redaksi@simamaung.com

foto-persib-bandung-vs-persijap-2014-RIDWAN-SIM_4832

Sebagai seorang Muslim, mendapat panggilan ke tanah suci Mekkah tentu menjadi karunia yang tidak bisa dibantah. Hal itu yang terjadi pada pemain Persib Bandung, M Ridwan. Rencananya pemain yang berposisi sebagai sayap kanan itu akan melaksanakan ibadah haji pada September mendatang. Untuk itu dia dipastikan tidak bisa tampil membantu timnya saat bertarung di babak 8 besar Indonesia Super League musim 2014.

Pelatih kepala Persib, Jajang Nurjaman pun membenarkan hal tersebut. Bahwa pemain berusia 34 tahun itu sudah merencanakan untuk melaksanakan Rukun Islam kelima tersebut sejak 10 tahun lalu. Meski tidak akan diperkuat Ridwan, Jajang tetap menatap serius babak 8 besar dengan kekuatan yang ada.

“Ya, Ridwan akan berangkat (naik) Haji, cukup lama kan. Pastinya ia tidak akan memperkuat tim di semua laga pada Delapan Besar. Akan menjadi tantangan, namun tetap harus dihadapi. Bagaimanapun (dengan atau tanpa Ridwan) tim harus berjuang,” katanya saat diwawancara.

Mantan pemain Sriwijaya FC itu memang bukan kali ini saja absen lama untuk membela Persib. Sebelumnya dia pernah tidak tampil dalam 5 laga karena cedera patah lengan kiri. Oleh karena itu, Jajang merasa tidak khawatir karena pemain lain dirasa mampu mengisi pos yang ditinggal sementara oleh Ridwan.

“Peran Ridwan bisa diisi oleh beberapa pemain lain yang kualitasnya juga bagus. Kami sudah mencoba dan bisa. Tinggal diperbanyak dicoba dalam latihan dan diterapkan pertandingan,” sambungnya.

Lebih lanjut, andai Persib sukses melaju lebih jauh dari babak 8 besar terlebih bisa mencapai partai puncak, pelatih asal Majalengka itu yakin bahwa Ridwan sudah kembali dan bisa tampil memberi suntikan energi bagi Maung Bandung. “Kalau Persib masuk final, Ridwan pastinya sudah selesai (ibadah Haji) dan bisa memperkuat tim lagi. Kita tunggu saja,” ucapnya.

foto-persib-bandung-vs-persima-rudiyana-SIM_8517

Memastikan diri untuk melenggang ke babak 8 besar, Persib Bandung masih menyisakan 2 laga sisa di fase penyisihan grup kompetisi Indonesia Super League musim 2014. Kondisi ini diharapkan oleh para pemain lapis kedua Persib untuk bisa menambah pundi-pundi menit bermain mereka. Diakui oleh penyerang belia Maung Bandung, Rudiyana, dirinya berhasrat untuk tampil memperlihatkan kemampuannya di 2 laga kontra Persita Tangerang dan Sriwijaya FC Palembang.

Keinginan untuk mengisi posisi starter memang selalu dihembuskan olehnya dalam setiap pertandingan yang dilakoni Maung Bandung. Namun statusnya sebagai pemain muda, kesempatan untuk turun merumput pun masih terbatas. Terlebih pelatih Jajang Nurjaman ingin pemainnya sukses meraih kemenangan di setiap laga.

“Di setiap pertandingan, saya selalu berharap mendapat kesempatan untuk dapat bermain. Apalagi sekarang Persib sudah lolos kedelapan besar. Mudah-mudahan saja, kesempatan itu akan saya dapatkan,” kata Rudiyana di Mess Persib, Rabu (27/8).

Pemain berusia 22 tahun itu baru memulai karir sebagai pesepakbola profesional di musim ini setelah Jajang Nurjaman kepincut dengan performanya selama magang di masa pramusim. Rudiyana sendiri baru tampil dalam 2 pertandingan itu pun sebagai pemain pengganti saat Persib bertamu ke markas Gresik United dan saat laga El Clasico Indonesia melawan Persija di Stadion Si Jalak Harupat. Untuk itu terus menjaga asanya untuk tampil di 2 laga sisa.

“Di setiap latihan, saya selalu berusaha menunjukkan yang terbaik untuk tim, termasuk ketika saya mendapat kepercayaan bermain di kompetisi. Semoga saja, di 2 pertandingan nanti (Persita-Sriwijaya) saya mendapat kesempatan,” pungkasnya.

foto-persib-bandung-vs-persijap-2014-SIM_4836

Timnas Indonesia U-23 akan terjun di Asean Games Incheon, Korea Selatan pada 19 September hingga 4 Oktober. Dari 20 nama yang sudah diumumkan, 2 pemain Persib Bandung, Ferdinand Sinaga dan Ahmad Jufriyanto turut disertakan sebagai pemain overage ditambah Victor Igbonefo dari Arema Cronus. Pelatih Persib, Jajang Nurjaman pun mengizinkan pemainnya untuk turut serta dalam membawa nama baik Indonesia.

Bukan hanya kedua pemain tersebut, timnas senior Indonesia juga dicanangkan akan melakoni pemusatan latihan untuk mempersiapkan tim jelang Piala AFF, November mendatang. Pemain Persib sendiri juga kerap menyumbang pemainnya untuk tampil di timnas senior. Beruntung menurut Jajang bahwa pemanggilan pemainnya itu dilakukan pada libur kompetisi.

“Ya mereka dipanggil timnas U-23 untuk di Asean Games tapi kan kompetisi juga libur. Bukan hanya di U-23 tapi pemain senior juga kelihatannya mau ada TC. Jadi banyak sekali pemain kita yang ke timnas. Ya pasti kita kasih lah dan tim juga akan terbagi dua, karena timnas senior juga akan pemusatan latihan,” kata pelatih yang akrab disapa Janur itu saat ditemui di Stadion Siliwangi, Rabu (27/8).

Meski merasa persiapan tim jelang babak 8 besar merupakan hal yang penting, Janur mengaku akan mengizinkan pemainnya bergabung dengan tim garuda karena memperjuangkan juga sama pentingnya. “Kali ini tidak ada larangan, keduanya sama penting tapi saya salah kalau melarang pemain untuk masuk ke timnas,” sambungnya.

Diakui oleh pelatih 56 tahun tersebut bahwa berat sebenarnya bagi dia untuk melepas punggawa andalannya di musim ini. Terlebih Maung Bandung akan melakoni jadwal pertandingan melawan tim yang jauh lebih sulit ketimbang babak penyisihan grup.

“Seperti biasa, kalau dibilang tidak menguntungkan karena ini mengganggu persiapan tim jelang 8 besar iya juga. Tapi ini kan demi timnas jadi kita ga bisa mengelak. Jadi Jupe. (Ahmad Jufriyanto) sama Ferdinand (Sinaga) pasti dilepas,” tandasnya.

foto-persib-bandung-vs-persita-LSI-2014-SIM_0143

Membutuhkan kemenangan di sisa 2 pertandingan untuk menghindari jurang degradasi di kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2014, Persita Tangerang justru akan melakoni laga kandangnya melawan Persib Bandung di Stadion Si Jalak Harupat, Minggu (31/8). Persita saat ini berada di peringkat 10 dengan nilai 15, tertinggal 2 angka dari Persik Kediri yang berada di zona aman.

Persita Tanggerang sejatinya ber-homebase di Stadion Singaperbangsa, Karawang, untuk menggelar partai kandang selama berlangsungnya kompetisi Indonesia Super League musim 2014. Namun akibat tidak mendapat izin dari kepolisian setempat maka laga akan dialihkan. Namun untuk laga kandang pamungkas menghadapi Pelita Bandung Raya, laga tetap diselenggarakan di Stadion Singaperbangsa.

“Lawan Persib kita main di Si Jalak Harupat. Sedangkan lawan PBR (Pelita Bandung Raya) tetap di Singaperbangsa,” ungkap media officer Persita Aris Maulansyah ketika dilansir dari situs Goal.com Indonesia.

Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, pelatih Persib, Jajang Nurjaman mengatakan bahwa keputusan itu akan menjadi keuntungan untuk pasukannya andai laga dilangsungkan di Bandung. Karena bisa menghemat tenaga para pemainnya karena tidak melakukan perjalanan ke luar kota. Anak asuhnya juga tentu sudah paham betul mengenai kondisi Stadion Si Jalak Harupat.

“Ya ada kabar itu, ya syukur itu seperti yang kita harapkan karena ini sifatnya main away dan kita main di Bandung. Tentu itu menguntungkan kita karena lapangannya kita kenal, keduanya kita tidak usah buang energi untuk melakukan trip keluar kota,” terangnya.

foto-persib-bandung-vs-persijap-2014-firman-SIM_4453

Sudah 18 laga dilalui oleh Persib Bandung dalam mengarungi ketatnya persaingan di Indonesia Super League musim 2014. Klub arahan Jajang Nurjaman tersebut juga telah melahap seluruh partai kandang yang berjumlah 10, terdiri dari 5 laga di paruh musim pertama dan 5 lagi di paruh berikutnya. Hasilnya 24 gol sudah dilesakan oleh para pemain ketika tampil di hadapan pendukungnya sendiri.

Meski begitu, Persib sendiri kerap mendapat masalah saat bertindak sebagai tuan rumah lantaran tim tamu mayoritas bermain bertahan dengan menumpuk pemainnya di wilayah sendiri dengan tujuan timnya tidak kemasukan dan pulang dengan setidaknya hasil seri.

Namun kesulitan yang sempat menghinggapi Persib itu mulai dikikis oleh Ferdinand Sinaga dan kawan-kawan dengan meningkatnya produktifitas lini depan Persib di 3 laga kandang terakhir. Terbukti dengan 3 gol ke gawang Barito Putra, 5 ke gawang Persijap dan 3 lainnya ke gawang Persik hingga total mencapai angka 11. Sedangkan di lini pertahanannya hanya jebol sekali oleh Amirul Mukminin dari Barito Putra.

“Sejauh ini sudah ada perbaikan dibandingkan dengan putaran pertama. 3 pertandingan home terakhir kita lawan Barito (Putra), Persijap sama (Persik) Kediri, kita menciptakan 11 gol dan hanya kemasukan 1. Itu tentu merupakan kemajuan,” kata pelatih asal Majalengka tersebut saat diwawancara di Mess Persib, Selasa (26/8) sore kemarin.

Di putaran pertama, saat menang, awak Maung Bandung memang hanya mampu unggul dengan skor tipis dengan selisih 1 gol dan total hanya mencetak 7 gol. Bandingkan dengan putaran kedua, taring lini depan Persib begitu tajam karena mengoleksi 17 gol dari 5 laga. 11 gol dari laga kontra Barito Putra, Persijap dan Persik ditambah 6 gol dari laga imbang 2-2 melawan PBR dan saat menang 4-1 atas Gresik United.

Kendati sudah menunjukan progres yang positif, tapi Jajang merasa pemainnya bisa lebih tajam lagi. “Putaran pertama kita hanya menang 1-0, 2-1, selalu sulit masuk ke kotak penalti lawan meski kita menguasai, artinya kita dari segi permainan tidak masalah. Tapi saya juga sampaikan pada pemain itu belum sebanding dengan peluang yang kita ciptakan, walaupun segitu juga udah produktif,” tuturnya.

hariono-pre-persik-08

Dikenal garang dan tidak kenal kompromi dalam menyaring serangan yang datang mengancam gawang Persib Bandung, Hariono memang menjadi momok bagi lini serangan lawan. Bahkan tidak jarang permainan keras dipraktekan oleh pria yang berwatak pendiam tersebut. Peran Hariono pun begitu krusial terbukti sejak 6 musim lalu datang ke Bandung, Hariono tidak pernah dicoret dan selalu dipertahankan meski pelatih silih berganti menangani Maung Bandung.

Permainan Hariono sendiri dari musim ke musim terus memperlihatkan perkembangan. Permainan keras yang kerap dipraktekannya pun saat ini mulai melunak dan mulai banyak mengandalkan kecerdikan saat merumput. Diakui olehnya, pemain bernomor punggung 24 tersebut terus belajar dari setiap pertandingan. Dirinya juga mengaku jera kerap mendapat kartu dari sang pengadil.

“Engga mungkin belajar dari kesalahan saja, dulu tiap main kena kartu dan itu merugikan saya, jadi belajar saja. Setiap pertandingan harus jadi pelajaran. Proses sih itu, lama juga prosesnya sejak saya main di sini saja. Ya paling ngobrol dan minta masukan dengan pemain yang senior aja,” ungkapnya saat diwawancara di Mess Persib, Selasa (26/8).

Selama 6 musim berkostum Persib, Hariono juga tercatat belum pernah mencetak gol meski dia selalu tampil di setiap pertandingan. Namun Hariono enggan ambil pusing dan dirinya lebih mengutamakan kemenangan bagi timnya. Baginya urusan mencetak gol sudah menjadi tugas para pemain depan dan dia hanya fokus menjaga Persib agar tetap mendominasi pertandingan dan membuat timnya tidak kebobolan.

“Iya belum, ga kepikiran cetak gol juga, cuma kepikiran gimana caranya Persib menang aja,” terangnya.

foto-persib-bandung-vs-semen-padang-di-padang-SIM_4046

Perjalanan Persib Bandung untuk menjadi juara di akhir kompetisi memang masih panjang. Lawan yang akan dihadapi pun semakin berat teruatama di babak 8 besar. Hal itu diakui oleh pemain Persib, Hariono. Dia pun meminta rekan-rekannya untuk lebih serius mempersiapkan tim mengingat rival yang akan bentrok dengan timnya adalah klub-klub terbaik di Indonesia.

“Disyukuri lah pasti kemenangan kemarin meski main sebentar. Ke depannya kita harus lebih fokus, semua tim yang lolos ke 8 besar kan punya kekuatan merata seperti tim-tim dari Wilayah Timur. Jadi kita juga harus lebih siap lagi,” kata Hariono saat diwawancara di Mess Persib, Selasa (26/8).

Klub-klub yang berasal dari Wilayah Timur sendiri lebih dikenal karena gaya mainnya yang keras. Hal itu juga diakui oleh pemain yang berposisi sebagai gelandang pengangkut air tersebut. Namun meski begitu, saat ini permainan tim dari timur sudah tidak berfokus pada benturan fisik. Mengingat sepakbola modern lebih menuntut kecerdasan dalam bermain.

“Kalau dulu gaya main tim dari Wilayah Timur memang keras tapi kalau sekarang sudah zamannya sepakbola modern jadi tidak terlalu keras,” sambungnya.

Persib sendiri masih harus tampil di 2 laga sisa babak penyisihan Grup Barat menghadapi Persita Tangerang dan Sriwijaya FC. Mengenai kemungkinan untuk tampil, Hariono menegaskan bahwa dirinya mengembalikan segalanya kepada pelatih. “Kalau main atau engga ya itu tergantung pelatih, saya harus tetap berpikir positif. Kita harus selalu optimis,” tutupnya.

foto-persib-bandung-vs-persija-jakarta-GBK-SIM_3006

Usai menumbangkan Persik Kediri dengan skor 3-0, Persib Bandung otomatis memastikan tiket untuk melaju ke babak 8 besar kini sudah ada dalam genggamannya. Mengenai kemungkinan untuk menurunkan pemain-pemain lapis keduanya, pelatih Persib, Jajang Nurjaman mengatakan hal itu masih menjadi bahan pemikirannya selama satu pekan ke depan. Karena target 2 kemenangan guna menjaga kehormatan Persib pun menjadi harga mati.

“Dalam satu minggu ini akan jadi pertimbangan. Belum bisa diputuskan karena tujuannya kita tetap ingin meraih kemenangan,” kata jajang saat diwawancara di Mess Persib, Selasa (26/8).

Persib Bandung sendiri terdekat akan tampil menghadapi Persita Tanggerang pada Minggu (31/8) mendatang. Jeda waktu selama sepekan dirasa pelatih yang akrab disapa Janur itu menjadi waktu yang ideal untuk mempersiapkan tim. Rentang yang cukup lama juga membuat recovery pemain lebih panjang.

“Ya kali ini kita punya waktu seminggu sehingga lebih leluasa bagi kita tim pelatih untuk berbenah. Kalau ada pemain yang cedera juga kan waktu pemulihannya lebih panjang,” sambungnya.

Lebih lanjut, untuk kondisi para pemain, Janur mengatakan semua pemain dalam kondisi fit dan siap kembali bertempur dan dalam latihan sore tadi semua pemain sudah berlatih bersama. Sedangkan untuk materi latihan, Janur selalu mencari variasi bagi anak asuhnya.

“Kondisi bagus semua, kartu kuning ga ada, sekarang latihan juga komplit. Untuk materi saya selalu berkaca pada pertandingan yang sudah dilakukan dan materi yang digunakan sebelumnya. Selalu jadi bahan evaluasi,” tandasnya.

Oleh: Eko Maung*

Seri ketiga ini saya mencoba berbagi beberapa pandangan Mang Ayi yang saya dapat langsung dari almarhum. Seperti saya bahas di tulisan sebelumnya, Mang Ayi ini tukang hereuy, selalu sulit serius, tapi itu berlaku saat tengah berkumpul. Namun jika sedang berinteraksi dengan satu orang saja, maka yang terjadi adalah curhat dan obrolan-obrolan serius. Jadi Mang Ayi mah mun lobaan hereuy, mun duaan curhat.

Sosok Yang Demokratis
Mang Ayi yang saya kenal adalah sosok yang demokratis. Beberapa ucapan dan laku mengindikasikan itu. Misalnya bahwa Mang Ayi adalah orang yang menerima perbedaan walau dia belum tentu sependapat. Saya ambil contoh tentang suporter cassual, Mang Ayi dalam banyak hal tidak satu selera tapi bisa menerima keberadaan mereka, dia mengatakan “rek kukumaha oge baelah, da eta mah masalah gaya hungkul…nu penting mah tujuanna sarua PERSIB.” Walau dalam beberapa kesempatan (bahkan saat siaran TV) dia jelas-jelas menunjukkan tidak satu selera dengan casual, misalnya ucapan “make jaket mantel, nutupan beungeut, make sarung tangan…sakalian weh mawa karung jeung mulungan botol aqua, pan geus jiga tukang botol,” tapi ketidaksatuseleraannya itu bukan berarti bersebrangan, karena intinya adalah sama-sama mendukung PERSIB. Ucapan dan sindiran-sindiran itu tentulah bisa kita anggap “heureuy ala Mang Ayi”. Justru di situlah salah satu esensi terpenting pemikiran yang demokratis dalam sepakbola, yaitu memberi tempat dan menerima hal yang nyata-nyata dia kurang sreg demi satu alasan yang prinsipil yaitu PERSIB. Jadi tak berlaku terhadap mereka yang bukan pendukung PERSIB yah.

Sikap menerima ini pun ditunjukkan pula dengan obrolan saat di kafe PERSIB. Jadi Mang Ayi bukannya tidak tahu bahwa ada fp-fp bobotoh di facebook yang tak menyukai dirinya, sering membicarakan Mang Ayi, menjelek-jelekan dsb. Namun Mang Ayi menerima saja bahwa memang tak semua orang bisa menyukai dan menerima dirinya, Mang Ayi biasa saja, dia menganggap toh orang-orang yang tak suka dia pun sama-sama bobotoh. Jadi yah masalah yang wajar jika berbeda persepsi tentang damai dengan jak, teror pemain, flare, dll, semua punya pendapat dan gaya masing-masing walau terkadang Mang Ayi pun heran tak ada yang langsung mengatakan dan mengecam di hadapannya, jelema-jelema eta di facebook mengecam dsb, tapi tara ka stadion, sakalina papanggih ngajak salaman, cengar-cengir biasa wae, padahal bisa jadi Mang Ayi pun tahu orang-orang dan komunitas–komunitas itu. Inilah yang membuat saat publik “menekan” Mang Ayi, tapi bisa-bisanya Mang Ayi bersikap biasa saja malah semakin ngahajakeun, ya karena yang beda pendapat itu hanya berisik di belakang saja.

Demokratis ala Mang Ayi pun ditunjukkan dari ucapannya tentang regenerasi, Mang Ayi memahami bahwa segala sesuatu yang sehat perlu memiliki kontrol dan penyegaran agar tidak disalahgunakan. Bahkan dia berbicara tentang dirinya sendiri, bahwa jika diperlukan Mang Ayi siap menerima siapapun yang merasa ingin menjadi panglima menggantikan dirinya jika merasa siap total demi PERSIB, karena diapun menganggap panglima adalah jabatan non-formal jadi biar barudak yang menilai. Artinya apa? Ini menunjukkan bahwa Mang Ayi bukanlah sosok yang ingin bertahan terus-terusan, selamanya, namun siap menerima perubahan jika itu lebih baik. Mang Ayi bukan orang yang khawatir kehilangan hal-hal semacam jabatan dsb karena dia menganggap itu hanyalah sebuah penerimaan dan pengakuan (tentang hal ini saya paparkan jelas di tulisan bagian pertama)

Salam Nazi ala Mang Ayi
Banyak foto di internet dan kaos-kaos yang menunjukkan Mang Ayi memberi salam ala NAZI, dan memang dia sadar melakukan itu, sama sekali tak canggung. Lalu bagaimana kemudian seorang yang “barebas dan membebaskan” serta demokratis tiba-tiba berpaham fasis pula? Saya akan coba jelaskan di sini.

Perlu dipahami juga bahwa penyikapan Mang Ayi terhadap NAZI tak serumit hingga ideologi, akar filosofis dsb. Mang Ayi hanya menerima irisan-irisan yang berkaitan dengan kesuporteran, dan itu lebih banyak di ranah style & pop culture saja. Anda tahu insiden soldatenkaffe di Paskal Hypersquare yang menghebohkan dunia internasional tahun lalu? Saya tahu betul bahwa Mang Ayi adalah pelanggan di kafe berkonsep perang dunia II yang didominasi dengan simbol-simbol NAZI itu. Lalu apakah Mang Ayi dan orang-orang yang sering nongkrong di kafe itu adalah NAZI? Tentu tidak. Mereka hanyalah segmen penggemar pop culture. Jika yang lain suka bergaya zombie, anime dll, kebetulan mereka-mereka ini gemar dengan fashion militer perang dunia II dan tentu saja yang populer dan dianggap paling elegan tentunya militer NAZI. Asal tahu saja dahulu sebelum era NAZI seragam militer tak diperhatikan style-nya, seragam lusuh kedodoran, tanda kepangkatan yang tak jelas dsb. Militer NAZI lah yang membuat semuanya berubah dan membuat militer lebih fashionable, baju-baju perwira yang slimfit, ketat pas badan, tanda kepangkatan yang elegan, ornamen perak-emas dll. Sehingga memang banyak penggemar sejarah-military pop culture yang senang berpakaian ala NAZI (terbaru ya kasusnya ahmad dhani).

10479228_10203601121463043_8214951777359794129_n

Obrolan panjang lebar tentang NAZI-sepakbola terjadi pada bulan Juli tahun lalu. Saat itu tulisan saya tentang penutupan kafe “NAZI” soldatenkaffe dimuat di HU Tribun Jabar, sedangkan saya sedang dinas di luar Kota Bandung sehingga tak mengetahui jika tulisan saya dimuat. Saya tahu pemuatannya justru ketika Mang Ayi mengambil foto koran yang dibacanya kemudian “men-tag” via facebook. Kemudian Mang Ayi ngajak ngobrol-ngobrol tentang suporter-suporter sepakbola neo NAZI. Dalam obrolan itu sebenarnya Mang Ayi tak berkeberatan dicap sebagai fasis atau NAZI karena dia melihat toh fenomena itu ada di Eropa. Mang Ayi pun lebih memilih berpaham ala suporter-suporter ultra kanan yang ultra nasionalis, walau tentunya tak dapat diimplementasikan sepenuhnya di Indonesia mengingat keberagaman suku bangsa, walau saya timpali bahwa ini menarik jika ditarik ke fanatisme kedaerahan di era perserikatan, ketika paham chauvinisme ultra nasionalis ala suporter Eropa menyempit ke paham etnis (kalo saya bilang ultra-kesukuan bener gak yah? ha3), karena pernah ada masanya bahwa PERSIB identik dengan etnis Sunda, PSMS=Batak, PSM=Bugis dll. Namun Mang Ayi ternyata lebih menikmati saat PERSIB mengglobal seperti saat ini, ketika ikatan emosionalnya menembus sekat geografis dan kesukuan. Karakter “kanan” Mang Ayi tak semata menempatkan suatu kebanggaan hingga titik paling ekstrim (dalam hal ini PERSIB), namun tampak juga dalam keseharian dan selera Mang Ayi. Selain menggemari fashion militer dan neo-nazi (walau bisa jadi non ideologis). Mang Ayi pun memilih jeep militer sebagai tunggangan kesayangannya, ini selaras dengan selera Mang Ayi yang menggemari parade (parade pun sangat identik dengan propaganda NAZI) dan memang cocok juga dengan kebiasaan suporter sepakbola yang doyan konvoi kendaraan. Mang Ayi pernah bertanya apa konsekuensinya ketika dia melakukan salam ala NAZI itu berulang-ulang sebelum pertandingan, saya jawab bahwa tak ada konsekuensinya jika dilakukan di Indonesia, asal jangan di Eropa, karena di Eropa ada larangannya terkait simbol-simbol NAZI dan sanksinya berupa hukuman serius. Saya pun menjelaskan kepada Mang Ayi bahwa ini berkaitan dengan sejarah dan trauma suatu bangsa, kalau di Eropa yang sensitif adalah fasisme-NAZI nah di Indonesia yang sensitif adalah komunisme, bahkan sempat ada TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 yang melarang marxisme-leninisme karena khawatir dengan ancaman komunisme, padahal kajian komunisme di Eropa biasa saja.

Bersambung…

Dalam tulisan berikutnya penulis akan mencoba menceritakan kembali beberapa pengalaman tour yang pernah dilalui bersama Mang Ayi.

*Penulis adalah ex.ass.produser almarhum Ayi Beutik di program PERSIB Aing KOMPAS TV Jabar dan rekan penyiar almarhum di 96,4 Bobotoh FM, berakun twitter @ekomaung

foto-persib-bandung-vs-persik-2014-SIM_5454

Menyisakan 2 pertandingan melawan Persita Tanggerang dan Sriwijaya FC dalam fase penyisihan grup kompetisi Indonesia Super League musim 2014, Persib Bandung menyasar poin penuh guna meraup 6 poin maksimal. Dengan poin 35 yang dikoleksi Maung Bandung saat ini, angka 41 tentu menjadi jaminan Persib akan berada di posisi runner up menggeser Semen Padang.

Meski begitu, pelatih Persib, Jajang Nurjaman mengatakan dirinya berhasrat membawa pasukannya menyalip Semen Padang bukan karena ingin membalas dendam lantaran kalah di dua bentrokan musim ini. Tapi karena ingin mencari posisi tertinggi untuk menjaga kehormatan tim kebanggaan warga Jawa Barat ini. Persib memang kalah 1-2 di kandang dan takluk 1-3 saat bertindak sebagai tamu.

“Kita berusaha untuk menyalip Semen Padang, tapi tidak ada namanya untuk membalas dendam. Ini untuk kepentingan ke depan saja karena semua lawan yang ada di Timur juga tim kuat jadi mau lawan yang manapun sama saja. Kita cari posisi Runner up supaya terhormat saja jadi karena memungkinkan, bisa kita upayakan,” kata mantan pemain Persib di era Perserikatan tersebut saat ditemui di Mess Persib, Selasa (26/8).

Sementara itu, ketika disinggung mengenai siapa tim yang akan merebut tiket 8 besar terakhir di grup wilayah Barat, pelatih yang akrab disapa Janur itu mengatakan Pelita Bandung Raya lebih berpeluang andai rival sekota Persib itu bisa meraih kemenangan di 2 laga sisa. Tapi jika PBR tergelincir, tentu Persija lah yang akan merebut tiket pamungkas.

“Bukan urusan kita, kalau lihat peluang sekarang PBR lebih berpeluang karena soal dilihat dari hitungan poin mereka bisa menyalip kalau menang terus. Tidak tahu kalau mereka keganjel kan. Kalau yang lebih kita lihat keduanya bisa dapat poin maksimal, PBR kan lolos,” tukasnya.