Connect with us

Arena Bobotoh

(Arena Bobotoh) Kartu Kuning dan Gelagat Frustasi Ezechiel N’Douasel

Published

on


Sejauh ini, ada dua pemain yang paling banyak mengoleksi kartu kuning untuk Persib Bandung pada Liga 1 2019, yakni Achmad Jufriyanto dengan koleksi 8 kartu kuning dan Ezechiel N’Douasel berjumlah 9 kartu kuning.

Nama terakhir menjadi menarik karena Eze–sapaan karib Ezechiel N’Douasel–merupakan seorang striker. Cukup beruntung, catatan 9 kartu kuning sang penyerang diimbangi dengan torehan golnya yang juga berada di angka 9. Eze pun menjadi pencetak gol paling banyak untuk Persib bersama Febri Hariyadi hingga pekan ke-27 Liga 1 2019.

Ada fakta unik mengenai 9 kartu kuning yang diperoleh oleh Eze. Pertama, 7 -kartu kuning yang dikoleksi Eze lahir pada babak kedua dan 2 sisanya pada babak pertama. Hal tersebut jika ditarik pada tugas Eze sebagai penyerang, mengindikasikan sang striker menunjukkan gelagat frustasi karena sukar untuk mencetak gol ke gawang lawan di babak pertama.

Fakta kedua dan mempertebal indikasi Eze frustasi karena susah membobol gawang lawan, diaktualisasikan olehnya dengan melakukan diving untuk mencari penalti; 3 kartu kuning yang didapatnya karena ‘ulah’ divingnya tersebut. Tercatat, ia melakukan diving dan berbuah kartu kuning ketika melawan Persipura (menit 54), Tira Persikabo (menit 73), dan Madura United (menit 71), ketiga pertandingan tersebut Persib bertindak sebagai tuan rumah.

Berbicara mengenai sisa kartu kuning yang dikoleksi Eze pun sebenarnya mubazir. 3 kartu kuning didapatnya karena bersitegang dengan pemain lain (Semen Padang, Persija dan Madura United), satu protes ke wasit (Bali United) dan dua lainnya karena ia melanggar pemain lawan, yakni Mark Klok (PSM) dan Joko Ribowo (PSIS).

Fakta di atas berbanding lurus dengan catatan gol Eze selama ia mendapat kartu kuning dari 9 pertandingan berbeda. Dari 9 pertandingan tersebut, penyerang asal Chad hanya mampu mencetak 3 gol, satu di antaranya lewat tendangan penalti.

Seiring dengan buruknya penampilan Eze, buruk pula posisi Persib di klasemen sementara Liga 1 pada putaran pertama.

Namun, sedikit demi sedikit watak Eze yang cenderung gampang frustasi mulai membaik ketika memasuki putaran kedua. Hanya 2 kartu kuning (lawan Madura United dan PSIS) yang didapatinya ketika memasuki putaran kedua, dari total 9 kartu kuning yang dikantonginya.

Baiknya kelakuan Eze di tengah lapangan pada putaran kedua sejalan dengan pencapainnya dalam mencetak gol. Setidaknya, dari 6 kali bermain di putaran kedua, sang penyerang sudah mengemas 5 gol.

Angka ini berbeda dengan kiprahnya di putaran pertama, pada 14 kali kesempatan bermain, Eze hanya mampu mencetak 4 gol.

Gelagat frustasi yang menghasilkan banjir kartu kuning untuk Eze pada putaran pertama memang tidak sepenuhnya karena kesalahan ia seorang. Banyak faktor yang melatarbelakanginnya, semisal teman duet di lini depan yang sering berganti-ganti dan pelatih kepala Robert Alberts yang belum menemukan formula tepat di dimensi tengah Persib. Dua hal tersebut yang sering membuat Eze mencari bola ke tengah dan seakan bertarung sendiri di depan.

Memasuki putaran kedua dan masuknya 3 penggawa asing baru, membuat Eze menemukan partner di depan, bersama Kevin Kippersluis. Serta lini tengah Maung Bandung yang kian solid dengan duet Omid Nazari dan Abdul Aziz. Membuat Eze tak perlu repot untuk mencari bola jauh ke belakang.

Selain itu, hadirnya pemain baru membuat permainan Persib membaik dan sejalan dengan membaiknya penampilan Eze di tengah lapangan. Pemain yang dijuluki ‘King’ ini mulai menunjukkan sikap dewasa dan mengurangi bahasa tubuh yang bisa menyebabkan ia diganjar kartu kuning ketika bertanding.

Persib pun pelan tapi pasti mulai menemukan penampilan konsisten pada putaran kedua, setidaknya sejauh ini dari 9 pertandingan, Maung Bandung berhasil 5 kali menang, 3 kali imbang dan hanya sekali menelam kekalahan.

Ditulis oleh Insan Fazrul Bobotoh ganteng yang sedang mencari teman hidup. Aktif dengan akun Twitter @insan_fazrul

Advertisement
1 Komentar

1 Comment

  1. Persib laah

    10/11/2019 at 06:43

    Maksudna eze teu salah2 teuing.., beban terlalu berat trus kondisi tim blm normal, panyakit aya di minijimin atuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Arena Bobotoh

Menanti Skenario Blitzkrieg Gagal Total di GBLA

Published

on


Jika dalam Madilog, Tan Malaka menuliskan pengurangan fetisisme terhadap sandang dan makanan demi makmurnya dunia pustaka. Maka yang terjadi di ruang lingkup bobotoh dua minggu belakangan ini, terlalu jauh dengan yang Tan sampaikan dalam magnum opus-nya tersebut. Terutama tentang perjuangan bobotoh, berburu tiket pertandingan kontra Persija.

Di tengah melambungnya harga BBM dan bahan pokok yang kian mencekik. Belum lagi ancaman resesi ekonomi di beberapa negara. Magnet pertandingan Minggu sore nanti, terlampau istimewa bagi mereka yang rela menyimak layar ponselnya, menjaga koneksi, serta mengisi dompet digitalnya. Tentu saja hal ini berkaitan dengan upaya tak ketinggalan momen langka satu tahun sekali.

Sepak bola mampu menjadi candu bagi penggemarnya. Bahaya laten hal ini, tentu disenangi para kapital sebagai pemilik modal dari klub tercinta. Di tangan mereka harga tiket bisa naik kapan pun mereka mau. Sistem apa pun bisa dikemas sesukanya. Pada akhirnya, sepak bola kian asing. Menjumpainya hanya bisa diakses secara langsung oleh mereka yang berfinansial mapan.

Akan tetapi, momen Minggu sore ini adalah pengecualian. Semua pandangan kabur sesaat. Tak sedikit mereka yang hadir ke stadion, telah melewatkan hasrat jajannya, mengganti merek rokok, hingga bekerja lebih giat demi menjamin ketersediaan bekal hingga pertandingan usai. Baik untuk mereka yang membeli tiket secara online, maupun hasil muntahan lintah berdalih gagal nyetadion.

Bagaimana dengan yang memilih boikot? Kemewahan tertinggi yang dimiliki golongan muda adalah idealisme. Bagi yang memilih boikot karena peristiwa 17 Juni silam, perjuangan kalian tak pernah sia-sia. Perbaikan yang perlahan muncul, mungkin hanya angan jika solidaritas dari kalian semua tak pernah terbentuk. Bertahanlah sekuatnya. Jangan lelah mengharap keadilan ‘kan ditegakkan.

Pertandingan Spesial
Banyak yang berubah selepas 90 menit jalannya pertandingan. Perasaan murung yang sedang menyelimuti, seketika berubah menjadi gembira tatkala Persib berhasil menang di akhir laga. Siapa pun boleh bersuka cita. Setiap kemenangan yang Persib raih, usianya tak mentok saat itu saja. Melainkan, terus berulang hingga keesokan harinya. Baik di kantor, sekolah-sekolah, bahkan warung di tepian.

Hal ini turut berlaku pada pertandingan kontra Persija. Laga ini selalu spesial, minimal bagi saya, pun bagi siapa pun yang belum pernah menyaksikan Piala Perserikatan secara langsung. Jujur saja, momen melawan Persija akan selalu menyajikan energi lebih bagi saya. Segala cara dan upaya dikerahkan. Semata-mata agar Persib mampu mempecundangi Persija dari berbagai lini.

Betapa berwarnanya melihat perkembangan linimasa hampir dua minggu terakhir. Setiap orang, baik mewakili kubu Persib maupun Persija, bertarung di segala medan. Kedua tim memainkan psikis dan saling menjatuhkan mental lewat sajian audio visual. Sedangkan kedua pendukung kesebelasan, saling membuka arsip, beradu data, serta mengulas kejadian-kejadian kontroversial yang pernah terjadi.
Salah besar jika menganggap apa yang terjadi dua minggu ini tak berpengaruh. Sekecil apa pun yang kalian perbuat, hal tersebut akan mencapai puncaknya di hari pertandingan. Hasil yang kalian dapat hari ini, merupakan aktualisasi dari akumulasi kejadian yang ada di masa lampau. Hal ini juga yang membuat pertandingan kontra Persija selama lebih dari 20 tahun ini selalu menarik.

Namun tetap saja banyak hal yang disayangkan. Umpatan konyol berbau seksisme, pelecehan profesi, hingga rasialisme, adalah hal yang mestinya dienyahkan oleh pihak mana pun. Jika kita membiarkan kebiasaan tersebut berlangsung, secara tak langsung kita membiarkan generasi penerus mempertahankan kebodohan, dan menganggap aktualisasi buruk tempo ini adalah benar.

Jika di masa lampau Tan Malaka pernah menjadikan sepak bola sebagai alat perjuangan dalam merebut kemerdekaan. Maka kebencian-kebencian di level tertinggi, katakanlah membunuh manusia, adalah hal yang mesti dijadikan dosa terbesar dari pertandingan sepak bola. Semoga semua tetap dalam koridor yang wajar, saling mengingatkan, dan berkepala dingin dalam situasi panas sekali pun.

Berawal dari Adu Gengsi
Rivalitas antara Persib dan Persija, tak mungkin berawal dari masalah tiket semata. Oleh karenanya, saya meminjam sebuah pendekatan yang biasa dipakai oleh Karl Marx, yakni materialisme dialektika dan historis. Ketika menggunakan pendekatan ini, niscaya kita tak akan menganggap segala hal yang terjadi di dunia ini mengalir begitu saja. Melainkan dapat dibuktikan secara nyata dan faktual.

Akumulasi kebencian yang membuat banyak korban berjatuhan ini, jika ditelisik lebih jauh, bermula lebih dari 20 tahun yang lalu. Mendekati akhir 90’an, Persib banyak ditinggal oleh generasi emasnya. Alhasil prestasi dan kegemilangan Persib di era 80’an hingga pertengahan 90’an mulai sulit disamai oleh generasi penerus.

Di tempat lain, sejak tahun 1997, DKI Jakarta mulai dipimpin oleh gubernur baru bernama Sutiyoso. Di tangan Bang Yos, Persija banyak mendapat gelontoran dana fantastis dibandingkan klub-klub lainnya di Indonesia. Selain itu, di tahun saat Bang Yos menjadi gubernur, bersamaan pula dengan lahirnya Jakmania beserta re-branding Persija dari identitas merah ke oranye.

Hanya perlu empat tahun, sejak Bang Yos memimpin DKI Jakarta, Persija berhasil menjadi kampiun Liga Indonesia. Bagaimana dengan Persib? Di tahun yang sama sebenarnya pencapaian Persib tak buruk-buruk amat. Persib dan Persija sama-sama melaju ke babak delapan besar. Hanya saja, langkah Persib terhenti di fase gugur dan gagal melaju ke semifinal.

Lantas apa kaitannya rivalitas yang ada dengan kejadian-kejadian tersebut? Yang pasti, dari kejadian tersebut bisa dikatakan pendukung Persija perlahan meningkat, ditambah dengan dukungan dana fantastis, membuat mereka mampu terus-menerus membeli amunisi dengan nama mentereng. Sedangkan Persib, tahu sendiri di musim 2003 dan 2006 hampir menemui tahun sialnya.

Kisah yang berkembang terkait akar rivalitas bermula dari tiket tentu benar. Namun hal tersebut hanya permulaan dari rangkaian proses panjang yang membersamai bumbu rivalitas hingga saat ini. Di sinilah konsep dari dialektika berguna. Kita bisa melihat sintesis baru dari kejadian-kejadian tersebut, berupa Jakmania dan Persija muncul sebagai rival baru dari Persib, dan Viking Persib Club.

Adu Juru Taktik
Dilihat dari komposisi pemain dan juru racik kedua kesebelasan, sangat wajar jika pertandingan ini banyak dinantikan, bahkan oleh orang di luar pendukung kedua kesebelasan. Perbedaan signifikan dari internal skuat dua kesebelasan adalah waktu membersamai pelatih dengan tim yang dipimpin. Thomas Doll sejak pramusim, sedangkan Luis Milla masuk setelah musim berjalan.

Di pihak lawan, mungkin mereka optimis ketika melihat tabel klasemen. Namun jangan ke sampingkan statistik Persib yang berhasil sapu bersih tiga laga yang dimainkannya. Inilah yang bakal membuat pertandingan semakin menarik. Ditambah baik Milla dan Doll, keduanya hidup di era yang sama sebagai pemain, dan keduanya terlahir di tahun yang sama pula.

Kubu lawan baru saja melakukan serangan psikis. Doll berujar di kanal GOAL Indonesia jika dirinya berpengalaman dalam banyak pertandingan derbi. Baik itu sebagai pelatih di HSV dan BVB, maupun ketika bermain di Lazio. Namun sepertinya ada cacat pemahaman dari Doll terkait derbi yang dimaksud. Apakah benar dirinya menganggap pertemuan dua tim beda kota ini sebagai derbi?

Jika saya adalah Luis Milla, tentu saya akan tertawa dengan celotehan konyol dari Doll. Milla yang pernah bermain untuk dua klub papan atas Eropa, representasi kerajaan kontra wilayah otonom yang ingin referendum, mungkin hanya bisa tersenyum ketika mengulang-ngulang tayangan wawancara Doll bersama GOAL Indonesia yang tayang dua hari lalu.

Bermain di Camp Nou selama enam musim, sebelum berpindah ke kandang rivalnya, Santiago Bernabéu, merupakan pengalaman yang tak dimiliki banyak pemain. Milla pernah bermain peran di Barcelona dan Real Madrid sekaligus. Untuk kasus ini, rasanya tak perlu lagi kita mengajarkan kepada Milla harus berbuat apa. Mari tuntaskan pertandingan Minggu sore dengan mudah, señor!

Rizki Sanjaya, seorang manusia yang mengagungkan Persib setelah Allah juga Muhammad. Bisa ditemui di semua akun bernama @rizkimasbox.

Lanjut Membaca

Arena Bobotoh

Setelah Dihajar PSM, Apa yang Harus Dilakukan Luis Milla?

Published

on


Sebuah revelasi terhampar tatkala Persib Bandung dilumat habis oleh PSM Makassar dengan margin 4 gol. Komposisi pemain yang digaji sedemikian tinggi dan berlabel bintang dibuat tidak berdaya ketika harus bertandang ke Stadion Gelora B.J Habibie pada Senin, 29 Agustus, 2022. Rentetan hasil buruk yang membuat Robert Alberts dipecat berpotensi kembali menyeruak ke permukaan karena inkonsistensi Persib di bawah asuhan caretaker Budiman Yunus yang mencatatkan 2 kemenangan melawan PSIS Semarang (2-1) dan PSS (0-1), serta 2 kekalahan saat menghadapi juara bertahan Bali United (2-3) dan PSM (5-1).

Beruntung, dewi fortuna sedang memihak arsitek baru Febri Hariyadi dkk, Luis Milla Aspas, yang tiba-tiba mengalami demam sebelum pertandingan berlangsung. Sangat memalukan apabila debut pelatih asal Spanyol tersebut harus berakhir dengan kekalahan telak dari Yakob Sayuri dkk. Sang entrenador kelahiran Teruel, Spanyol ini baru akan menjalani debut saat Persib menghadapi RANS Nusantara pada Minggu, 4 September, 2022.

Bernardo Tavares, pelatih PSM Makassar asal Portugal, memang berbeda dengan mayoritas pelatih asing yang ada di Indonesia. Eks analisator pertandingan dari Real Madrid tersebut tidak hanya menitikberatkan dan mengandalkan sumbangsih dari pemain asing ataupun naturalisasi seperti yang dilakukan Robert Alberts, eks pelatih Persib sebelumnya, ataupun oleh banyak pelatih-pelatih asing lainnya. Pelatih kelahiran Proenca-a-Nova ini adalah seorang pelatih yang sanggup memberikan pemahaman-pemahaman tertentu kepada para pemainnya, tidak hanya sekadar bertumpu pada pemain asing, lalu setelah itu melepas tangan. Ia bahkan sukses memandu dan memberikan instruksi-instruksi jitu kepada para pemain asli Makassar ataupun pemain muda binaan klub seperti Agung Mannan (bek tengah), Muhammad Arfan (gelandang bertahan), Ananda Raehan (gelandang bertahan), dan Dzakry Asaf (pemain sayap) yang tampil penuh semangat saat hendak mengimplementasikan sepak bola dengan intense pressing yang dikehendaki oleh Tavares.

Sederet pemain muda PSM lainnya juga tampil gigih dan menjadi “hulubalang-hulubalang” yang luar biasa bagi seorang Wiljan Pluim, maestro asal Negeri Kincir Angin yang juga sekaligus menjabat sebagai kapten di tim berjuluk Juku Eja tersebut. Mereka berlari, menekan, membuka ruang, dan dengan cekatan mengkreasikan banyak peluang dari berbagai zona, termasuk skema tendangan jarak jauh yang dilakukan oleh Yakob Sayuri dan berbuah 2 gol. Pemain sayap asal Kabupaten Yapen, Provinsi Papua tersebut, sukses mengeksploitasi kelengahan Persib di sektor bek sayap kanan yang ditempati oleh Bayu Fiqri. Kedua gol yang ia catatkan lahir di menit-menit awal pertandingan, yaitu di menit ke-2 babak pertama dan di menit ke-6 babak kedua.

Kendati tidak bisa tampil dengan Everton Nascimento, striker asal Brazil yang performanya sedang diapresiasi oleh banyak netizen sepak bola di Indonesia saat ini bersama Matheus Pato dari Borneo FC, tim yang sudah berdiri sejak tahun 1915 ini tidak gentar dengan nama besar yang mengisi skuad klub berjuluk Pangeran Biru tersebut. Ramadhan Sananta, yang masih berusia 19 tahun, sukses menorehkan 2 gol meski lini belakang Persib dihuni oleh pemain berlabel timnas seperti Rachmat Irianto dan kapten kawakan, Achmad Jufriyanto. Striker muda yang juga sempat memperkuat Persikabo 1973 ini, rasa-rasanya, adalah harapan baru bagi persepakbolaan Indonesia yang sering dikritisi karena kurang bisa melahirkan striker-striker dengan kualitas mumpuni.

Pemain-pemain tengah PSM juga relatif mampu menutup pergerakan Marc Klok dan Ricky Kambuaya, yang notabene juga berlabel timnas, meski sebenarnya ruang engine room dari tim berjuluk Ayam Jantan dari Timur tersebut dihuni oleh pemain-pemain muda seperti Ananda Raehan yang masih berusia 18 tahun, dan Muhammad Arfan yang berusia 24 tahun. Stigma tersebut layak disematkan apabila melihat data statistik yang ada, karena dari 446 operan yang dilakukan Persib, hanya 372 yang terkonversi dengan baik (83%). Jumlah dan akurasi operan tersebut memang lebih banyak ketimbang PSM, yang mencatatkan 231 operan sukses dari 310 kali percobaan (74%). Namun, membaca statistik tanpa konteks adalah dusta, karena itulah kita bisa menyimpulkan bahwa jumlah operan yang lebih banyak tadi tidak berarti karena terdiri dari banyak operan-operan ke belakang, apalagi skor akhirnya adalah 5-1.

Sepak bola memang bisa didekati dengan berbagai pendekatan, skema menyerang memang banyak diimajinasikan sebagai bentuk sepak bola paling ideal, pun layak diterapkan apabila memang komposisi pemain yang ada mendukung secara taktikal. Namun, bermain bertahan dan secara rutin mengandalkan serangan balik yang dibumbui dengan sejumput pemahaman taktik atau instruksi pressing secara konstan, juga bukanlah hal yang tabu.

Ironisnya, Persib tidak sedang memainkan keduanya, benar-benar tidak sedang memainkan keduanya. Lini belakang memainkan garis pertahanan yang rendah, 2 bek sayap hidup segan mati tak mau, pun kedua winger yang sukses dikebiri dan tidak diberikan banyak ruang untuk merangsek ke pertahanan lawan, yang memang secara padat diproteksi oleh 3 bek tengah dan 3 gelandang bertahan. David da Silva, yang sejauh ini sudah membukukan 6 gol, juga tidak berkutik di hadapan Yuran Fernandes dan kolega.

Terbukti, jumlah 6 umpan silang yang ditorehkan oleh pemain-pemain sayap Persib tidak ada satupun yang presisi. Winger seperti Febri Haryadi ataupun Ciro Alves, yang ditopang oleh Kambuaya dan Klok di lini tengah, juga hanya mampu mencatatkan 4 peluang atau chances created, jumlah yang sangat menyedihkan apabila melihat PSM yang sanggup mencatatkan 13 peluang meskipun tampil dengan tiga gelandang bertahan dan satu playmaker klasik seperti Wiljan Pluim. Sebuah arketipe yang sudah jarang kita jumpai sejak Juan Roman Riquelme memutuskan untuk gantung sepatu di tahun 2015 bersama kesebelasan berjuluk El Bicho dari negeri Tango, Argentinos Juniors.

Jangan lupakan juga kiper berusia 40 tahun bernama I Made Wirawan. Penampilan kiper asal Kabupaten Gianyar, Bali ini layak diapresiasi oleh pendukung tim tuan rumah, karena berkat andil besarnyalah PSM bisa mencetak 5 gol. Semua gol dari finalis AFC Cup zona ASEAN di tahun 2022 tersebut menghujam deras ke gawang Made Wirawan dengan proses yang hampir sama: bola melesat tidak jauh dari upaya tangakapan atau tepisan dari kiper bernomor punggung 78 tersebut, yang apabila kita simpulkan, refleks menjadi persoalan bagi eks penjaga gawang yang sempat memperkuat tim Beruang Madu, Persiba Balikpapan tersebut.

Apa yang Harus Dilakukan Luis Milla untuk Pertandingan-pertandingan Selanjutnya?
Pertama-tama, izinkan penulis menegaskan bahwa posisi terbaik dari Rachmat Irianto adalah gelandang bertahan. Kita tidak perlu memiliki lisensi kepelatihan UEFA Pro ataupun AFC Pro untuk memahami bahwa digesernya posisi Irianto dari bek tengah ke gelandang bertahan oleh Shin Tae-Yong adalah satu indikasi yang harus dimengerti. Artinya, Irianto dianggap tidak lebih baik dari Fachruddin Aryanto, Alfeandra Dewangga, ataupun Rizky Ridho oleh pelatih asal Korea Selatan tersebut.

Sebaliknya, jika kita bisa secara jeli menilik perspektif yang ada dari sisi yang lain, Rachmat Irianto yang notabene menjadi langganan di lini tengah tim nasional Indonesia, secara de facto, telah menyingkirkan nama-nama dengan reputasi mentereng seperti Zulfiandi, Bayu Pradana, Hanif Sjahbandi, ataupun Hargianto. Keempat nama yang penulis sebut tadi adalah langganan called-up skuad Garuda sebelum Shin Tae-Yong ditunjuk sebagai pelatih timnas.

Kita juga tidak perlu berbusa-busa berbicara mengenai taktik ataupun strategi jika logika sederhana ini sudah terpahami dengan baik. Apalagi, pelatih Persib saat ini, Luis Milla, pernah memberikan pujian kepada Rachmat Irianto saat pemain bernomor punggung 53 tersebut bermain di tim nasional U-23 sebagai bek tengah. Kala itu, Irianto yang sedang menjalani salah satu sesi pemusatan latihan bersama timnas di tahun 2018, dianggap memiliki visi bermain yang bagus. Meskipun pujian Milla dilontarkan ketika pemain kelahiran Surabaya ini masih bermain sebagai bek tengah, eks pelatih Lugo dan Real Zaragoza di negeri Matador tersebut telah menyadari bahwa yang bersangkutan memang memiliki pemahaman sepak bola yang baik. Dengan memahami bahwa ia sudah memiliki pemain pintar yang sukses menyingkirkan nama-nama besar di lini tengah timnas Indonesia saat ini, seharusnya Irianto bisa semakin berkembang di bawah arahan Milla, apalagi keduanya memang sempat bersama-sama.

Secara atribusi, Irianto memang boleh dikatakan satu level diatas Zulfiandi, pemain kelahiran Aceh yang sangat diandalkan oleh Luis Milla. Jika Zulfiandi adalah seorang metronom lini tengah yang terampil dalam melakukan operan-operan progresif dan operan satu atau dua sentuhan, putra Bejo Sugiantoro yang diikat Persib selama 3 musim ini adalah seorang gelandang bertahan yang tidak hanya memiliki operan-operan progresif, melainkan juga memiliki militansi dan piawai dalam melakukan intersep, tekel, maupun “pekerjaan-pekerjaan kotor” yang bisa sering kita saksikan ketika ia memperkuat timnas, terutama saat Piala AFF 2020 yang secara unik dihelat di tahun 2021 karena pandemi.

Sebelum Indonesia harus mengakui keunggulan dan perbedaan kelas dari Thailand di Final Piala AFF 2020, Rachmat Irianto menunjukkan statistik yang sangat baik. Dilansir dari Opta, ia sukses mencatatkan 90% tekel sukses, 3 kali memblok tembakan lawan, 6 kali melakukan sapuan, 5 kali melakukan intersep, dan 5 umpan kunci (salah satu yang paling vital adalah saat gol penyama kedudukan Indonesia saat menghadapi Malaysia). Sedangkan untuk akurasi kemenangan dalam perebutan duel bola di udara adalah sebesar 54,5 persen. Statistik yang cukup baik bagi pemain yang baru sekali memainkan peran sebagai gelandang bertahan di Persib musim ini, yaitu ketika menghadapi PSIS Semarang, itupun hanya di babak pertama. Di babak kedua, ia tampil di posisi bek sayap kanan, yang mana Dedi Kunandar tampil sebagai gelandang bertahan sejak masuk ke lapangan di menit ke-46.

Kenyataan bahwa Persib baru sekali memainkan Rachmat Irianto sebagai gelandang bertahan memang layak dijadikan pertanyaan besar. Dengan kapabilitas yang dimiliki Irianto, sebenarnya Luis Milla hanya tinggal memberikan instruksi-instruksi khusus kepada 2 pemain yang di atas kertas berada di sekitar Rachmat Irianto dalam formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3, yaitu Marc Klok dan Ricky Kambuaya. Keduanya adalah pemain kelas satu di Indonesia meski bukan pemain bertipe nomor sepuluh murni. Sekadar pembanding, ketidakhadiran pemain dengan tipikal “nomor 10 murni” juga dialami oleh kesebelasan Liverpool arahan Jürgen Klopp, toh situasi tersebut tidak berpengaruh banyak, karena gegenpressing milik manajer kelahiran Stuttgart ini memang tidak memerlukan pemain dengan jenis gaya bermain tersebut untuk merengkuh banyak trofi dan kemenangan.

Berdasarkan contoh di atas, suatu kesebelasan terbukti bisa menampilkan performa terbaik di lapangan, meski bermain tanpa pemain dengan tipe nomor 10 murni. Bahkan memang sudah jarang ditemukan pemain dengan tipikal tersebut di berbagai liga di Asia, Amerika Latin ataupun Eropa. Kebutuhan untuk mendulang sebanyak-banyaknya poin di era sepak bola modern, akan terasa mubazir jika bermain hanya untuk mengakomodir 1 pemain di lapangan, begitulah premis yang ada.
Satu hal yang menarik, apapun skema dan formasi yang diusung, bermain dengan pola 3 bek tengah atau menggunakan sistem backfour, 17 kesebelasan-kesebalasan di Liga 1 musim 2022/23 memiliki satu kesamaan yang dianut secara gotong-royong: Satu gelandang asing yang ditugaskan sebagai orkestrator serangan. Ketujuh-belas tim di strata tertinggi kompetisi Indonesia ini memiliki setidaknya satu pemain asing untuk menentukan permainan dan memandu tim dalam melakukan transisi ke penyerangan ataupun sebaliknya.

Hanya Persib yang tidak berinvestasi pada perekrutan gelandang asing, karena di detik-detik akhir menjelang ditutupnya bursa perpindahan pemain, kesebelasan yang terakhir kali menjuarai Liga Indonesia di tahun 2014 ini memutuskan untuk mendatangkan Daisuke Sato. Ia adalah seorang bek kiri yang masih aktif bermain tim nasional Filipina, meskipun jika merujuk dari data di situs Transfermarkt, eks pemain Muangthong United ini memiliki riwayat cedera parah dan harus menjalani waktu pemulihan selama 223 hari.

Kembali ke persoalan lini tengah, seharusnya bukan persoalan yang sulit untuk melakukan reaksi taktikal terhadap satu hal template terhadap 17 kompetitor lain di Liga 1. Rachmat Irianto sangat kapabel jika hendak ditugaskan oleh Luis Milla untuk menghentikan satu gelandang asing di tim lawan, yang kemungkinan besar, akan ditemui di setiap laga. Setelah itu inisiasi serangan bisa ia bangun lewat operan-operan progresif ataupun dengan cara menggiring bola sesaat setelah melakukan recovery runs yang disertai dengan aksi-aksi defensif lainnya seperti melakukan tekel ataupun intersep.

Sangat relevan pula jika Kambuaya menjadi pemain pilihan yang hendak diberikan operan-operan progresif oleh Irianto, karena keduanya sudah sering bermain bersama, baik di Persebaya maupun di timnas. Dengan kualitas pemain seperti ini, Luis Milla bisa menambahkan instruksi lainnya: seperti menugaskan Marc Klok untuk menekan dan melakukan penjagaan “satu lawan satu” kepada pemain di belakang gelandang asing, yang umumnya adalah seorang pemain lokal dengan kreativitas dan kualitas operan cukup mumpuni di kesebelasan yang ia bela. Contoh pemain dari kasus ini adalah Syahrian Abimanyu (Persija), Evan Dimas (Arema), Roni Sugeng (Persikabo), Alwi Slamet (Persebaya), atau bahkan pemain-pemain asing bertipikal “nomor 8” lainnya seperti Kei Hirose (Borneo FC) dan Brwa Nouri (Bali United).

Pendekatan taktik seperti ini pernah dilakukan Zinedine Zidane di final Liga Champions 2016/17. Ketika itu, saat pertandingan memasuki babak kedua, Casemiro diberikan instruksi untuk lebih agresif dan menekan Miralem Pjanic di lini tengah Juventus. Eks pemain AS Roma tersebut menjadi distributor bola yang bahkan sering mendapatkan bola sejak dari sepertiga akhir lini pertahanan Juventus.

Persoalan terakhir yang harus diperhatikan di lini tengah adalah kedalaman skuad. Bisa dibayangkan ketika 3 pemain timnas berhalangan tampil atau mendapatkan panggilan dari Shin Tae-Yong, krisis sudah pasti menghampiri karena Robi Darwis dan Beckham Putra, masih berusia muda. Salah satu solusi paling masuk akal adalah mencoret Daisuke Sato dan menggantikannya dengan bek kiri lokal yang memiliki kualitas sepadan atau lebih baik di putaran kedua liga. Slot pemain asing Asia bisa digunakan untuk posisi gelandang serang, ataupun pemain versatile yang bisa bermain di berbagai posisi ofensif.

Di sisi sayap, sudah saatnya untuk Luis Milla mengembalikan Febri Hariyadi ke sisi kiri, meskipun permutasi posisi dari kiri ke kanan ataupun sebaliknya adalah hal yang lazim dilakukan di tengah-tengah pertandingan. Kecenderungan pemain sayap kidal dengan trademark menggiring bola dan berlari seperti Febri, jika ditempatkan di posisi sayap kanan, sudah pasti memiliki kecendurungan untuk melakukan tekukan-tekukan yang tidak penting. Apalagi kita semua pasti sepakat, bahwa Febri Hariyadi bukanlah inverted winger sekelas Arjen Robben, bukankah begitu?

Suplai bola ke striker bisa secara konsisten dilakukan Febri dari sisi kiri, seperti apa yang pernah ia tunjukkan bersama timnas di bawah asuhan Luis Milla, baik itu melalui umpan silang ataupun umpan balik kepada pemain di lini tengah. Ciro Alves, yang sejatinya memang berposisi sebagai winger kanan sejak masih memperkuat tim nasional Brasil U-20, juga akan lebih banyak mendapatkan ruang untuk melakukan umpan silang dan peluang konkret untuk menembak bola langsung ke arah gawang. Ini terdengar sangat logis karena Ciro adalah pemain yang dominan menggunakan kaki kanan, meskipun sekali lagi, permutasi posisi secara fluid memang perlu dilakukan di tengah-tengah pertandingan.

Selain menyoroti hal-hal tadi, penulis rasa masalah lainnya adalah persoalan elementer yang akan terselesaikan ketika pemain andalan di posisi bersangkutan sudah pulih dari cedera. Seperti misalnya Henhen Herdiana di posisi bek kanan, Victor Igbonefo di posisi bek tengah, ataupun Teja Paku Alam di posisi penjaga gawang. Bahkan masih ada pula beberapa nama yang belum pernah dicoba sampai berjalannya pekan ke-7 liga 1, seperti Eriyanto di posisi bek kanan ataupun Reky Rahayu di posisi kiper.

Sebagai konklusi, sangat penting untuk memberikan Rachmat Irianto ruang untuk mengorkestrasi zona defensif Persib di musim ini, yang secara tragis, sudah kebobolan 18 gol dari 7 pertandingan. Terlepas ada pula hal-hal fundamental lainnya seperti komposisi pemain yang bukan dipilih langsung oleh pelatih baru, sampai usia dua bek tengah senior di Persib yang sudah uzur, Ahmad Jufriyanto berusia 35 tahun, dan Victor Igbonefo telah berusia 37 tahun.
Jadi, tidak mengherankan jika di musim depan, atau bahkan di putaran kedua Liga 1 2022/23, Persib Bandung melakukan perombakan dan penyegaran pemain. Apalagi Luis Milla memang mengenal banyak nama-nama pemain berkualitas yang pernah diasuh olehnya, yang juga secara kebetulan, memang jarang mendapatkan panggilan dari timnas di bawah asuhan Shin Tae-Yong saat ini. Sederet nama-nama yang dimaksud adalah Ricky Fajrin, Bagas Adi, Zulfiandi, Hanif Sjahbandi, Bayu Pradana, Hansamu Yama, sampai Septian David Maulana. Sebuah benefit besar jika Persib bisa mendapatkan pemain yang tidak dipanggil oleh timnas, karena saat pemain timnas mendapatkan panggilan tim nasional, pemain-pemain ini siap untuk menggantikan dengan kualitas yang tidak berbeda jauh.

Penulis bernama Hafidz Adi Nugraha yang kecintaannya terhadap Persib diwarisi oleh mendiang kakek

Lanjut Membaca

Arena Bobotoh

(Arena Bobotoh) Robert Albert, It’s Over

Published

on

Persib Bandung diawal musim BRI Liga 1 2022 menjalani musim yang cukup berat dan buruk. Mayoritas pembicaraan di liga 1 menyoroti tentang buruknya peringkat Persib dan kurang variatif permainan Persib ditangan Robert Rene Albert lebih banyak dibanding soal Madura dengan behind team brazilian connection yang berhasil membuat kejutan terus daya kejut Persikabo bersama Abah Djanur di tiga laga awal dan PSM yang memberikan warna berbeda. Emang sih masih terlalu dini tapi jadi sedikit pemberitaan kejutan radar tim tim itu dibanding pemberitaan terperosoknya Persib.

Persib menghadapi periode yang sangat berat di awal musim ini. Partai pembuka Imbang melawan Bhayangkara 2-2, kemudian dilanjut kekalahan pertama di kandang dari Madura United 1-3 dan terakhir dibantai Borneo 4-1. Persib hanya mampu meraih 1 poin di 3 laga awal dan Persib kebobolan banyak gol, total 9 gol bersarang ke gawang Persib hanya dalam 3 laga BRI Liga 1, uniknya Ketiga pertandingan itu pun selalu dimulai dengan Persib unggul lebih dahulu sebelum disamakan dan dua pertandingan terakhir malah lawan mampu membalikan skor. Tentunya PR yang sangat berat bagi staff pelatih yang tersisa saat ini maupun staff pelatih baru. Persib perlu memperbaiki struktur timnya untuk menyelesaikan masalah ini. Beberapa tahun terakhir sebenernya Persib similar dalam situasi ini, seperti pertengahan liga musim 2019 dan pertengahan musim 2021. Tapi ya Cukup terkejut melihat Persib di 3 laga awal musim ini secara konsisten Persib dibobol lebih dari 1 gol secara beruntun dan tidak pernah menang.

Ada istilah juga dimana Robert Albert dijuluki “Football Genius”. Selain slank ini,Memang tidak menutup fakta juga bahwa selama dia menangani persib, dia berhasil memecahkan rekor poin terbanyak klub persib selama mengikuti liga, tim dengan kebobolan paling sedikit di liga musim lalu dan membawa Persib bersaing di perburuan juara Liga musim lalu. Robert juga dalam beberapa tahun menangani Persib selalu menemui peak performance Persib selalu di pertengahan musim.

Tapi, Problem Persib sudah terlihat sejak pramusim, program mereka tidak berjalan ideal dan sempurna. Baru kumpul beberapa pekan, kondisi mereka bahkan belum di level 70% tapi dari persibnya sendiri secara kompak mulai dari pelatih, managemen, dan pemain menargetkan juara. Ujungnya bukan hasil positif/kemenangan untuk mempermudah ke jalur juara seperti yang mereka targetkan, yang didapat malah badai cedera dan ketika kompetisi resmi digelar kondisi pemain mereka banyak yang belum di level yang siap buat liga. Ini berimbas ke intensitas aksi aksi sepakbola mereka di lapangan dengan kondisi yang tidak ideal mereka kesulitan mempertahankan intensitas secara konsisten.

Terlihat di 2 laga awal mereka, 45 menit mereka mampu tampil dengan aksi aksi intensitas tinggi, tapi di babak dua mereka selalu turun intensitas dan aksi aksi sepakbolanya. Lalu mereka beralasan kurang dewi fortuna lah/badai cedera dll. Padahal itu nyaris prone semua tim yang mengikuti turnamen pramusim dengan serius. Efek terlalu serius di pramusim buat juara, intensitas aksi sepakbola tidak di level yang ideal untuk eksekusi aksi aksi sepakbola. Selain itu template Robert juga hampir tidak berubah sejak dia menangani persib, Jika berbicara secara numerik formasi dia sejak 2019-2022 ini selalu menggunakan 4-2-3-1/4-4-2 yang berubah menjadi 4-4-1-1/4-4-2 ketika bertahan, berorientasi pada setup man to man.

Dari kedua system tadi jelas lini tengah adalah bagian yang penting, baik ketika tim menyerang di setiap fasenya dia harus jadi koneksi tim progresi ke depan dan ketika bertahan harus selalu menjaga poros ganda yang kompak dan agresif dari gelandang tengah lawan di depan pertahanannya. Kedua formasi secara numerik juga telah berorientasi man to man dalam pertahanan mereka, sering menandai lawan ketika mereka datang ke zona lini tengah.

Sebenarnya ini adalah penandaan zona klasik di mana mereka menandai pemain yang paling dekat dengan mereka di zona mereka. Namun yang paling penting, adalah cara mereka bekerja bersama. Ketika satu menekan, yang lain menutupi dan mereka selalu tetap dekat satu sama lain. Ini memberikan perlindungan di depan Flat back four mereka dan terutama bek tengah di zona 14 yang akan sangat berbahaya. Oke sekarang mari kita lihat bagaimana Persib era Robert Albert bermain di berbagai tahap permainan.

Musim ini, Cara Persib menyerang sudah tertebak, di fase akhir persib kerap kesulitan untuk menghancurkan blok lawan dalam situasi di mana tim sama-sama terorganisir. Dengan kata lain, Persib mencoba mengacaukan tim lawan sambil mempertahankan struktur mereka sendiri. Namun, kebanyakan tim lawan menjadi lebih stabil saat bertahan dan Persib hampir selalu kesulitan untuk menembusnya dan mengacaukannya. Oleh karena itu, cukup sering Persib ingin menyerang ketika tim lawan sudah tidak terorganisir dan saat mereka kehilangan bola. Makanya mereka selalu bertujuan Direct Langsung dari GK dengan mengharapkan memenangkan second ball atau jika lawan memenangkan bola mereka langsung bertujuan merebutnya secara individu/kolektif lalu melakukan transisi positif. 2 gol persib pun berawal dari situasi transisi positif.

Sejauh ini dalam tiga laga ini, Persib sebenernya punya beberapa variasi set-up ketika membangun serangan dari belakang. Hanya sayangnya set-up nya kurang variatif jika dibandingkan dengan musim sebelumnya. Tapi sebenernya ini hanya angka dan yang paling utama prinsip soal bagaimana memajukan bola itu jauh lebih penting, meskipun ini juga sama seperti sebelumnya. Baik di 2-3-5, 3-2-5, 2-4-3-1 atau 2-4-4. Tujuan utamanya tetap sama, mereka mencoba menembus lini tengah lawan dengan menciptakan kelebihan di area yang luas. Kedua winger depan akan menjaga lebar dan ditandai fullback/wingback lawan, striker dipin oleh bek lawan. Sehingga gelandang serang dapat menerima bola di ruang antar lini tanpa harus ditekan oleh fullback atau wingback lawan. Jika bek tengah lawan melangkah maju untuk memberikan tekanan pada gelandang serang, penyerang dapat memanfaatkan ruang dengan berlari melalui celah di antara bek tengah lawan.

Namun tujuan mereka selalu terbaca lawan, Ada dua alasan utama. Pertama, kedua pemain sayap Frets dan Erwin cukup sering menggiring bola ke dalam/cut inside, jadi sulit untuk menembus zona akhir jika tidak mendapatkan opsi kedalaman. Di musim lalu, Febri di sisi kanan dan Frets Butuan di sisi kiri dan sering ada untuk dapat kedalaman. Di beberapa pertandingan musim lalu, Febri/Frets menerima bola, menggiring bola ke depan dan mengirimkan umpan silang itu. Jika pemain sayap bisa menggiring bola ke depan, dan ada opsi kedalaman membuat bek lawan harus bergerak secara vertikal. Yang membentang ruang di antar lini. Namun, jika winger hanya melakukan cut inside, tanpa adanya kedalaman maka bek lawan terutama bek tengah tidak perlu bergerak sehingga lebih mudah untuk bertahan dan mengantisipasi serangan. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan seseorang yang dapat berlari di belakang untuk penetrasi juga ketika mendapatkan kedalaman. Tetapi ini adalah masalah kedua Persib sejauh ini. Terutama, kurangnya support gelandang serang untuk berlari ke koridor zona 14. Ezra Walian terkadang melebar untuk menerima bola di luar blok pertahanan lawan dan tidak siap untuk berlari di belakang lini lawan. Itu yang membuat Persib di tiga laga awal cukup kesulitan menyerang di fase akhir.

Persib secara organisasi bertahan musim ini sebenernya cukup baik. Kerapatan secara vertikal dan horizontal cukup terjaga. Dua laga awal sangat sulit lawan membangun serangan ke Persib. Tapi,Persib memiliki kelemahan dalam transisi negatif. Terutama ketika salah satu pemain poros ganda, naik/mengubah posisi mereka secara dinamis membuatnya jika lawan langsung akses ke depan, koridor tengah tidak stabil ketika bola diarahkan kesitu. Apalagi acap kali Persib ketika kehilangan bola di zona manapun respon mereka jarang melakukan pressing secara group, mereka lebih pressing individu dengan menekan ball carrier, tetapi jika gagal dan lawan bisa dapat vertikalitas/diagonalitas langsung ke depan, hanya selalu menyisakan 1 DM, CB akan selalu terpancing. Kedalaman tidak terjaga dan kiper mereka pun tidak memiliki pengetahuan taktis tentang cover ruang dan posisi tubuh mereka.

Di laga lawan madura, Kiper melakukan kesalahan di dua gol terakhir, pertama saat bola rebound, kedua di gol terakhir Madura, kiper Persib sangat buruk dalam control kedalaman. Di laga lawan Borneo pun serupa. Dua laga terakhir Persib kebobolan 4x dari situasi transisi negatif.

Persib di era Robert Albert sebenernya menunjukkan ide bermain yang jelas tentang bagaimana mereka ingin bermain, tetapi masalah selalu terletak pada eksekusi akhir mereka. Ditambah mereka cuman bisa bermain dengan intensitas yang bagus cuman hanya 45 menit saja. Tapi masalah soal problem di final third ini bukan terjadi hanya musim ini, situasi ini sebenernya sama seperti akhir musim lalu. Di musim ini, dia sudah menambah beberapa pemain dan punya banyak kotretan,seharusnya dia sudah siap dengan situasi ini dan menyiapkan solusi/opsi. Dan jika selalu seperti itu, ya memang harus mengundurkan diri.

 

Ditulis oleh Bobotoh dengan akun Twitter @Aryaaluthfy

Lanjut Membaca

Trending