Connect with us

Breaking News

Bagaimana Futsal dan Perantauan Mempengaruhi Karakter Abdul Aziz

Published

on

Abdul Aziz, Bandung,2021

Tak banyak pemain futsal profesional di Indonesia, yang mendapatkan tempat bermain di klub kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Abdul Aziz gelandang Persib mencerminkan itu, bagaimana futsal mempengaruhi sisi permainannya. Ia padukan teknik dan cara berpikir bermain futsal ke dalam sepakbola sebagai kombinasi jadi karakter permainannya.

Persib adalah impian, namun tak seluruh pemimpi bisa mewujudkan itu. Skuat Persib selalu diisi pemain berlabel bintang, dan berpengalaman. Mereka yang coba mengemban ekspektasi besar manajamen dan Bobotoh. Tak ada tempat yang luas untuk pemain muda, setidaknya sampai generasi Febri Hariyadi dengan regulasi liga mendobraknya.

Bila membicarakan Febri ia adalah contoh pituin yang mulus dari seorang pemimpi, kita lupakan sementara Bow karena banyak kisah pituin yang tak seberuntungnya. Ada yang harus pergi merantau mengembara, menelan pahit mengecap manis, mencari jati diri permainan, berharap dilirik klub kebanggaan.

Abdul Aziz adalah salah satu pituin pengembara yang mendapat jalan pulang dari perantauannya di luar Bandung. Ia justru dikenal pertama kali sebagai seorang profesional saat menekuni dunia futsal tahun 2012. Berawal dari kegagalan masuk skuat tim sepakbola PON Jabar.

“Justru pertama kali dikenal pemain futsal profesional dulu, tahun 2012 di Futsal Kota Bandung. Memang awalnya dari kecil sepakbola SSB di Produta mulai kelas 4 SD, dari situ bertahap masuk Persib U-15 Haornas, terus masuk U-17 dan tahun 2012 masuk Persib U-21,” Aziz bercerita.

Saat hendak menjadi bagian tim sepakbola PON Jabar 2012, Aziz mengalami sakit sampai tercoret dari tim. Di sana pelatih futsal PON Jabar Panca Fauzi melihat peluang memasukkan nama Aziz ke dalam skuatnya. Aziz dan kolega gagal bawa pulang medali, mereka terhenti di semi final. Ketika perebutan medali perunggu pun dikalahkan Kalimantan Selatan.

“Waktu itu beres Persib U-21 ada PON kan, Aziz ikut PON sepakbola awalnya, latihan sehari tiga kali Aziz di situ sempet sakit. Sudah aja enggak lanjut ke PON sepakbola di situ ada tawaran ke PON futsal tawaran dari coach Panca ditawarin, mau engga ikutan PON futsal sekalian ada liganya gabung Futsal Kota Bandung (FKB), di situ awalnya ikutan futsal profesional,” tuturnya.

Abdul Aziz dalam tim Diklat Persib uji coba melawan PBR U21, Bandung, 2013

Tahun 2013 pasca dari FKB, Abdul Aziz kembali ke sepakbola gabung Persib U-21. Ia pula merupakan angkatan pertama generasi Diklat Persib bersama Febri Hariyadi, Gian Zola, Hanif Sjahbandi, Ahmad Baasith, dan Henhen Herdiana. Ingin menembus skuat senior demi memenuhi cita-cita jadi pesepakbola profesional, Aziz memutuskan pergi merantau saat usia 20 tahun ke Sumatera Barat gabung Semen Padang U-21 awal musim 2015.

Ia tahu diri level permainannya belum mampu memikat pelatih Djadjang Nurdjaman yang baru sukses juara Indonesia Super League (ISL) 2014. Ada standar tinggi di Persib saat itu, dimana klub memulangkan pituin asal Jatinangor, Dedi Kusnandar, setelah merantau ke Jawa Timur.

“Walau masih level tim junior itu kesempatan bagus ada tim yang mau Aziz di luar Persib, dan buat mematangkan diri. Pada saat itu momennya pas aja sudah enggak terikat kontrak dengan Diklat Persib, terus ada tim yang benar-benar serius. Waktu itu juga kan komposisi pemain di Bandung (senior) bagus, jadi beres juara 2014 mau juara lagi 2015 makanya manggil-manggil pemain dari luar,” papar Aziz.

Musim 2015 tak sesuai rencana, persimpangan jalan bagi Aziz. PSSI dibekukan FIFA atas dampak perseturuan dengan Kemenpora. Jangankan ISL U-21 digelar, kompetisi yang baru dilaksanakan dua pertandingan saja dibatalkan. Nasib pemain saat itu terkatung-katung, Aziz memilih pulang.

Ia mencari peruntungan lain menjalani karier profesional kembali ke liga futsal. Bagai gayung menyambut, klub futsal Libido mengontraknya. Aziz tak perlu beradaptasi lama karena ia pernah bermain untuk FKB 2012-2013. Ia diakui sebagai pemain potensial dan mendapatkan eksposur tinggi di lingkungannya.

Karier Aziz terus menanjak di futsal, seakan sudah mengukuhkan diri menjadi pemain elit di futsal Indonesia. Ketika keyakinannya kukuh untuk fokus di dunia futsal profesional nasib menampiknya. Ia kembali digoda ke dunia sepakbola. Adalah mantan pelatihnya di Diklat Persib Jaino Matos mengajak Aziz gabung Persiba menjalani musim Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016. Perantauan berlanjut.

“Sempat enggak percaya waktu itu tahun 2016 Aziz masih di liga futsal, Aziz sempet enggak pernah latihan sepakbola di lapangn besar, lama banget, tiba-tiba ada coach Jaino yang ngajak saya main di Balikpapan,” kenangnya.

“Aziz Langsung mengiyakan karena dulu pernah mengecewakan beliau waktu di diklat. Berpikir juga ini kesempatan enggak akan datang dua kali terus Aziz bicara baik-baik sama manajemen Libido dan setuju,” tambah pemain bernomor punggung 8 ini.

Abdul Aziz, Bandung, 2021

Dalam benak Aziz, seperti mendapat panggilan takdir untuk mengambil mewujudkan mimpi. Ia memenuhi panggilan Jaino Matos walau terlebih dahulu seleksi. Hal yang tidak terkira secara bersamaan ia pula mendapat panggilan gabung Timnas Futsal di ajang Piala AFF 2016, lantas ia menolaknya karena sudah terlanjur di tanah perantauan.

Secara resmi Aziz diperkenalkan Persiba. Hari demi hari dilalui, di Balikpapan, kota yang perlahan mengakrabi dirinya. “Intinya harus cepat bisa adapatasi, untungnya dibantu dengan banyak teman-teman dari Bandung juga waktu di Balikpapan. Pelatih juga sudah kenal jadi enak adaptasi enggak terlalu sulit jadi adaptasi faktor penting,” katanya.

Bima Sakti adalah senior yang membimbing Aziz sebagai atlet profesional. Ia menunjukkan kepada Aziz bagaimana etos kerja yang baik, berperilaku di dalam dan di luar lapangan, termasuk bagaimana ia harus berperilaku kepada media dan supporter.

Panggilan tim sepakbola PON Jabar di tahun tersebut (2016) juga membantunya menaikkan popularitas di atas panggung sepakbola Bandung. Medali emas disumbangkan, ia adalah pemimpin di lapangan, kapten yang dipercaya rekan-rekannya seperti Febri, Zola, Erwin Ramdani, M Natshir, dan Heri Susanto melangkah maju.

Semusim tak cukup, tantangan semakin besar ia justru menyebrang ke tim rival sekota Balikpapan yakni Borneo FC. Sang pemilik klub, Nabil Husein, percaya akan potensi kemampuannya membawa lebih baik Pesut Etam di kompetisi resmi Liga 1 2017. Cemerlang di awal musim dengan membawa tim oranye ke final Piala Presiden, Aziz justru mendapat kesulitan di sana.

Berbeda sentuhan taktik Ricki Nelson dan Iwan Setiawan, Aziz kerap dibangkucadangkan, bahkan sampai tak masuk daftar susunan pemain. Masa-masa sulit sang gelandang sepanjang kariernya. Ia pula sempat dipinjamkan ke klub Liga 2 757 Kepri Jaya yang diarsiteki pelatih terdahulunya, Jaino Matos.

“Waktu itu pengalaman perantauan saya paling berat di Samarinda, awal-awal di Piala Presiden sempat juara dua bareng Borneo, tapi waktu liga di beberapa pertandingan enggak main pada saat itu. Ada kesempatan lain coach Jaino telepon saya, ia melatih di Kepri. Ia minta saya buat main di Kepri status pinjaman,” ungkapnya membeberkan.

Sejak saat itu Jaino disadari menjadi orang yang sangat berpengaruh menaikkan kembali kepercayaan bermain Aziz. Musim 2017 diselamatkan oleh menit bermain yang diberikan Jaino di Kepri Jaya. Selesai masa pinjaman kembali ke tubuh Borneo FC, Aziz mendapatkan kabar untuk melakukan negosiasi dengan tim promosi, PSMS Medan.

Aziz (berkostum PSMS) tampil melawan Persib, Bali, 2018

Djadjang Nurdjaman yang merupakan legenda Persib, menghubunginya secara langsung menyatakan keinginan untuk menjadikannya salah satu kerangka kekuatan Ayam Kinantan di Liga 1 2018. Aziz tak sendiri, lantaran ada pemain asal Bandung lainnya yang dikabarkan akan merapat. Setelah Suhandi, ada Erwin Ramdani, serta Jajang Sukmara masuk dalam proyeksi.

“Awalnya ada beberapa tim yang nawarin ke Aziz namun yang benar-benar serius Medan karena pelatihnya coach Djanur langsung telepon Aziz. Enggak pikir panjang langsung terima saja main di sana, biasanya kalau pelatih yang bawa Insya Allah ada ‘piriteun’ main,” ulasnya.

Musim yang tak kalah berat, perjuangan susah payah tak mampu menahan PSMS bertahan di kasta tertinggi, Medan terdegradasi. Tapi justru di sana Aziz mendapatkan kembali sentuhan permainan terbaiknya. Persib mulai berengosiasi memulangkan Aziz ke tanah kelahirannya. Walau sempat berat akan resiko bermain untuk klub besar kebanggaan Bobotoh, ia memberanikan diri menyetujui pinangan Persib.

Di tanah orang lain, mental perantauan Aziz selama empat tahun dipetik hasilnya. Ia tahu bagaimana menempatkan diri, bersaing di level teratas, dan banyak pelajaran yang diambil dari para seniornya, seperti Bima Sakti, Ponaryo Astaman, dan Legimin Raharjo.

“Sangat berpengaruh sudah lama di luar, pas main di Bandung Alhamdulillah banyak tanggapan positif. Akan beda kalau Aziz enggak merantau, mungkin mental Aziz enggak akan keuji. Beruntung dapat pelajaran dari beberapa senior karena seringnya pindah-pindah tim. Misal di Balikpapan ada Mas Bima yang selalu kasih motivasi saya, di Borneo semusim sekamar sama bang Ponaryo yang kasih bekal buat saya, Bang Legimin waktu di Medan berpengaruh buat saya,” simpulnya.

Ia memetik manfaat dan merasa terbantu bisa merantau dan mencicipi futsal profesional. Selain menimba pengalaman selama mengembara, dunia futsal membantu ia menemukan karakter permainan sebagai gelandang. Sering banyak menyentuh bola di futsal membawa pengaruh terhadap olah bola yang bisa diaplikasikan di sepakbola.

“Dulu Aziz sering dilarang sama pelatih di SSB, karena SMA Aziz jarang sekali latihan main bola, futsal terus. Dimarahin karena nanti katanya hilang sentuhan di sepakbola, kontrol beda, terus pandangannya sempit kalau di futsal, tapi Aziz selalu berontak melawan, menurut Aziz bagus kok (bisa diambil hal positifnya),” paparnya.

Futsal pula dituntut selalu berpikir cepat dalam pandangan yang sempit. Saat diaplikasikan di sepakbola–dengan pandangan lebih luas–Aziz sesekali bisa keluar dalam situasi permainan kecil untuk mengubah arah ke sisi permainan lainnya.

“Karena di futsal kita dituntut berpikir lebih cepat, bergerak lebih cepat terus di futsal lebih banyak menyentuh bola juga, ketika bermain di lapangan sepakbola kita ngerasa percaya diri karena sering menyentuh bola,” jelasnya.

Ditulis oleh Adil Nursalam, jurnalis Simamaung, berakun Twitter @yasseradil dan Instagram @yasser_adil.

Advertisement
Mangga Komentar di Dieu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Persib

Riwayat Cedera Rezaldi Hehanusa, dan Kondisinya Kini

Avatar photo

Published

on


Pada transfer windows tengah musim Liga 1 2022/2023 ini Persib Bandung berhasil mendaratkan bek kiri dari tim rival Persija Jakarta. Sosok bek kiri yang dibutuhkan Luis Milla itu adalah Rezaldi Hehanusa. Seorang pemain yang pernah membela Timnas Indonesia, namun minim menit bermain musim ini.

Setelah ditelusuri, riwayat cedera Rezaldi selama membela klub ibu kota bisa dibilang parah. Ia pernah didiagnosa mengalami cedera lutut pada dua kakinya pada musim musim 2018 dan menjalani operasi 2019. Tak sampai di situ, ia pula cedera panjang pada Liga 1 2021-2022 musim lalu karen gangguan tendon achilles.

Pada tahun tersebut ia mengakhiri musim lebih cepat pasca melewatkan 13 pertandingan Persija. Setelah sembuh, di Liga 1 2022-2023 ini ia masih perlu meningkatkan rasa percaya dirinya karena belum mampu menembus tim inti arahan Thomas Doll saat di Persija.

“Kalau kondisi sekarang saya Alhamdulillah saya sudah pulih dan saya sudah merasa enak, sudah merasa lebih nyaman dari kondisi sebelumnya. Setelah operasi itu saya lebih nyaman,” kata Rizaldi.

“Sekarang—karena ketika sebelum operasi itu saya menahan nyeri hampir lama—sebelum liga beres 2018 itu saya sudah menahan nyeri. Sekarang saya sudah lebih plong saja sih,” paparnya.

Ia menceritakan bahwa cedera yang sempat ia alami karena adanya tulang tumbuh pada bagian dekat tumit. Pasca operasi dan penyembuhan kini ia semakin nyaman saat bermain. “Cedera saya itu ada tulang tumbuh di bagian dekat tumit dan sejauh ini enggak ada masalah sih Alhamdulillah,” terangnya.

Rizaldi pun diketahui telah lolos tes kesehatan yang dilakukannya pada Sabtu (28/1/2023) pagi ditangani oleh tim medis Persib. “Tes kesehatan berjalan dengan lancar, tadi semua dicek dari mulai atas sampai bawah sama bang Beni (fisioterapi Persib) gimana kondisi saya sekarang. Bang Beni bilang bagus,” urainya.

Lanjut Membaca

Berita Persib

Luis Milla Upayakan Rezaldi Hehanusa Siap Berlaga

Avatar photo

Published

on


Merampungkan proses transfer dari Persija Jakarta pada Kamis (26/1/2023), Rezaldi Hehanusa langsung bertolak ke Bandung dan bergabung latihan pertama kalinya dengan klub barunya Persib. Rezaldi sudah mengikuti latihan di bawah arahan Luis Milla, Sabtu (28/1/2023), di Stadion Siliwangi, guna mempersiapkan laga lanjutan Liga 1 2022-2023.

Sambutan hangat diterimanya dari Bobotoh yang datang di stadion juga rekan-rekan barunya di Persib. Milla mengamati kondisi pemain yang akrab disapa Bule ini cukup baik, namun ia masih perlu menumbuhkan rasa percaya dirinya karena jarang bermain di Persija.

“Bagus, sejauh ini dia masih berlatih bersama Persija meski tidak cukup banyak menit bermain dan butuh menumbuhkan lagi kepercayaan dirinya,” kata Luis Milla dalam sesi wawancara usai latihan.

Pada putaran pertama Liga 1 2022-2023, Rezaldi tercatat hanya bermain dalam empat pertandingan. Masuk sebagai pemain pengganti melawan Bali United, PS Barito Putera, dan Dewa United, dan bermain sebagai starter di laga kontra PSS Sleman.

Poin plus yang bisa didapat Luis Milla dengan perekrutan pemain berposisi wing back kiri ini, adalah karena Rezaldi telah mengetahui gaya bermain yang ia inginkan. “Tapi dia sudah tahu karakter bermain saya, gaya permainan yang saya terapkan dan tahu apa yang harus dikerjakan,” sebut Milla.

Baik Milla dan Rezaldi, keduanya sama-sama sudah pernah bekerja saat era kepelatihan sang entrenador di Timnas Indonesia tahun 2017-2018. Sayap kiri Timnas kala itu dijamin oleh duet Rezaldi dan Febri Hariyadi.

Milla akan mengupayakan Rezaldi bisa mulai bermain di pertandingan terdekat kontra PSIS Semarang, Selasa (31/1/2023). Ia harus mampu cepat beradaptasi dengan suasana tim dan rekan-rekan baru yang telah ada.

“Tapi untuk saat ini secara perlahan dia diupayakan bisa membantu kami dan bisa mulai bermain. Yang pertama harus dilakukannya adalah beradaptasi dengan rekan satu timnya yang baru,” paparnya.

Lanjut Membaca

Berita Persib

Milla Sebut Kehadiran Rezaldi Hehanusa Sempurna untuk Tim

Avatar photo

Published

on

Rezaldi Hehanusa melakukan latihan perdana bersama klub barunya Persib Bandung pada Sabtu (28/1/2023) sore, di Stadion Siliwangi Bandung. Rezaldi mendapat sambutan hangat dari pemain-pemain Persib, tak terkecuali pelatih Luis Milla yang langsung memimpin latihan tim.

Kini Luis Milla menatap optimistis sisa pertandingan Liga 1 2022/2023. Kehadiran Rezaldi akan menambal kelemahan Persib di bek sayap kiri pasca kehilangan Zalnando dan David Kevin Rumakiek karena cedera yang membutuhkan waktu pemulihan panjang.

“Ya ini latihan pertama setelah pertandingan dan saya tahu klub mendatangkan Rezaldi. Saya sangat senang dengan situasi ini karena situasi yang dialami tim ada beberapa pemain yang menderita cedera dan kami butuh satu pemain di posisi bek kiri,” kata Milla.

Kehadiran Rezaldi membuat skuad arahan pelatih asal Spanyol itu sempurna. Milla tahu apa yang akan dilakukannya ke depan, ia akan memoles tim ini untuk bisa konsisten mempertahankan tren positif di 12 laga.

Seperti apa yang ia janjikan Milla akan berusaha membuat Persib tetap kompetitif di putaran kedua kompetisi. Mempertahankan posisi puncak klasemen dan mengangkat piala pada akhir musim.

“Kami butuh pemain tersebut untuk mengarungi liga dalam tiga bulan ke depan dan bagi saya ini sempurna. Tim ini sudah cukup untuk bersaing hingga akhir,” sebutnya.

Lanjut Membaca
Advertisement

Advertisement

Komentar Bobotoh

Arsip

Trending