![]() |
![]() |
The Heroes of 95-Meninjau Masa Lalu Menatap Masa Depan (II)
Oleh: Ekomaung Noer Kristiyanto*
4. Yadi Mulyadi
Pertemuan dengan Kang Yadi Mulyadi justru agak tak biasa. Berkali-kali saya ke balkot (Kang Yadi adalah PNS pemkot Bandung) namun yang bersangkutan selalu tidak ada karena rupanya di saat pemain seangkatannya sudah pensiun bermain bola, Kang Yadi Mulyadi justru masih terus bermain bola secara aktif meski klub-klub yang dibelanya berada di divisi sekunder. Kesempatan itu tiba saat PERSIB berjumpa Persires Rengat, tim asal Kabupaten Indragiri Hulu Riau, dalam ajang Copa Dji Sam Soe beberapa tahun yang lalu. Dalam pertemuan pertama di Hotel Biliq Kabupaten Bandung, saya yang tengah sibuk merancang perkenalan justru dikejutkan ketika disapa dahulu oleh Kang Yadi. Ternyata Kang Yadi selalu mengikuti perkembangan PERSIB termasuk melalui info dari program saya. Saat saya tanya kok bisa nonton padahal stand by di Sumatera, Kang Yadi mengatakan bahwa jadwal di Divisi II tidak sepadat liga super, dalam satu musim paling hanya bermain beberapa kali saja, palingan di Rengat hanya beberapa bulan saja. Posturnya tinggi menjulang, usia yang melewati titik emas tak membuat legenda yang satu ini berhenti berlatih, tubuhnya masih cukup atletis, sikap bersahabat dan supel pun ditunjukkan Kang Yadi, sungguh kesan yang baik untuk sebuah perkenalan pertama. Dalam pertemuan berikutnya di Rengat,Rrengat adalah kota kecil yang cukup terpencil (menurut pendapat saya loh). Perjalanan ke sana sekitar 6 jam melalui perjalanan darat dari Kota Pekanbaru, di kota itu sangat sulit mencari tempat-tempat hiburan, jangankan tempat spa atau karaoke, rasanya bioskop saja lapangan. Nama besar Yadi Mulyadi seiring dengan kebesaran PERSIB, mantan jawara Liga Indonesia ini mendapat bayaran tertinggi di klubnya, sebuah nilai yang cukup besar untuk pemain seangkatan Kang Yadi. Yadi Mulyadi pun menjadi pemain kesayangan para petinggi klub Persires, orang nomor satu klub Persires yang juga merupakan famili dari Bupati Rengat tampaknya memang mengincar salah satu mantan PERSIB untuk diboyong kesana, karena rupanya bos Persires ini dulunya sekolah di STPDN, belakangan saya tahu dia juga seorang birokrat. Pertemuan-pertemuan berikutnya terjadi secara tidak sengaja, baik di balkot maupun di Lembang. Yadi Mulyadi tampaknya sudah mulai gantung sepatu, dan hingga terakhir saya bertemu dia tidak memiliki klub. Namun bukan berarti dia berhenti bermain bola, saat STV melakukan beberapa game persahabatan di lapangan Lembang seperti Sespimpol, Pusdikajen, Sesko AU, tampak pula Yadi Mulyadi memperkuat tim rival, dan memang tetap bukan tandingan bagi mereka yang sekedar mencari keringat dan kesenangan di lapangan.
5. Asep Sumantri
Jikalau ada mantan pemain PERSIB 95 yang memiliki postur sangat jauh berbeda dengan masa di kala dia aktif bermain, tentu Asep Sumantri inilah orangnya (tak perlu lah saya ceritakan, anda dapat mengamati sendiri, bandingkan pemain nomor punggung 4 dahulu dengan Kang Asep yang kini sering terlihat bersama tim setelah menjadi asisten pelatih). Asep Sumantri adalah pegawai di Pemkot Bandung juga, tepatnya di Dispenda. Jika ingin melihat contoh mantan pemain PERSIB yang mampu merencanakan kesejahteraan dengan baik setelah gantung sepatu , mungkin Asep Sumantri inilah salah satunya. Posisi aman sebagai PNS dia kolaborasikan dengan bisnis yang cukup menjanjikan. Kang Asep ini memiliki bengkel las teralis dan sejenisnya, letaknya di belakang mesjid Al-Ukhuwah, dekat BMC Jalan Aceh, tidak jauh dari kantor pemkot tempatnya bekerja. Konon relasi sebagai urang Panjalu membuatnya tidak akan kesulitan mengembangkan bisnis ini. Sebagai urang Panjalu pula relasinya meluas hingga mantan Direktur Utama Bank Jabar, Uce Suganda, beberapa kali saya melihat mantan pejabat perbankan itu asik bermain catur di dekat bengkel Kang Asep, kebetulan saat itu saya mencari tahu juga mengapa Bank Jabar tidak menjadi sponsor PERSIB, seperti halnya Bank Papua untuk Persipura, Bank Kaltim untuk Persiba, Bank DKI untuk Persija, dsb. Jawabannya tentu tidak untuk diulas disini. Masih berkaitan dengan Panjalu-nya, Kang Asep pun aktif di PS Putra Panjalu, salah satu klub anggota PERSIB, maka karier kepelatihannya pun terbilang konsisten setidaknya di lingkaran lokal, dirinya terlibat pula dalam beberapa kejuaraan yang diikuti maung-maung muda. Analisis dan pemikiran-pemikiran Kang Asep pun cukup sering dijumpai dalam prediksi pertandingan PERSIB yang dimuat oleh surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat yaitu Pikiran Rakyat. Sedikit terlupa, saya mengenal Kang Asep ini melalui Dudi, Dudi adalah adik kandung Asep Sumantri, dahulu dirinya masuk dalam jajaran official PERSIB, sempat keluar beberapa musim, kebetulan dirinya masuk lagi di tim official musim ini menemani sang kakak. Ada satu hal yang menarik dari Kang Asep ini, entah karena memiliki ipar seorang poilisi atau relasi lainnya, hampir seluruh kendaraan yang ditungganginya memiliki plat nomor yang identik dengan nama pemiliknya, seperti D 4553 EP, D 45 EP, saya agak lupa persisnya, namun dipastikan akan ada angka 4,5 dan 3 serta huruf P di ujung nomor plat kendaraannya, yang mengarah kepada nama 453P…..ASEP.
6. Yusuf Bahtiar
Ini adalah salah satu pemain favorit saya, salah satu playmaker terbaik yang pernah lahir di tatar Pasundan. Sulit berbicara terlalu jauh mengenai kang Yusuf di luar konteks profesional wartawan-narasumber, karena pertemuan saya justru lebih sering saat Kang Yusuf menjadi asisten pelatih, dimana obrolan teknis mendominasi. Oleh karena itu saya ingin sedikit berbagi pengalaman saat Kang Yusuf belum menjadi asisten pelatih PERSIB dahulu. Meski telah beberapa kali bertemu untuk wawancara prediksi pertandingan, saya mulai tertarik dengan pemikiran-pemikiran Kang Yusuf saat sama-sama berjumpa di acara Milad UNISBA pada tahun 2008. Saat itu Unisba dengan rektornya yang juga penggemar PERSIB yaitu Prof. Endang Saefullah Wirapradja (sekedar info, Prof. Saefullah ini adalah ayahanda dari gitaris Suerius Band yaitu Kang Mulki) menggelar diskusi dengan tema PERSIB sebagai salah satu rangkaian milad. Kang Yusuf Bahtiar menjadi salah satu narasumber sedangkan saya diminta panitia untuk menjadi moderator. Hari itu menjadi sebuah diskusi yang menarik. Kang Yusuf yang saat itu masih di luar sistem memang dikenal cukup vokal dan kritis, ulasan dan pemikiran-pemikirannya segar dan layak uji. Entah kebetulan atau tidak, saya masih ingat selepas acara tersebut ada perbincangan heureuy dengan Pak Yosi Irianto (saat itu menjabat manajer PERSIB dan menjadi narasumber diskusi juga) mengenai cocoknya Kang Yusuf Bahtiar masuk ke dalam struktur tim (saat itu Kang Yusuf popularitasnya cukup tinggi karena sering tampil juga diberbagai media massa). Kang Yusuf ternyata memang berjodoh dengan PERSIB. Kang Yusuf Bahtiar bekerja di PLN, terkait pekerjaannya ini saya mendapatkan pengalaman yang sangat langka ketika diajak langsung menemani tugasnya ke lapangan. Saat itu ke daerah Arjasari Banjaran, di sana ada semacam gardu utama milik PLN, seluruh pegawai PLN di sana tentu saja mengenal icon PERSIB yang satu ini. Selain berkunjung ke bangunan sipil gardu PLN, saya pun diajak menelusuri desa-desa, ini terkait program CSR dari PLN, ada warga yang mampu memberdayakan kotoran hewan ternak menjadi energi, dan selama perjalanan menembus desa ini pula popularitas seorang Yusuf Bahtiar semakin terasa nyata, karena hampir seluruh warga yang berpapasan dengan kami mengenali sosok Yusuf Bahtiar…sang playmaker. Dengan nama besarnya tak sulit bagi kru kami saat itu meyakinkan f*****n, untuk menjadikan Yusuf Bahtiar sebagai profil legenda di program yang mereka sponsori.
7. Robi Darwis
Lagi-lagi sulit berbicara banyak mengenai Kang Robi di luar konteks profesional wartawan-narasumber, karena Kang Robi senantiasa menjadi pilihan wawancara program saya terkait masalah teknis jika pelatih utama sulit ditemui. Dibandingkan Jajang Nurjaman (saat itu masih asisten pelatih), Adeng Hudaya, Yusuf Bahtiar, dan asisten pelatih lainnya, dengan Kang Robi inilah paling sering saya melakukan wawancara. Sekali lagi saya ingin berbagi pengalaman di luar obrolan-obrolan teknis itu.
Siapa tak mengenal Robi Darwis, namanya bukan hanya sekedar melegenda di Jawa Barat namun publik sepakbola nasional pun mengenalnya, semua orang ingin menjabat tangannya, tak terkecuali saya. Pertama kali saya bertemu langsung dengan Robi Darwis ketika saya masih SMP, lokasinya di GOR Pajajaran, saya masih ingat saat itu Kang Robi begitu stylish mengendarai Jeep sejenis Cheroke. Malu-malu saya mendekat dan meminta tandatangannya, esoknya langsung saya pamer-pamer di kelas (sungguh tak terbayang saat itu, tahun 1996, di kemudian hari saya dapat mengenal Kang Robi Darwis secara lebih dekat).
Nama besar, itulah yang pasti dari seorang Robi Darwis, maka tak perlu berdebat panjang dengan brand manager F*****N saat saya mengajukan pemilik abadi nomor 6 ini untuk dijadikan profil. Nama besar pula yang menjadikan namanya dicatut sebagai SSB di daerah Lembang, yang launching-nya dilakukan di Pusdikajen Lembang, entah eksis atau tidak saat hingga saat ini, namun saat itu saya melihat animo masyarakat benar-benar luar biasa, tak ada yang tidak tahu Robi Darwis. Nama besarnya ini tak hanya mengakar secara teritorial di tempatnya berdomisili, namun hampir seluruh Indonesia. Saya menyaksikan sendiri saat meliput PERSIB tandang ke tempat-tempat yang jauh seperti Rengat ataupun Bontang. Di tempat-tempat yang kebetulan ada orang Priangan yang merantau di sana (biasanya memang generasi jadul seperti bapak-bapak, ibu-ibu), maka yang menjadi target utama untuk sekedar bersalaman ataupun foto bareng bukanlah Zaenal Arif, Barkoui, Edi Kurnia, atapun Eka Ramdani…..namun Robi Darwis lah aktor utamanya. Orang-orang di sana boleh tak terlalu familiar dengan pemain-pemain baru, namun semua tau siapa Robi Darwis.
Hal berkesan lain bersama Kang Robi adalah (mungkin) saya termasuk wartawan yang melakukan wawancara secara langsung beberapa saat setelah namanya diumumkan sebagai asisten pelatih PERSIB saat itu. Jika saya tidak salah ingat itu adalah masa manajernya Pak Jaja Sutardja, pengumuman nama-nama official tim dilakukan di Pendopo, kebetulan setelah liputan di Pendopo, saat akan pulang melewati kantor Kang Robi Darwis di BNI Jalan Perintis Kemerdekaan, terpikir untuk melakukan wawancara spontan hari itu juga. Tak disangka dari mulai satpam hingga staff lain ternyata welcome dan justru mengarahkan kami ke ruangan Kang Robi. Saat itu saya belum memiliki nomor HP Kang Robi Darwis untuk konfirmasi ataupun sekedar janjian, maka terjadilah wawancara dadakan itu. Masih berkaitan dengan nama besar, terlepas dari kritik banyak orang terhadap dirinya, Kang Robi ini serius loh menekuni dunia kepelatihan, label mantan pemain timnas (menurut orang PSSI) dapat memberi kemudahan berupa kenaikan-kenaikan tahap secara langsung. Terakhir kali ngobrol tentang karier kepelatihan sih katanya ikut lisensi A namun masih menunggu pengumuman.
Itulah sebagian dari mereka yang saya sebut sebagai heroes of 95, para punggawa yang membumikan piala presiden untuk pertama kalinya di tatar Priangan, karena merekalah PERSIB tetap mampu menjaga hegemoninya di masa transisi menuju sepakbola nasional yang profesional dengan menjadi yang terbaik di LIGINA I. Tim lain setelah mereka boleh menjadi juara ribuan kali, namun yang namanya juara untuk pertama kali akan selalu istimewa…..PROUD!
*Penulis ex Ass.Produser STV BAndung berkhidmat dengan akun twitter @ekomaung












atek
16/02/2013 at 14:15hatur nuhun kang kana infona,pami subur sang penjaga gawang mana kang?
egi firmansyah
08/02/2013 at 22:51Haturnuhun kang kana beritana,upami tiasa sadaya pemaen persib anu aya dina final liga pertama,basa ngawonken petrokimia gresik,anu aya endog dina gawang si deryl kiper petrokiamia gresik,teras kapendak ku Sutiono.hidup PERSIB
gilang firdaus
03/02/2013 at 00:53kang eko bagusnya sih profil orang yang dibahas pake foto di masa nya dulu dan juga fotonya sekarang... jadi pembaca lebih bisa "mengenal" mereka lebih jauh. salam dari fans Persib Bandung, dan sesama reporter.. :)
ADANG
26/01/2013 at 11:57Kalau dulu kita memprediksi berapa goal persib bisa mengalahkan lawannya, karena lawan2 sudah ciut sebelum bertanding melawan nama besar persib dan pemain-pemainnya yang mempunyai skill luar biasa.
cibuy
20/01/2013 at 12:57ari iwan setiawan teu aya akank?. cobi cek nusanesna. seperti yudi guntara, kekey zakaria
Ricky
17/01/2013 at 07:47PROUD kanggo kang EKo... PERSIB sudah menjadi identitas warga jawa barat... PERSIB adalah BOBOTOH... BOBOTOH adalah PERSIB...
sadam
27/12/2012 at 14:29Kang Ajat Sudrajat legenda "kepala emas" mana kang.......??????
dipo
27/12/2012 at 14:27Sudah tidak sabar dengar cerita tentang kehebatan dan kesederhanaan sang Stiker Sutiono Lamso. Lanjut Kang Eko