Saatnya Serius Di Pembinaan Pemain Muda
Penulis: Rizal Adi Prima
Menuju era Persib yang profesional musim mendatang, isu penting yang tidak bisa diabaikan adalah pembinaan pemain muda, jika kita berkaca pada tim tim internasional yang membedakan tim profesional yang sukses dengan tim profesional yang sering kali gagal adalah sistem pembinaan mereka yang berkelanjutan dan inovasi yang terus menerus.
Salah satu Suluh persepakbolaan Asia, Jepang, beberapa dekade terakhir boleh dikatakan sedang menikmati masa masa emas pemain mudanya, semenjak kebangkitan J-league di tahun 1993. Transformasi Klub dan Liga menjadi profesional adalah titik tolak terpenting di jepang kala itu, tapi keberhasilan jepang menghasilkan pemain pemain mudah bertalenta tak pelak lagi dikarenakan sistem berjenjang dalam pembinaan pemain muda.
Jika kita melirik sejenak, data survey pemain dari FIFA(2006), dari sisi jumlah penduduk yang bermain bola, Indonesia menempati tempat terhormat, peringkat ke-7 dunia, dengan total 7.094.260 orang, dari 10 peringkat teratas ada tiga negara yang prestasi sepakbola nya mangkrak : Indonesia, India dan Bangladesh, sebagian alasan jeleknya prestasi tiga negara ini dapat dijelaskan dengan terlemparnya mereka dari daftar peringkat 10 dunia pada jumlah pemain profesional, dan Youth player (u-18), Indonesia dengan 800 pemain profesional terdaftar, India (400) , Bangladesh (0), bandingkan dengan Brazil (16.200) dan Belgia (1399) yang hanya memiliki penduduk 10 juta orang. Tentu istilah “terdaftar” terkesan tidak adil bagi negara berkembang dan peringkat 100-an dunia Seperti Indonesia, Jepang sekalipun hanya memilki 972 pemain pro terdaftar.
Data yang lebih mencengangkan dan lebih valid sebenarnya sebagai tolak ukur prestasi tim nasionalnya adalah jumlah pemain muda, dimana Brazil, Belanda, German, Inggris , Italia, Perancis dan USA bertengger di peringkat 10 dunia. Yang menarik adalah Jepang berada di peringkat 8 dunia, di atas Italia dan Belanda; dengan total 692.140 (under 18) dan 292.562 (u-18 and over), sedikit di atas Italia yang unggul di jumlah u-18 ke atas (877.602) tapi hanya 557.452 pemain dibawah u-18, China sebagai salah satu macan asia memiliki 325.992 (over u18) dan 382.762 (under u-18). Bandingkan dengan data Indonesia dengan 2560 pemain (u-18 and over) dan 62.600 (under u-18), jumlah pemain bola muda di Indonesia bahkan tidak sampai 10 persen pemain di Jepang, yang notabene baru berkembang sejak tahun 1993. Tidaklah aneh jika Prestasi kita dengan mereka bak langit dan Bumi, dan tim tim sepakbola kita menjadi bulan bulan-an di tingkat Asia.
Jika persib berniat berbicara di tingkat Asia, Pekerjaan rumah terpenting adalah bagaimana menarik minat masyarakat untuk bermain bola secara benar dan profesional, sayangnya dari tahun ke tahun permasalahan pembinaan pemain muda tidak kunjung jadi perhatian. Memang benar Bandung dan jawa barat sebagai propinsi terbanyak populasi nya di Indonesia, berpotensi menjadi sentra pemain bertalenta, tidak dapat dipungkiri sangat banyak SSB yang beredar di Bandung raya, akan tetapi masalah utama nya adalah kualitas dari pembinaan itu sendiri, tanpa bermaksud merendahkan kualitas SSB di bandung, sebaiknya jangan sampai kita seperti kodok dalam tempurung, yang cepat sekali puas.
PS Uni di bandung adalah salah satu SSB terbaik di intern Persib, berkali kali menjuarai piala Wiranto Arismunandar, pernah juga menjadi Juara liga campina 2002, akan tetapi hingga kini tidak juga mampu go-internasional, seperti di piala danone, MUPC cup atau yang paling gress : gothia cup.
Sedangkan SSB Villa 2000 di pamulang ciputat adalah termasuk SSB yang relatif baru didirikan, tapi sudah sangat berprestasi di dunia internasional, beberapa pemain nya sudah menarik perhatian klub dunia, dengan mengundang 3 pemain untuk berlatih di Barcelona FC selama sebulan, dan salah satunya pernah dilirik oleh scout AS Roma calcio. Dari sini kita bisa menarik kesimpulan masih banyak PR yang mesti diselesaikan di pembinaan pemain muda khususnya di Bandung.
Ada beberapa kemungkinan permasalahan yang penting menurut penulis :
1. Kualitas Pelatih yang monoton; pelatih di SSB seringkali tidak mendapatkan remunerasi yang memadai, keadaan semi-pro ini memberikan sedikit insentif untuk terus melakukan pengembangan sarana dan prasarana sistem pelatihan dan kualitas pelatih.
2. Frekuensi Pertandingan antar SSB dan Pemain; pertandingan antar SSB intern persib tidak cukup memadai untuk memberikan variasi yang meningkat bagi para pemain di SSB, akibatnya pemain potensial menjadi jenuh dan kekurangan motivasi.
3. Ketidakseimbangan jumlah peminat SSB dan Jumlah SSB yang bisa menampung; dengan biaya pendaftaran rata2 150 ribu, dan iuran bulanan Rp. 50 ribu, permintaan murid SSB membludak, sehingga kapasitas tampung tidak memadai lagi untuk meningkatkan dan memelihara kualitas pemain.
4. Kurangnya kualitas lapangan dan variasi lapangan di Bandung; jumlah lapangan yang berkualitas tidak cukup banyak di Bandung, sehingga seringkali SSB harus bermain di lapangan yang kurang memadai, atau bermain di lapang yang sama berulang ulang.
5. Kurangnya variasi lawan bertanding antar SSB, Membangun SSB bukan lah satu hal yang mudah, sehingga SSB yang bertanding tidak bertambah , kemudian seringkali SSB tak mempunyai sistem regenerasi yang baik, sehingga pemain yang bermain pun tak berbeda dari tahun ke tahun, hanya saja dengan umur yang lebih tua. Akibatnya banyak pemain potensial yang kekurangan jam terbang dan akhirnya terlupakan.
Salah satu SSB yang secara relatif mampu mengatasi permasalahan di atas adalah SSB yang berkualitas internasional dan baru saja dibuka di bandung seperti SSI Arsenal , dengan hanya 16 pemain per kelompok, kualitas pelatih yang berlisensi UEFA, dan stadion mewah seperti Stadion siliwangi memberikan lingkungan yang baik bagi pengembangan pemain muda. Sayangnya Kualitas seringkali berkorelasi positif dengan harga pendaftaran yang bisa 10x lipat dari SSB lain di Bandung, akibatnya terjadi over supply di SSB lain, dan under supply di SSB internasional, hal ini semestinya menjadi perhatian Klub Pro seperti Persib Bandung.
Tentu saja memberikan Subsidi yang lebih besar bagi SSB dan klub intern Persib bukan lah solusi yang terbaik, mengingat jumlah klub intern persib yang banyak dan jumlah uang yang tidak sedikit. Satu solusi jangka pendek yang menarik untuk dilirik adalah membentuk semacam hierarchy pembinaan, pembinaan berjenjang, di setiap kelompok umur.
Jika mungkin PT.PBB bisa membentuk semacam SSB khusus yang berkualitas internasional. SSB ini nantinya akan menyaring dan menggembleng anak anak muda yang potensial dari setiap klub/SSB intern untuk masuk ke Persib bandung u-15 dan u-17, katakanlah setiap 6 bulan tiap anggota Pengcab Persib harus menyetor 5 orang pemain paling berbakat ke SSB khusus ini, dengan remunerasi yang memadai bagi pihak SSB.
Dengan demikian SSB anggota juga memiliki insentif untuk bersaing dan terus berupaya meningkatkan kualitas SSB, SSB juga kemudian bisa mengurangi beban over-kapasitas sekaligus terpacu untuk terus menghasilkan bibit bibit baru setiap 6 bulan sekali.
Menurut penulis, sudah saatnya PT.PBB berinvestasi besar bagi penggemblengan usia muda dengan memperkerjakan direktur teknis yang memiliki lisensi UEFA dan sebagai salah satu magnet sponsor, PT PBB dapat juga menggandeng kerjasaama dengan produk produk kesehatan untuk keperluan SSB khusus ini, SSB Khusus ini tidak lah harus menjadi cost center, tapi juga menjadi profit center bagi PT.PBB.
Kerja sama dengan pusat pelatihan Internasional seperti Wiel coerver coaching (yang mengklaim memiliki pelatihan skill pemain paling baik di dunia) atau Pusat pelatihan Jean Marc Guillou (yang terkenal dengan metode kaki telanjang) juga sangat terbuka, karena mereka membuka kesempatan untuk kerjasama dalam bentuk franchise. PT.PBB dapat memanfaatkan hal ini menjadi franchisee pertama di Indonesia dan mereguk keuntungan yang tidak sedikit.
Sebagai catatan kedua pusat pelatihan ini boleh jadi memiliki peran penting dalam merubah konstelasi posisi sepak bola di Asia tenggara, saat ini Coerver telah ada di Thailand, Australia dan Singapore, sedangkan JMG bertempat di Thailand. Boleh jadi pusat pelatihan ini menjadi titik tolak kebangkitan tim Singapura dan Australia di Asia tenggara beberapa tahun ini,
Tentu saja Nama nama pusat pelatihan dan ide di atas hanyalah contoh semata dan hanyalah bentuk kepedulian penulis sebagai bobotoh, tanpa bermaksud mendikte atau mengkritik ruang gerak PT. PBB dan Manajemen Persib Bandung.
Disclaimer:
- Tulisan ini merupakan sumbangan dari bobotoh Persib yang dikirimkan ke redaksi Simamaung dan ditayangkan di Arena Bobotoh yang beralamat di http://bobotoh.simamaung.com.




tah kitu, urang sarerea peduli ka persib, nu di luhur atau menejemen persib ulah ngarasa ka bebabanan ku ayana artikel ieu, tapi hayu babarengan urang ngahiji ngabangun pikeun kahareupna, mih indonesia terkenal ku persib dina sepakbolana jeung dina regenerasina para pamaen muda berbakat . . .. . okok
Sangat sepakat dengan artikel diatas, menurut saya permasalahan serius yang tengah dialami oleh bangsa ini dalam berbagai aspek, khususnya sepakbola nasional adalah minimnya sosok pemimpin yang visioner, yang memiliki blue print masa depan sepakbola nasional mau dibawa kemana. pembinaan pemain muda adalah salah satunya.
bukannya “paciweuh” di masalah bidding, pengurangan jatah pemain asing dan naturalisasi. kembali ke masalah Persib Bandung, kontinyuitas dalam mempertahankan susunan line-up pemain, dengan kata lain keberanian untuk memberikan kontrak jangka panjang adalah permasalahan serius lainnya. percuma saja membeli pemain top dunia jika teamnya belum padu, hal itu bisa dilihat dari betapa menterengnya Manchester City dan Real Madrid namun tidak mampu mendongkrak prestasi. jawabannya adalah waktu.
Respect
Rizki Ardi Maulana
Bobotoh
ieu artikel teh kduna kirimkeun langsung k PT.PBB ngarah d’baca…
sok ahk admin enggal kirim keun eta artikel teh..
demi persepakbolaan indonesia khususnya jawa barat,dan juga PERSIB
Ide canggih tah Pak H. Umuh, sok geura mulai d emutan
lieur macana pjg tuing, intina ngan aya d judul hungkul.. setuju jeung inti na mah.. skrg sdh terlalu bnyk org yg bs ngomong tp utk realisasiny d lempar ke sana ke mari.. mdh2n tdk jd tulisan sj tp jd tindakan nyata min dr diri sendiri demi kemajuan Persib n Indonesia.. hidup Persib
sip lah hade pisan masukanna saya mah satuju,mudah2 di realisasikeun. hatur nuhun
simkuring ningali waktos seleksi persib suratin..jam istirahat pelatih jeung orang tua rariweh teteleponan, sangkan budakna bisa abus persib suratin..nya weh pas pengumuman loba pemaen hade nu eweh kolotna jeung teunyeupeng duit teu kaparanggil…kabeh penonton anu netral termasuk kuring heran jeung pangngalebarkeun…naha atuh ngabelaan duit sabaraha pemaen persib suratin ngan di huni pemaen anu benghar tapi teu matut maenna…dek tepi iraha kikieuan teh..
maju terus kumaha santi, geus medok ku persikab persib suratin na oge….
mdh2n teu saukur artikelnya saja,mdhg2n nyampe k mnjmen dan petinggi jawa brat.sudah saatnya kita bangkit!!!
.satuju pisan lah!!!
teu kudu jauh2 urng ngiblat k eropa,k tatangga urang we,jepang jeung 2korea nu nges terbilang maju sepakbolana…. bisa d jdkan contoh….
dukung persib make manah!
kosin & suchao….back to persib dunk……….