se-Jawa Barat.

Cerita tentang Cikajang memang tidak jauh bisa jauh dari sepakbola. Lapangan Ibrahim Adjie misalnya, menjadi melting pot bagi datangnya para pemain berbakat di Priangan. Para pesepakbola yang berasal dari perkebunan, desa sekitar, Kota Garut, bahkan dari luar Garut ikut merasakan atmosfir dan sihir yang ada di Cikajang. Mereka datang, berlatih, dan bertanding dengan harapan supaya bisa menjadi pemain besar seperti seorang Adeng Hudaya.

Setelah para pemain dari generasi emas Persib mulai dimainkan di awal tahun 1980-an, Adeng Hudaya diplot menjadi pemimpin, kapten tim. Generasi ini mulai menggoncang pesepakbolaan nasional setelah sempat menjadi runner up di 2 edisi Perserikatan secara berturut-turut di tahun 1983 dan 1985. Bahkan, Persib berhasil kembali masuk grand final Perserikatan untuk ketiga kalinya di tahun 1986. Di tahun ketiga inilah, Persib bisa juara setelah mengalahkan Perseman Manowari di final, lewat gol tunggal Jajang Nurjaman.

Karir sang kapten memang berakhir di Persib di musim 1993. Sebelumnya di tahun 1990, Adeng dan rekan-rekannya berhasil kembali menjadi juara Perserikatan di tahun 1990, setelah mengalahkan Persebaya di final dengan skor 2-0. Menjadi pemimpin di empat final level tertinggi amatir nasional dan dua di antaranya berhasil dimenangkan bukan merupakan prestasi yang biasa-biasa saja. Tugas ini hanya bisa diemban oleh seorang saja, Adeng Hudaya.

Bersambung

Ditulis oleh Hevi Abu Fauzan, Bobotoh Persib, penikmat sejarah Kota Bandung, berakun Twitter dan Instagram di @pahepipa.

Artikel ini merupakan bagian pertama dari tulisan bertema Sejarah dan Budaya Sepakbola di Cikajang.

Artikel Bagian 2: Kultur Sepakbola Ala Cikajang

Lanjut Membaca

Berita Persib

(On This Day) Gol Telat Billy Keraf Bawa Persib Menang di Gresik

Published

on


Hasil positif didapat Persib Bandung ketika bertamu ke markas Persegres Gresik United 3 Mei 2017 lalu. Bertempat di Stadion Tridarma Petrokimia, skuat asuhan Jajang Nurjaman membawa pulang tiga poin dengan skor 1-0. Gol semata wayang dihasilkan Billy Keraf pada menit 90+2.

Persib datang ke Gresik untuk meraih kemenangan di pekan keempat Liga 1 2017. Catatan belum pernah kalah dari pekan pertama membuat Maung Bandung percaya diri memulai laga. Namun hingga babak pertama usai, Michael Essien dan kawan-kawan tidak mampu memecah kebuntuan di lini depan.

Jajang Nurjaman lalu memasukan Billy Keraf menggantikan Gian Zola pada menit 58. Terus mencoba mencari kesempatan, upaya Persib baru lahir di penghujung pertandingan. Umpan kunci dari Michael Essien ke sisi kiri berhasil dikejar Febri Hariyadi dan setelahnya dia melepas umpan datar ke mulut gawang.

Billy yang berdiri di kotak penalti tanpa ampun melesakan bola ke dalam gawang yang dikawal Satria Tama. Gol ini sekaligus menjadi gol pertama Billy Keraf bersama Persib sejak dirinya direkrut di awal musim. Selama kompetisi 2017, winger lincah tersebut sukses menyarangkan lima gol.

Lanjut Membaca

Berita Persib

(On This Day) Gol Terakhir Antonio Toyo Claudio

Published

on

Antonio Claudio menjalani karir yang singkat saat berbaju Persib, yakni hanya 2 musim saja. Di musim 2005, pemain asal Brasil ini direkrut oleh pelatih legendaris Persib, Indra Thohir. Musim berikutnya, Toyo kembali dipercaya oleh pelatih Persib Risnandar untuk berduet dengan center back Timnas Indonesia Charis Yulianto.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Simamaung Video & Photo Persib (@simamaungcom) on

Selama dua musim membela Persib, Toyo mampu mencatatkan dua gol. Gol terakhirnya untuk Maung Bandung ia lesakkan ke gawang PSIM Yogyakarta pada 2 Mei 2006. Saat itu, Persib membutuhkan kemenangan untuk terhindar dari ancaman degradasi di Stadion Siliwangi.

Gol ini tercipta tidak lepas dari andil Eka Ramdani yang dilanggar bek asing PSIM Cesar Bravo di kotak terlarang. Menit 71 Toyo Antonio Claudio sukses menjalankan eksekusi penalti menaklukkan penjaga gawang Prasetyo Sugianto. Keunggulan Persib tidak mampu dipertahankan, Toyo cs. kebobolan di menit akhir (80′) lewat aksi Michel Adolfo menggetarkan gawang Persib yang dikawal Edy Kurnia. Skor menjadi 1-1, bertahan hingga pertandingan usai.

Berdasarkan catatan yang dihimpun SIMAMAUNG, laga tersebut merupakan pertandingan ke-100 Persib yang dibobol satu gol oleh lawannya di kompetisi. Hasil itu pula merupakan hasil imbang ke-90 kali yang dijalani Persib selama berkompetisi di Liga Indonesia sejak musim 1994/95.

Lanjut Membaca

Trending