Arena Bobotoh: Masalah di Pertahanan

Penulis:

|

23/02/2013

|

Kategori:

|

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Arena Bobotoh: Masalah di Pertahanan

Penulis: Hary G. Budiman

Jangan pernah remehkan data statistik, pada detail atau pada hal kecil yang terkesan remeh-temeh. Tak jarang, detail kecil menentukan hasil yang besar.

Ungkapan tersebut saya peroleh dan serap dari sebuah film yang berjudul Moneyball, dibintangi oleh Brad Pitt tahun 2011 lalu. Lantas, apa pula hubungannya dengan Persib? Saya kira banyak pelajaran yang bisa diambil dari film Moneyball, dan ini sangat kontekstual dengan problematika Persib belakangan ini.

Moneyball diangkat dari kisah nyata, tentang seorang general manager dan asistennya yang mengelola tim baseball Oakland Athletics di Amerika. William Lamar “Billy” Beane dan asistennya, Peter Brand, membangun tim berdasarkan analisis data statistik. Mereka membeli pemain bukan berdasarkan kebintangan si pemain, tetapi berdasarkan seberapa tepat si pemain melakukan tugasnya di lapangan. Misalnya, seberapa tinggi tingkat akurasi pukulan, lemparan, dan seberapa cepat pemain lari menuju home base.  Pemilihan pemain ini dilakukan dengan sangat spesifik serta detail; berdasar pada catatan performa bukan dari nama besar. Hasilnya, dengan dana minim dan nyaris tanpa pemain bintang, Billy Beane sukses membawa Oakland Athletics mencatat rekor kemenangan spektakuler (kalau tidak salah, 40 kemengan beruntun) dan mencapai laga puncak Major League Baseball. Meski tak sampai juara, kepandaian Billy Beane diakui dalam kancah Major League Baseball, bahkan rekornya hingga kini belum terlampaui. Dan ini nyata. Riil terjadi.

Maksudnya dari kisah tersebut, kita bisa memiliki perspektif yang lebih luas dalam melihat sebuah tim, khususnya Persib. Bukan dalam rangka mengkritisi kebijakan transfer Persib, tetapi tim secara keseluruhan harus mulai aware pada catatan statistik dan memperhatikan hal-hal kecil, pada detail. Agaknya sejauh 6 pertandingan yang telah dilakoni, jajaran pelatih lupa memperhatikan data statistik untuk mengetahui apa kekurangan Persib. Berikut sedikit catatan saja (tolong koreksi jika ada kekeliruan). Maaf sebelumnya jika tulisan ini terlampau teknis dan sok tahu, toh penilaian seorang bobotoh itu bukan dosa kan? Catatan ini sekedar luapan energy atas kekalahan dan kekecewaan laga kemarin. Tentu lebih baik menjadi tulisan daripada berujung cercaan yang tak karuan.

Statistik & Review Pertandingan

Persib melakoni 6 laga, dari 6 laga itu, Persib memasukkan 10 dan kemasukkan 11. Menariknya, 6 dari 11 kebobolan Persib  atau 54,5% bermula dari umpan silang lawan. Dari data ini terlihat jelas, ada yang salah dengan antisipasi bola silang. Kebobolan yang terjadi di antaranya: Persipura lewat sudulan Bio Pauline; Persisam melalui tendangan freekick Ferdinand Sinaga (o.g Supardi) ke tiang jauh dan sundulan Kone (juga umpan silang); Mitra Kukar melalui tendangan Frangiepane dari pertahanan kanan ke tiang jauh, bola silang Arif Suyono (o.g M. Ridwan), dan tendangan sudut Zulham Zamrun yang berbuah gol oleh Jajang Mulyana. Semua gol-gol itu, terjadi dari umpan silang atau tendangan ke tiang jauh. Dari fenomena ini ada beberapa fakta menarik yang bisa digali.

Pertama, Made Wirawan hampir selalu kesulitan mengantisipasi bola yang mengarah ke tiang jauh. Kedua, sisi sayap kanan persib selalu menjadi sumber malapetaka. Buktinya jelas, dua gol bunuh diri berasal dari sektor kanan. Ini juga membuktikan ada kepanikan dan daya defensivitas yang buruk di sektor kanan. Ketiga, pertahanan kiri begitu rapuh. Buktinya, serangan lawan sering kali bermula dari ditembusnya sektor kiri Persib dan berbuah gol di sektor kanan karena antisipasi bola atas yang lemah.  Dari titik ini, harus pula diingat bahwa Abanda dan Nasser tidak serta merta dapat menghalau setiap umpan silang karena bola lebih banyak jatuh di posnya Supardi yang notabene kemampuan duel udaranya tidak sebagus Abanda dan Nasser.

Harus pula dicermati kemampuan bertahan dua bek sayap Persib. Seperti yang kita semua tahu, Supardi itu ibarat Dani Alves; ia sangat baik dalam menyerang tapi tak demikian ketika bertahan. Hal yang sama terjadi di sayap kiri, Jajang Sukmara sering kali gagal mengintersep serangan lawan, tetapi ia bagus dalam menyerang. Pemain penggantinya, Tony Sucipto, bukan pula pemain yang natural di bek kiri. Coba kita ingat kembali, dulu di Persija dan Sriwijaya, Tony lebih banyak berperan sebagai gelandang bertahan. Kalau dikonstruksi kembali pertandingan melawan Mitra Kukar sore kemarin, Tony nyaris tak melakukan crossing juga antisipasinya di kiri tidak terlalu memukau. Seperti ada yang tak berjalan mulus di sektor kiri. Bukankah gol pertama Mitra Kukar muncul dari pos yang ditempati Tony? Juga jika masih ingat, bukankah gol Ferdinand Sinaga juga bermula dari freekick di sektor bek kiri Persib yang kala itu itu ditempati Jajang Sukmara?  Kondisi ini juga mungkin diperparah oleh covering pemain sayap (Atep di kiri, Ridwan di kanan) yang tidak terlampau ok. Toh kita pun tahu, baik Atep maupun Ridwan punya kecenderungan menyerang yang lebih tinggi.

Sedikit catatan tambahan; sangat mungkin terjadi kesenjangan komunikasi di poros pertahanan antara Abanda, Nasser, dan Made di kiper.  Kalau diperhatikan secara sekilas, baik Abanda dan Nasser bukan tipikal bek dengan leadership (semisal Njanka, Robby, atau mungkin Fabiano), Nasser bahkan terlihat terlalu calm. Sementara Made bukan penjaga gawang yang bawel. Sangat mungkin tak ada komando diporos pertahanan. Kita bisa mencontoh trio Parma beberapa tahun silam; Cannavaro, Thuram dan Buffon. Selain karena kemampuan per individunya bagus, poros pertahanan ini bekerja dengan sangat baik karena ada komando dari Cannavaro. Performa baik ini bahkan terus berlanjut ketika mereka pindah klub ke Juventus.

Kadang terlintas di benak saya, perbedaan bahasa antara Abanda, Nasser, dan Made mungkin agak mengganggu komunikasi di poros ini. Bahasa mungkin bukan faktor mendasar, tapi ini juga penting. Adakah tim pelatih mempertimbangkan ini?

Kesimpulannya, pertahanan menjadi masalah utama, terutama lemahnya daya bertahan kedua bek sayap yang terlalu potensial untuk dieksploitasi lawan lewat bola-bola crossing.  Kemasukan 11 gol dan memasukkan 10 gol dari 6 pertandingan. Jika dirata-ratakan, Persib mampu mencetak 1,66 gol per laga dan rata-rata kebobolan 1,8 gol per laga (nyaris 2). Dilihat dari ini, Persib cukup produktif, tapi produktif pula dalam kebobolan. Artinya, bagus dalam menyerang tapi tidak bagus dalam bertahan. Tidak ada keseimbangan di sana. Hal ini bisa menjadi masalah besar, karena boleh jadi kelemahan Persib sudah diketahui tim-tim lawan sejak laga pertama melawan Persipura. 6 pertandingan awal ini tentu bukan start yang terlalu baik, tetapi bisa menjadi pembelajaran, betapa pertahanan harus segera dibenahi. Kita harap coach Djanur tahu betul apa yang harus diperbuat, dan dua kekalahan ini bisa menjadi pelecut untuk tampil lebih baik. Meramu komposisi baru tentu tidak ada salahnya.

Sedikit masukkan saja, bahwa tim ini tim bagus, tidak ada yang terlampaui keliru ketika pelatih menginginkan pemain terbaik. Bahkan Persib nyaris punya semua modal untuk juara. Namun demikian, kiranya perlu dicatat bahwa tim ini perlu dibangun setahap demi setahap, tak bisa instan untuk mencapai hasil maksimal. Barangkali manajemen dan bobotoh harus bersabar, dan tim ini idealnya dibentuk dalam periode yang panjang, tak cukup hanya setahun. Bukankah Man.City pun setidaknya butuh waktu 3 tahun untuk mengangkat trophy Premier League. Coba pula lihat Dortmund, Jurgen Klopp itu ketika awal melatih dicerca habis-habisan, tapi lihat 2-3 tahun kemudian, Dortmund mampu menyaingi hegemoni Bayern. Demikian halnya dengan PSG, mereka pun perlu waktu untuk bisa tampil gemilang.

Akhir kata, ada kutipan menarik dari film Moneyball: “People who runs ball clubs, they think in term of buying players. Your goal shouldn’t be buy players, your goal should be buy wins” (Peter Brand). Yups, “buy wins” berarti juga menggapai kemenangan demi kemenangan.

 

Hary G. Budiman (bobotoh dan jurnalis lepas di Mediagram Magazine)

Twitter: @hgbudiman


Share This Article

Related News

Arena Bobotoh: Legenda Persib yang Dipuji Fabio Capello itu Bernama Yudi Guntara
Mengenang Momen Jawara Perserikatan 1994 (Bag III-Habis): Persib Juara
Mengenang Momen Jawara Perserikatan 1994 (Bag II): Persib Menuju Grand Final

About Author

blmnst

(37) Readers Comments

  1. Odon'x Thea
    18/03/2013 at 00:50

    Nyalahkeun mh henteu. mung bade titip saur... "Maneh th alus Supardi, tapi pami tos ngaladog th tong hilap mantog, cing gesit balik... indit th ninggalkeun resiko...

  2. alvin
    15/03/2013 at 16:57

    muhun katampi sadayana oge, ke di wartoskeun ku simkuring ka sadayana menegement PERSIB. pokonamah ayeuna bararantos weh pidu'ana ka setiap PERSIB main teh, bade dimana sareng saha wae oge lawanna. tong seer nyaralahkeuan batur, nu pentingmah cing talengtrem weh mun aya nanaon teh tong ngangge mastaka panas bilih pepes, mending ngangge mastaka adem beh lambat tapi selamat. terimakasih.

  3. desta
    12/03/2013 at 00:05

    kudu aya staff khusu buat catat data statistik pemaen, bere tempat di bench jadi buat ganti pemaen teh ada acuan data statistik jangan cuma pake feeling kebiasaan dll... jelma jelma nu teu perlu nu dariuk di bench wayahnya kudu ingkah da ieu teh klub professional euy lain klub tarkam, mikir!

  4. bobotoh Persib
    11/03/2013 at 11:53

    Kang Janur Upami engke maen kandang deui gunakan Formasi 5-3-3 sok meh teu k bobolan wae..

  5. Yayangarut
    10/03/2013 at 22:06

    Sae pisan kang....Da simkuring oge ninggal pemaen mah tos teu tiasa di bantah...No 1!!!Mung penerapan strategi pelatih nu monoton,upami di tinggal dina komposisis pemaen nu aya di persib,pelatih kedah wantun maenkeun 4-2-1-3 / 4-2-1-2-1!asri akbar,hariono,agung,messi,tony....tiasa di pasang janten jangkar...upami firman kedah di pasihan kabebasan berkreator di lini tengah..nya target man tos pasti no 10 tea...Insya Alloh...punten ieumah mun lamunan abdi.Mudah "an kapayuna langkung sae!!!

    • bono
      12/03/2013 at 01:12

      muhun kang, abdi oge hoyongna janur teh tiasa nerapkeun formasi 4-2-3-1, mung abdimah anu janten jangkar teh Hariono sareng Firman Utina, Firman lumayan oge bertahana, janten pas diserang, bola ka intersep, langsung tiasa ngumpan anu pas ka payun... komo mun playmakerna Fabio Lopez mah (liron we sareng messi) sayap Atep sareng M. Ridwan, Lopez anu ngumpan terobosana, Atep sareng Ridwan anu crossingna ti sayap, da strikerna SvD anu sundulana maut, bakalan mantep sigana

Leave A Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Switch to our mobile site