Ferdinand Sinaga, Pituin Cicalengka dengan Naluri Pengembara

Medio pertengahan 2000-an ada seorang anak muda di tim junior Persib Bandung dengan karakter permainan yang unik. Pemain dengan posisi sebagai penyerang ini punya kecepatan dan bermental petarung, ngotot di lapangan untuk meraih kemenangan, tipikal yang jarang ditemui striker lain dari Kota Kembang. Bocah dengan kepala plontos tersebut bernama Ferdinand Alfred Sinaga. Memang seperti pada pituin pada umumnya, membela Persib tentu menjadi cita-cita jika berkarir sebagai pesepakbola. Mimpi itu juga dilambungkan oleh Ferdinand untuk menjadi bagian dari tim Maung Bandung. Namun warisan naluri pengembara dari kedua orang tuanya yang berasal dari suku Batak menurun padanya hingga dia memutuskan merantau dulu sebelum akhirnya bisa berseragam Persib. Perantauan lantas membentuk jati diri Ferdinand Sinaga dan membuatnya kini menjadi striker top flight milik Indonesia. Seorang ‘bad boy’ dari Cicalengka yang tidak punya kisah romantis seperti layaknya pemain-pemain dengan gelar one man one club. Tapi meski belasan klub pernah disinggahi, dia selalu meninggalkan kesan yang positif dan Ferdinand menuliskan kisah indah menurut versinya sendiri. “Saya memang di rumah juga orang Batak, orang tua asli Medan jadi punya karakter pejuang yang betul-betul, yang keras, dan kalau merantau jangan tanggung-tanggung. Jadi pokoknya apa yang kita punya ya dikeluarkan semua,” ungkap top skorer Asian Games Incheon 2014 itu kepada Simamaung. Karakter yang sudah diwariskan dari kedua orang tuanya itu membuat pemain kelahiran Bengkulu ini berani merantau. Tujuannya untuk menempa mentalitas dia saat berada jauh dari keluarga. Baginya pengembaraan dan membela sejumlah klub di luar kota sangat penting dalam proses pembentukan sisi mentalitas pesepakbola. “Itu (merantau) sangat penting lah kalau saya bisa bilang, sangat penting sekali karena kita menguji mental kita di luar, di kampung orang. Bagaimana kita bisa berbuat sesuatu yang positif untuk membawa tim dengan lebih baik dengan menunjukkan karakter kita, kualitas kita tanpa ada rasa segan,” ujarnya. Uniknya Ferdinand punya catatan doyan gonta-ganti klub di karir profesionalnya, setidaknya dari musim 2007 hingga 2015. Mulai dari Persibat Batang hingga PSM, dia sudah membela sepuluh tim dan setiap musim berganti kostum. Ada alasan kenapa ayah tiga anak tersebut memutuskan untuk melanglang buana ke berbagai tim mulai dari pulau Sumatera hingga Papua. “Kalau saya satu tahun satu tim, karena itu menurut saya untuk menguji mental saya dan itu untuk mempertebal itu di setiap pertandingan. Jadi di setiap tim saya harus siap mencari lagi tantangan baru, lebih siap lagi. Di satu tim menempa lalu ke tim lainnya menguji lagi tetapi tetap berusaha memberikan yang positif,” jelasnya. Baginya, merantau ke tim luar kota penting dilakukan oleh pemain khususnya para pituin. Lantaran untuk menembus tim utama Persib bukan hal yang mudah dan butuh mentalitas yang kuat ketika membela tim dengan nama besar. Sehingga dibutuhkan pengalaman agar mendapat menit bermain dan caranya adalah berani mengembara. “Banyak pemain-pemain yang ada di Bandung itu kalau masih muda lebih bagus keluar dulu. Karena tidak semua pemain, dengan usia yang muda itu bisa bermain di tim besar, tidak mudah mengambil tempat di tim besar pada usia muda jika melihat jamannya saya dulu waktu saya masih muda,” jelasnya. Pemain kelahiran 18 September 1988 ini tumbuh di Cicalengka, Kecamatan di Kabupaten Bandung. Karir sepakbolanya diawali dari SSB Gerak Alaska lalu hijrah ke Saswco di Rancaekek. Lalu namanya bersinar hingga terpilih Persib U-15, Persib U-18, Persib U-23 serta tim Kota Bandung pada ajang Porprov. Sempat ditawari untuk magang di tim utama, tapi Ferdinand menolak dan memutuskan untuk berkelana. “Ditawari untuk magang (di Persib) tapi ceuk saya teh lebih baik saya keluar lah cari pengalaman. Nanti kalau sudah siap mental dan segala macam baru nanti sudah saatnya saya kembali. Habis dari situ baru mulai nih mengembara tahun 2007,” kenang pria berusia 32 tahun tersebut menjelaskan. Persibat Batang, Persikab Kabupaten Bandung, Pelita Jaya U-21 dan PPSM Magelang dibelanya sebelum akhirnya mendapat kesempatan bermain di Liga Super Indonesia. Musim pertama dia bermain di kompetisi kasta tertinggi terjadi di musim 2010/2011. Saat itu Suharno mengajaknya untuk menjadi anggota skuat Persiwa Wamena. “Saya waktu ditawari ke Wamena itu ga ada pikir panjang. Padahal waktu itu saya ditawari ke Wamena itu ‘Ayo main sama bapak ke Wamena tapi dengan status bukan pemain inti’ karena di posisi saya itu dulu ada Erick Weeks, Boakay Edi Foaday sama Peter Rumaropen. Jadi dari tiga pemain itu ada yang tidak main, saya yang bisa menambal mereka. Tapi dengan berjalannya waktu Puji Tuhan saya setiap penampilan uji coba dikasih kesempatan main dan menunjukkan kualitas, malah jadi pemain inti terus,” ujarnya. Setelah itu karirnya berlanjut dengan membela Semen Padang untuk kompetisi Indonesia Premier League 2012 dengan predikat juara dan top skorer. Kemudian Persisam Samarinda dibelanya pada musim 2013 sebelum akhirnya pulang ke Persib di musim 2014. Kepulangan pun berbuah manis, Ferdinand menjadi pemain terbaik dan membawa Maung Bandung menuntaskan dahaga gelar selama 19 tahun. Namun tidak sampai di situ, Ferdinand hanya bertahan satu musim sebelum memilih hengkang ke Sriwijaya FC pada tahun 2015. Tapi kompetisi dihentikan dan dia berganti kostum untuk membela PSM Makassar. Baru bersama tim berjuluk Juku Eta tersebut pemain kidal ini berlabuh dalam kurun waktu yang lama. Banyak sosok yang berjasa di karir pemilik 11 gol bersama Persib di musim 2014 ini. Namun nama Lukas Tumbuan tentu jadi nama yang ada di urutan atas figur yang membuat Ferdinand bisa jadi seperti sekarang. Karena Lukas yang mengasuhnya di usia muda dan juga mengajaknya merantau membela Persibat Batang pada musim 2007. “Pak Lukas (Tumbuan) karena Pak Lukas ini kan mengenal saya dari kecil. Yang berperan waktu itu kan Pak Lukas. Waktu kecil dua pelatih yang dekat sama saya yaitu Pak Ronny Remon sama Pak Lukas. Dan Pak Lukas yang selalu membawa saya untuk latihan dari Cicalengka dan pergi ke kota Bandung untuk latihan sama pemain-pemain yang luar biasa waktu itu,” tuturnya. Karakter keras dari Lukas Tumbuan juga yang membuat Ferdinand punya mental yang kuat saat sudah berkarir profesional. Bahkan dia pernah ditampar oleh pelatih PON Jawa Barat 2016 itu di masa kecilnya ketika melakukan kesalahan. Namun justru dari kejadian itu dia terpacu untuk bisa sukses sebagai pesepakbola profesional. “Keras sekali, untuk saya dia itu keras lah tapi kerasnya dalam artian untuk membangun seorang pemain, bukan menjatuhkan seorang pemain. (Insiden ditampar) … Continue reading Ferdinand Sinaga, Pituin Cicalengka dengan Naluri Pengembara